| Indahnya Kaligrafi Sudut Dimensi |
| Nasional - Peristiwa |
| Ditulis oleh Era Baru News | Sabtu, 04 Februari 2012 |
|
“Keunikan ukiran bisa melebihi dari tulisan aslinya, kalau ditulis didalam kertas biasanya tidak ada dimensinya hanya datarnya saja,” ujar Jemmy Pangesa, pemilik Dragon Gate Art Gallery di acara 2012 International Dragon Caligraphy and Painting Exhibition di Pluit, Jakarta Utara, Jumat (3/2). Keunikan kaligrafinya dibandingkan dengan ukiran melebihi dari tulisan aslinya. Dimensi yang muncul jika terkena sinar lampu efeknya akan berlainan sama halnya seperti sebuah cincin diamond yang memantulkan sinar. Cincin itu pada dasarnya hanyalah sebuah cincin biasa, sinar muncul karena dibelakangnya ada irisan-irisan jika dilihat dari sudut. “Sehingga kena sinar baru bisa memantulkan cahaya, jadi bisa bercahaya itulah dasarnya saya bikin ini, dari sudut inilah dimensinya,” tutur pemilik Dragon Gate Art Gallery. Kaligrafi yang dibuat orang lain cenderung lebih memilih membuatnya dengan mencetak dengan dengan alasan lebih mudah. Namun disini tidak ditemukan gelombang-gelombang tertentu dipinggirnya. Memang pada dasarnya kaligrafi China ditulis dengan tinta diatas yang sepesial namanya Jian Zhi, pada saat dilakukan penulisan ditemukan semacam rembesan di pinggirannya. “Rembes-rembes begitu sebenarnya orang yang tidak mengerti bilang tidak bagus, tapi menurut ilmu kaligrafi dari China itu bagus,” ujar abang dari pelukis Tommy Pangesa. Gelombang yang terdapat dalam kaligrafi tersebut melambangkan dimensinya akan menjadi lebih bagus dan asli. Jika menggunakan mesin cetak, tidak ditemukan adanya gelombang dan terlihat datar. Jika ukiran kaligrafi hasil cetakan disinari cahaya, maka tidak efek yang muncul. Ada beberapa teknik tersendiri untuk menciptakan bagaimana sebuah hasil karya yang bagus. Goretan yang dibuat ada saat-saat tertentu dibuat lebih dalam, bagaimana warnanya kelihatan lebih tua dan kapan untuk angkat tangan saat mengukir sehingga menimbulkan cita tersendiri yang dihasilkan dari goretan kaligrafi itu. “Gimana harus ditekan lebih dalam, agar warnanya lebih tua, dimana harus angkat tangan, sehingga warnaya agak lembut dimana kita tekan, dimana warnanya lebih dalam,” ucap Jemmy. Bertepatan dengan tibanya Imlek tahun ini dengan tahun Naga, kali ini Jemmy Pangesa dalam ukiran lebih mengutamakan kaligrafi yang bertautan dengan naga. Diantarnaya lukisan yang ditunjukkan Tommy adalah goretan naga yang ditulis bersamaan dengan beberapa sajak yakni Gunung tidak perlu tinggi, bila ada dewa itu pasti termasyhur, air tidak perlu terlalu dalam, asal ada naga itu pasti manjur. “Artinya tidak perlu menonjolkan diri yang penting ilmunya sendiri, seperti gunung tidak terlalu tinggi yang penting ada makna, orang tidak perlu gembor-gembor,” ungkap pria yang besar dikawasan Glodok, Jakarta Barat. Adapun adiknya Jemmy pangesa sama-sama menekuni kaligrafi dan lukisan yang telah ditekuni oleh keluarga mereka sejak dulu, menjadi pilihan untuk memulai dunia usaha dan seni. Kenyataan bicara lain, api melalap galeri Dragon Art Gallery 1988. Hingga mereka mesti memulai dari nol usaha dan karya mereka. Beranjak sedikit demi sedikit, Jemmy dan Tommy mulai berbagi dengan pelukis muda hingga anak asuhnya berkembang dengan baik. Siap sangka tragedi 1998 ikut mengikis galeri mereka. Karya dan lukisannya habis dilalap api. Jemmy dan sekeluarga akhirnya pindah ke Singapura. Diapun membuka galeri di daerah Orchad Road, Singapura. Tidak ada dendam yang melekat pada hatinya, sehingga kemudian mereka kembali memutusakan untuk kembali ke Tanah Air dengan mendirikan galeri di kawasan Muara Karang, Jakarta Barat yang diberi nama Tom’s Art Gallery dan Dragon Gate Art Gallery. Dari segi lukisan, Tommy cenderung membidik hewan-hewan fengshui sebagai karyanya. Misalnya sosok hewan bangau mempunyai artian sebagai simbol kesetiaan serta ikan koi yang berarti sebagai pembawa kemakmuran dan keberuntungan. Mengejar arti sebuah keindahan menjadi dasar Tommy dalam mengerjakan lukisannya. Ini terlihat dari visualisasi yang terdapat dalam beberapa karyanya. Adapun peminat untuk menekuni dunia kaligrafi China dan lukisan memang cenderung masih menjadi profesi kedua. Ini terlihat dari minimnya orang yang berkeinginan untuk meneruskan dan melanjutkan profesi yang telah ditekuninya selama puluhan tahun. Jemmy Pangesa menceritakan misalnya seni kaligrafi hampir mengalami kepunahan karena tidak adanaya regenerasi. Penilaian dengan seberapa banyak pendapatan yang diperoleh masih menjadi pertimbangan untuk terjun menjadi profesi sebagai pencoret diatas kanvas. Namun demikian masih diharapkan adanya beberapa generasi yang tertarik arti dari sebuah kesenian dan kebudayaan. Penghargaan yang tinggi terhadap sebuah seni, menjadi harapan untuk tidak musnah keluhuran sebuah kesenian dan kebudayaan khususnya kesenian khas tradisional China yang mempunyai arti mendalam seperti kaligrafi dan lukisan. Misalnya membeli karya seni dengan harga yang tinggi, tidak hanya sekedar mengeluarkan uang dengan nominal sekian. “Kalau dilihat masyarakat disini tidak mau mengeluarkan biaya tinggi untuk memiliki hasil karya ini, lain dengan luar negeri mereka berani beli dengan tinggi,” pungkas Jemmy. (mas/asr) |

Jakarta – Kaligrafi China berangkat dari ukiran tidak seperti halnya sebuah goretan yang biasanya di atas kertas. Ukiran dibuat dengan karya tangan sehingga menghasilkan sebuah sudut dimensi sedemikian rupa indahnya.
Mozilla Firefox