| Orang Mengenal Dirinya dengan Dirinya Sendiri |
| Nasional - Nasional |
| Ditulis oleh Era Baru | Selasa, 15 November 2011 |
|
Pria yang dikenal dengan nama Damien Dematra itu, baru saja meluncurkan novel dan filmnya 'Dream Obama'. Film yang beberapa saat sebelumnya, diperkenalkan mengangkat semangat kehidupan Obama.
Pemain-pemain film yang saat itu turut bercerita tentang makna dibalik film 'Dream Obama', sebut saja Slamet Efendi Yusuf, Ary Suta, Natasha Dematra dan lain-lain. Turut bercerita banyak juga Ron Muller selaku producer film itu bersama Damien dan Ibu Yustina Amira, Kepala sekolah SD Asisi tempat dulunya Obama pernah bersekolah. Beberapa pemain berhalangan hadir seperti Ayu Azhari, Pong Hardjatmo, Ade Rai, dan Yusril Ihza Mahendara.
“Film ini sangat idealis, karena Damien sendiri saya kenal sebagai seorang idealis,” kata Debora Immanuela, seorang pemain yang menceritakan tentang alur film yang dimainkannya. Mungkin apakah itu kesimpulan akhir yang ia rasakan? Apakah Debora telah berubah profesi menjadi kritikus film ? Bisa jadi iya atau tidak.
Novelis, penulis, skenario, sutradara, produser, fotographer, pelukis, pluralis atau kalau boleh ditambah peminat spiritualis menjadi sederet sapaan yang menempel pada dirinya. “Gitu aja kok repot” menjadi kutipan kata favoritnya.
Semuanya tidak datang begitu saja, awalnya dia hanya seorang fotographer kemudian menekuni dunia bisnis. Tragedi jatuhnya Adam Air KI-574 Jurusan Surabaya – Manado 1 Januari 2007 silam menjadi awal inspirasi baginya, bagaikan orang yang tersadarkan dengan suatu peristiwa serta mengingatkan segala-galanya.
“Jatuhnya Adam Air mengubah hidup saya, semua hilang begitu saja, hidup mesti ada meaning,” ujarnya kepada erabaru.net di restoran Amigos, Jakarta, Senin (14/11) sambil pandangan matanya menatap lurus kedepan.
![]()
Tragedi Adam Air itu menjadikan baginya menulis bukan suatu yang sulit. Lihat saja dia telah menulis 82 novel dan buku dalam bahas Inggris dan Indonesia, 60 skenario film dan TV Series serta memproduksi 33 film. Diantara buku yang dia tulis adalah Surat untuk Tuhan, Mama Aku Harus Pergi, Obama Anak Menteng, Si Anak Kampung dan yang segera terbit juga akan difilmkan dengan judul Bus Terakhir.
“Mereka bukannya tidak pernah berdoa akhirnya semuanya hilang begitu saja,” tambahnya sembari melihat pesan blackberry messenger melalui ponselnya.
Penghargaan Fellowship di bidang Portraiture dan Art Photography dari Master Photographer Association diraihnya selama berkarya sebagai fotograper. Sedangkan penghargaan internasional dia peroleh dari International Master Photographer of the Year.
Bahkan lukisannya tentang Obama, telah diterima secara resmi oleh Presiden Obama di Gedung Putih. Itu merupakan salah satu dari ribuan karya lukisan dan sketsanya. Termasuk 365 lukisan yang diselesaikan dalam waktu satu tahun.
Terkenal sebagai serba Obama, bagi Damien bukan hanya numpang terkenal dengan nama besarnya Obama. Lantas mengapa tidak mencontoh nama dan begitu banyaknya tokoh-tokoh lainnya? Bagi dia, Obama adalah sosok fenomenal. Sosok yang mengartikan pentingnya menerima perbedaan. Bagi dia menulis Obama bukan inti dari segala karyanya.
“Saya juga menulis tentang Gus Dur dan Buya Maarif yang juga memberikanku inspirasi,” belanya saat ditanya mengapa hanya menulis Obama dan terkesan sebuah pengkultusan.
Damien bicara banyak tentang Obama, berusaha memberikan inspirasi kepada anak muda tentang arti pentingnya sebuah mimpi. Layaknya dulu Obama sebagai anak Menteng, yang kini menjadi Presiden negara adidaya.
“Menginspirasikan generasi muda bahwa bermimpi itu penting,” ujarnya yang menyukai penampilan dengan pakaian hitam-hitam.
Damien juga aktif dengan berbagai gerakan sosial. Selain mengkampanyekan anti kekerasan, juga gerakan pluralisme yang menjembatani konflik antara agama serta berperan sebagai Koordinator Nasional Gerakan Peduli Pluralisme.
“Tepatnya bukan sebagai gerakan sosial tapi aktivitas sosial,” tuturnya menceritakan tentang memaknai gerakan sosial. “Tentunya ada nilai-nilai sosial yang bermanfaat,” terangnya di sela-sela alunan sayup-sayup musik irama latin di Restaurant Amigos, Mal Ambagio, Jakarta yang mewarnai ceritanya .
Memaknai tentang spiritual menjadi hal yang mendalam bagi Damien. Bagi dirinya secara pribadi tidak beragama tapi berspiritual. “Memang tidak beragama, tapi saya amat spiritualis,” katanya sembari menyakinkan tentang dirinya. Beragama dan berspiritual suatu hal yang berbeda bagi dia.
Damien mencontohkan orang yang beragama. Hidup orang itu tidak pernah lepas dengan “doa”. Doa dengan kata lain meminta atau memohon kepada yang disembahnya. Namun lain cerita yang orang itu alami. “Akhirnya semua itu hilang begitu saja tanpa makna,” kata ayah Natasha Dematra yang kini berusia 14 tahun.
Arti kata spiritual tidak lepas dari mengenal jati diri dan kembali jati diri. “ Ya memang itu artinya,” jelasnya. “Berasal kesana dan akan kembali kesana,” ujarnya tanpa merinci lebih lanjut makna yang ia katakan dan maksudkan tentang makna yang sebenarnya. Damien mengamini memang ada proses-proses yang dilalui seseorang ketika berspiritual.
Spiritual baginya tidak hanya kesalehan batin tapi adalah kesalehan sosial. “Jika hanya satu arah yang terjalin maka itu akan menjadi egois,” katanya. Damien memaknai spiritual saat ini tidak hanya seperti petapa-petapa tapi perlu mencitrakan dirinya juga di lingkungan sosial. Dia mengibaratkan setidaknya orang itu bermanfaat bagi orang lain.
Tentang maksud dan arti dari karya yang dia capai tentang pembelajaran pemaknaan spiritual, dia tidak menargetkan dan tujuan sesuatu. Ditambah lagi hal tersebut bukan suatu yang dipaksakan dengan seseorang.
“Saya hanya merasa semoga bermanfaat, nantinya orang akan mengenal dirinya dengan dirinya sendiri,” tutupnya. (asr/rhb) |

Sosok pria yang memiliki rambut panjang itu, sedang bercengkerama di sebuah restoran ternama dengan para pemain dan kru film yang dibuat hanya 9 hari 17 jam dan 45 menit. Sebuah film yang menembus rekor dunia sebagai film tercepat penggarapannya. 
Mozilla Firefox