| Anwar Ibrahim dari Istana ke Penjara |
| Nasional - Nasional |
| Ditulis oleh Era Baru News | Selasa, 31 Januari 2012 |
|
Hal ini mengubah jalan hidupnya dari bintang gemerlapan hingga ditelanjang bulat. Penderitaan tersebut bagi Anwar bermakna, rakyat Malaysia tidak semestinya merasakan penderitaan seperti yang dialaminya. “Kita bukan bicara soal kebebasan, kemiskinan dan ketidakadilan, kita telah merasakan, harusnya tidak seorangpun rakyat yang paling miskin yang merasakan derita yang dirasakan,” kata Anwar dalam pidato kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Senin malam (30/01). Posisinya bukan hanya mengkritik pemerintah tapi dirinya telah merasakan di Malaysia dari Istana hingga ke penjara. Oleh karena itu dia cenderung mengkritik tipe kepemimpinan yang tidak tegas dan fokus kepada persoalan protokolan negara. “Kalau saya pakaian formal dengan bintang gemerlapan yang dari dilangit banyak, ada yang namanya dato Sri Si Manjakini, ada Dato Sri Darjah Kinabalu, yang lain tidak ingat,” ujar Anwar yang disambut tawa oleh hadirin. Semua yang telah dirasakan tersebut memiliki hikmah tersendiri untuk dirinya. Pria kelahiran 64 tahun silam itu pernah menjabat pejabat tinggi negara Malaysia dari Menteri Keuangan Malaysia dan Wakil Perdana Menteri Malaysia periode 1993-1998 dengan bintang gemerlapan di dada. Selama di Istana dia diberikan santapan yang lezat dan enak. “Saya pernah diletakkan sebagai pemangku Perdana Menteri dengan makanan lazat, kalau di Istana tidak disebut makanan tapi santapan,” kisah Anwar kembali disambut tawa oleh hadirin. Kemudian dirinya dimasukkan ke penjara, hingga saat itu dirinya berubah dari bintang gemerlapan hingga ditelanjang bulat. Dari sehat setengah bugar dipukul setengah mati. Awalnya yang diberi makanan yang lezat hingga diberi makanan yang dicampakkan seperti makanan anjing. “Saya kemudian diumban ke penjara, dari bintang gemerlapan ditelanjang bulat, dari makanan lazat diberikan makanan yang dicampakkan seperti anjing,” tutur Anwar. Menurut pria yang kerap menentang ketidakadilan di Malaysia dan telah beberapa kali dipenjara di Malaysia dengan tuduhan melakukan korupsi dan perbuatan sodomi, semua itu bermakna bahwa penderitaan dan ketidakadilan tersebut telah dirasakannya sehingga selanjutnya rakyat tidak merasakan penderitaan yang dirasakannya. Anwar mengakui selama dia di Istana memang ikut merasakan lezatnya makanan di Istana dan menikmati jabatan negara, namun demikian komitmennya tentang kebebasan dan ketidakadilan tidak akan pernah luntur. “Selaku saya berkuasa pemangku Perdana Menteri, saya lebih segar, tapi kalau tanya saya soal freedom dan justice, saya tidak sanggup berkompromi lagi,” tegas Anwar. (mas/asr) |

Jakarta – Tokoh oposisi Malaysia Anwar Ibrahim bercerita mengenai kisahnya semenjak menjadi pejabat tinggi di Malaysia hingga dimasukkan ke penjara.
Mozilla Firefox