|
Jakarta – Maraknya alih fungsi lahan pertanian secara besar-besaran mengakibatkan dampak yang memprihatinkan terhadap kondisi pangan dalam negeri. Produksi lokal tidak mampu mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri. Setelah sebelumnya beras yang mesti diimpor, berikutnya bahan-bahan konsumsi dasar lainnya seperti kedelai, susu, jagung, gandum, dan daging.
Teten Masduki, Sekjen Transparansi International Indonesia (TII) mengungkapkan bahwa situasi pangan di Indonesia suram karena alih fungsi lahan pertanian secara besar-besaran.
“Lahan pertanian semua dialihfungsikan menjadi industri perkebunan, perumahan dan lainnya," ujar Teten di depan para wartawan saat jumpa pers Koalisi Anggaran Indonesia (KAI) di Bakoel Coffee Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (17/1).
Menurut Teten pemerintah saat ini lebih banyak menerapkan kebijakan impor. Hal inilah yang menyebabkan pertumbuhan pertanian dalam negeri tidak terbangkitkan.
"Bayangkan saja, makan tempe-tahu saja kedelainya harus impor. Ini sangat memprihatinkan," tegas Teten.
Tercatat pada periode Oktober 2011, Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan mengungkapkan di Medan, Sumatera Utara banyak ditemukan kacang kedelai impor khusus dari China.
“Di Medan, Sumatera Utara banyak kacang Kedelai impor khususnya asal Chinab ditemukan di pasar Sumatera Utara dengan harga jual yang juga tren menguat berkisar Rp15.000 - Rp18.000 per kg,” demikian dirilis Bappebti dalam Analisis Perkembangan Harga, di Jakarta, Selasa (25/10) silam.
Akibatnya kedelai impor semakin ‘membludak’ karena pasokan dari lokal nyaris tidak ada. Dampaknya kedelai impor semakin menguasai pasar. Apalagi permintaan justru semakin banyak. Jika yang terjadi demikian, maka kondisi ini sangat menyedihkan. (deo/rhb)
|