|
Jakarta - Perekonomian Indonesia tidak mendapat pengaruh berarti dari krisis global yang bergerak dari Amerika Serikat. Pertumbuhan perekonomian pun masih belum terpengaruh gejolak pasar finansial global yang melanda AS dan Eropa.
"Likuiditas kuat dan dari ketahanan modal juga kuat. Resiko pasar juga tidak banyak terganggu. Karena banyak Surat berharga yang dimiliki bank kita adalah surat berharga dalam negeri terutama SBI (Sertifikat Bank Indonesia) dan SUN (Surat Utang Negara)," ujar Deputi Gubernur BI, Halim Alamsyah, Kamis (11/8/2011) malam.
Halim mencontohkan Citibank dan BNP Paribas cukup kuat dari sisi keuangan di Indonesia. Apalagi pengaruh kedua bank tersebut terhadap perekonomian Indonesia tidak signifikan.
Deputi Bidang Pengawasan Perbankan ini menjelaskan, biasanya kalau kondisi krisis, yang jadi masalah itu adalah ketersediaan likuiditas.
"BNP Paribas, itu dia kecil operasinya. Pengaruhnya disini kecil. Dia tidak terlalu besar jadi tidak ada masalah. Kalau yang terjadi masalah ketersediaan likuiditas, dalam kondisi di Indonesia saya kira kita tidak memiliki kesulitan likuiditas itu," jelas Halim.
Sedangkan Citibank, Halim menegaskan kinerjanya tidak tergantung permasalahan yang ada di sana. Sebab, mereka kebanyakan beroperasi di Indonesia. Sehingga mereka lebih terkait dengan kondisi ekonomi di Indonesia.
Menurut Halim, pengaruh global, terutama krisis Amerika dan Eropa tidak akan membawa pengaruh yang besar baik untuk jangka pendek, menengah maupun panjang.
"Kalau dalam jangka panjang perekonomian Asia menurun, pertumbuhan ekspor kita otomatis akan terkena dan itu akan sedikit mengurangi kecepatan ekonomi kita, tetapi hanya sedikit. Hasil dari simulasi yang kami lakukan ekonomi Indonesia cukup kuat,” sambungnya.
Dia menambahkan, kecil sekali pengaruh krisis global AS dan Eropa, karena Indonesia lebih sering berdagang dengan kalangan Asia. Tentunya, selama Asia kuat, perekonomian Indonesia juga akan kuat.
Ditanya mengenai masalah perbankan, Halim menuturkan bahwa BI sudah mempunyai peraturan yang membuat perbankan sangat waspada terhadap risiko kurs dan naik turunnya harga surat-surat berharga.(adi/waa) |