| Tari Puritan dalam Kekinian |
| Nasional - Peristiwa |
| Ditulis oleh Era Baru News | Jumat, 03 Februari 2012 |
|
Tarian itu mengacu dengan tari klasikal, tari rakyat, mitologi yang menjadi substansi dalam mengolah sebuah ungkapan baru dengan media tari sebagai ekspresi gerak dan seni pertunjukkan. “Indonesia justru banyak mengacu esensi lama, bisa menjadi yang kuat mengolah sebuah ungkapan baru media tari dengan ekspresi gerak dan pertunjukkan,” ujar koreografer Eko Supriyanto saat berbincang dengan EraBaru.net di Jakarta, Kamis (2/2). Pria kelahiran 26 November 1970 yang pernah menjadi penari Madonna selama sembilan bulan 2001 silam mengatakan persepsi yang menyebutkan tari kontemporer harus serius dan bercerita hendaknya dirubah dengan persepsi baru. Perkembangan tari modern pada dasarnya bukan bagian dari budaya Indonesia, tari modern merupakan tarian yang berkembang dari luar negeri. Indonesia memang tidak punya tari modern, seperti tari modern Amerika yang justru adalah sebuah pergolakan tari yang mendobrak keberadaan balet. Tari modern yang berkembang di Amerika cenderung mengarah kepada gaya dari koreografer yang ada di Amerika seperti Martha Graham. “Tari pioner modern memang bukan milik kita, kalau modern Indonesia tidak memakai tradisional itu salah kaprah,” tutur dosen Insititut Seni Indonesia Surakarta. Tari tradisional yang merupakan bagian sebagai identitas nasional, tidak harus dipahami menjadi satu sebagai identitas tari Indonesia. Beragamnya tari yang dimiliki Indonesia mulai dari Jawa, Bali, Sunda dan lainnya justru menjadi sebuah identitas tari nasional.
“Tidak harus ada identifikasi yang satu, tapi justru identitas yang kita punya beragam menguatkan identitas kita,” jelas pria yang menyelesaikan S2 dan S3 di University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat. Kelahiran tokoh maestro tari Indonesia sebelumnya setidaknya menjadi inspirasi dari generasi muda tari Indonesia untuk lebih mengenal tari dari identitas nasional. Seperti Hurrijah Adam yang menggabungkan antara substansi gerakan dan elemen tari-tari minang, tapi justru menemukan gaya minang baru yang bisa hidup pada zamannya dan sekarang. Oleh karena hal yang justru menjadi inspirasi adalah bisa diketahui identitas tari minang itu seperti apa, termasuk tari Bali dan Kalimantan. Ini bertolakan dengan anak-anak sekarang yang cenderung menyukai seperti tarian hip hop, brigden, modern yang tidak jelas dari mana asalnya. “Celakanya anak-anak sekarang menjadi followernya tarian hip hop, brigden dan modern yang tidak jelas, hingga kesenian kita tidak ngerti,” ungkap Eko yang akan tampil di Johannesburg, Hongkong dan Belgia beberapa bulan lagi. Gaya tari baru dalam bentuk ekspresi diri ketimbang ekspresi komunal memang berkembang saat ini. Namun bagi Eko, pilihannya cenderung tidak dalam bentuk ekspresi diri. Gaya tari dibawanya merupakan kolaborasi yang justru hasilnya mempunyai keistimewaan tersendiri. “Tugas seniman tidak bisa seperti itu, kerja sendiri tidak bisa, karena kerja kolaborasi itu dengan hasil yang luar biasa,” kata ayah Candra Suryavimala dan Lintang Hinepukohu. Koreografer Indonesia dari massa ke masa terus berkembang dengan pesat. Saat ini seni tari tidak hanya sebatas hobi tapi telah menjadi sebuah profesi. Dari sisi ekonomi perkembangan seni tari sudah tidak bisa disepelekan dengan profesi lainnya.
“Tari sudah menjadi lahan yang menjadi penghasilan buat mereka,” ucap koreografer drama musikal Onrop dan Diana 2010, Flowering Tree di Amerika Serikat, Possible Dewa Ruci di Prancis dan Tempest di Selandia Baru 2009. Masyarakat diharapkan lebih peduli terhadap arti sebuah kesenian dan kebudayaan. Terpuruknya perekonomian, politik dan hukum yang amburadul, kesenian menjadi pilihan untuk menjadi suatu yang bisa dibanggakan akan identitas nasional di luar negeri. Budaya dan kesenian Indonesia merupakan suatu identiitas yang tidak bisa ditemukan pada belahan dunia lain. Hal ini menjadi dasar utama bangsa Indonesia untuk mengangkat nilai dan identitas Indonesia di luar negeri. “Ini kita harus sadar hanya ini modal dasar utama kita, bagi peminat, pemerhati dan penikmat seni harus sadar dan memperhatikannya,” pungkas Eko. (mas/asr) |

Jakarta - Perkembangan tari modern Indonesia kebanyakan berangkat dari esensi dan substansi tari tradisional.

Mozilla Firefox