Pidato Kebudayaan, Apa Itu?
Nasional - Nasional
Ditulis oleh Era Baru Jumat, 11 November 2011

altJakarta – Selayaknya pidato kenegaraan yang disampaikan presiden tiap tahun sekali, pidato kebudayaan juga diadakan sekali setahunnya. Namun sedikit berbeda. 

Jika pidato kenegaraan menyoroti beragam bidang kinerja pemerintahan, pidato kebudayaan lebih menjangkau pada perkara aktual yang penting dan terjadi di masyarakat khususnya dipandang dari sudut kesenian. 

Pidato kebudayaan merupakan acara tahunan program bersama Dewan Kesenian Jakarta dengan Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki. Acara ini diadakan bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Pusat Kesenian Jakarta – Taman Ismail Marzuki, 10 November.
 
Pertama kali digelar pada 10 November 1968, pidato kebudayaan diresmikan pembukaannya oleh Gubernur Propinsi DKI Jakarta, Ali Sadikin.
 
Setiap tahun pidato kebudayaan digelar, dengan menyoroti perkara aktual penting di negeri ini pada tahun dimana pidato itu digelar. Pidato kebudayaan ini dapat diikuti siapapun dan tidak dipungut biaya. 
 
Beberapa tokoh telah dihadirkan, seperti I Gusti Agung Ayu Ratih yang memimpin Institut Sejarah Sosial Indonesia (ISSI) pada Pidato Kebudayaan 2008 dengan topik “Kita, Sejarah, Kebhinekaan: Merumuskan Kembali Keindonesiaan.” Pada 2006 B. Herry Priyono dengan topik ‘Neoliberalisme dan Sifat Elusive Kebebasan.” Ignas Kleiden pada 2009 dengan pidato kebudayaan bertopik “Seni dan Civil Society.”
 
Tahun ini tema pidato kebudayaan agak berbeda dari tahun sebelumnya. Karena tema yang dipilih bukan topik yang kontroversial. Namun topik ini sesungguhnya tidak ada yang berani menyanggah kehadiran dan urgensinya, yakni perlunya upaya pemberantasan korupsi. Masyarakat pun merasa dan meyakini bahwa masalah korupsi sudah ditangani dengan tepat. 
 
Artinya ada lembaga pemberantasan korupsi dan ada sejumlah penindakan dan pencegahan yang dilakukan lembaga ini, lengkap dengan pengadilan Tipikor (Tindak Pidana Korupsi) untuk mengadili para tersangka korupsi alias koruptor. Meski muncul hal-hal baru yang menjadi kendala. 
 
Oleh karena itulah pidato kebudayaan pada 2011 ini menghadirkan Busyro Muqoddas, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Judul pidatonya pun cukup mewakili suara masyarakat “Paguyuban Koruptor dan Polusi Budaya.” Pidato itupun telah disampaikan Sang Ketua KPK di hadapan budayawan, seniman, pegiat seni, dan masyarakat di gedung Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada Kamis (10/11) atau tepat di hari Ultah TIM sekira pukul 20.00 WIB. (tif/rhb)