Lontong Jumbo Semarakkan Cap Go Meh
Nasional - Peristiwa
Ditulis oleh Era Baru News Minggu, 05 Februari 2012

altJakarta – Perayaan  Cap Go Meh di kawasan Pecenongan, Jakarta Pusat disemarakkan dengan pembuatan dua lontong terbesar dan terpanjang di Indonesia. Ribuan warga berbagai kalangan turut memeriahkan perayaan penutupan tahun baru Imlek.

Lontong terbesar dan terpanjang di Indonesia itu memecahkan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) yang dikategorikan sebagai rekor dunia. Muri juga menyerahkan piagam kepada perwakilan pemerintah kota Jakarta atas keberhasilan pemerintah kota Jakarta dalam membuat lontong Cap Go Meh terpanjang.  

Ukuran lontong memiliki panjang 2,75 meter dengan diameter lontong sebesar 34 cm, sedangkan untuk lontong Cap Go Meh terpanjang ukuran lontongnya memiliki panjang 151 meter dengan diameter lontong sebesar 10 cm.

Kedua lontong pemecah rekor ini merupakan hasil karya 20 anggota PKK pemerintah kota Jakarta yang diselesaikan dalam 3 hari. Pembuatan kedua lontong ini smenghabiskan 250 kilogram beras, 100 kilogram daun bungkus, serta 5 tabung gas berukuran besar. Dana yang dikeluarkan sebanyak Rp 10 juta rupiah.

Perwakilan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) J. Ngadri mengatakan keistimewaannya adalah perayaan itu bagian dari persembahan pemerintah kota Jakarta Pusat terhadap etnis Tionghoa. Sebagai cerminan arti sebuah persatuan dan kebersamaan sesama warga Indonesia.

“Istimewanya adalah ini bagian dari persembahan pemerintah kota Jakarta Pusat terhadap etnis Tionghoa, ini adalah bagian dari sebuah persatuan, ini adalah cermin dari kebersamaan,” kata Ngadri, Sabtu malam (4/2).

Imlek dan Cap Go Meh yang digelar saat ini adalah suatu yang indah bagi masyarakat. Bertepatan dengan dicabutnya pembatasan  kegiatan warga Tionghoa oleh almarhum Gus Dur, hingga rekor-rekor berbau etnis terus bermunculan.

“Suatu yang indah, terutama setelah sekat-sekat itu diputuskan rantainya oleh Gus Dur, rekor-rekor yang berbau etnis mulai bermunculan,” tambah Ngadri.

Kemeriahan perayaan Cap Go Meh mengambil tema Festival Kuliner “Naga Ceban” Pecenongan. Pengunjung disuguhkan dengan berbagai macam kuliner. Bagi pengunjung yang berminat untuk menikmati cita rasa berbagai macam masakan hanya cukup merogoh kocek Rp 10 ribu per menu.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo yang turut menghadiri festival Festival Kuliner menilai perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Pecenongan merupakan bagian dari tradisi yang harus diapresiasi oleh seluruh kalangan masyarakat. Meskipun sebagai tradisi warga Tionghoa, masyarakat lain turut serta menghargainya yang secara langsung merupakan kekayaan kota Jakarta.

“Imlek sama Cap Go Meh merupakan bagian dari tradisi kawasan ini, tradisi etnis Tionghoa yang tinggal di Jakarta, dan itu kita wajib mengapresiasi itu,” kata Foke.

Perayaan Imlek dan Cap Go Meh bersama-sama merupakan wujud dari kerukunan warga yang harus dilestarikan oleh setiap masyarakat di Jakarta. Seperti saat perayaan Imlek yang dihadiri oleh warga bukan Tionghoa, begitu sebaliknya perayaan lebaran yang turut dirayakan warga Tionghoa. Keduanya merupakan budaya yang mesti dilestarikan.

“Jadi itu saya kira merupakan kekayaan dan kebanggan kita, mudah-mudahan kerukunan seperti ini bisa terus menjadi ciri kota Jakarta ke depan,” jelas Foke. (sun/asr)