| Mudik Bersama Pengungsi Merapi |
| Nasional - Politik |
| Ditulis oleh Wayan Manuh/ Era Baru News | Senin, 22 November 2010 |
|
Sejumlah pengungsi tampak berkemas-kemas dan bersiap pulang ke rumah mereka masing-masing dan meninggalkan pengungsian. Tampak diantaranya pasangan Tri Kuntara (46tahun) bersama istrinya Rudati (47). Mereka bersiap dengan box kardus dan barang lainnya pada masing-masing motor mereka. Era Baru pun memutuskan untuk ikut pulang ke kampung halaman mereka yang berjarak kurang lebih 45 menit dari pengungsian. Kembali ke rumah kediaman Tri dan Rudati yang telah dua minggu ditinggal mengungsi. Keadaan wilayah ini tidak begitu parah, hanya pohon-pohon salak yang porak poranda dan rebah karena tidak kuat menahan endapan debu vulkanik yang di muntahkan oleh merapi. Di rumahnya yang sederhana, Tri adalah seorang wiraswasta peternak itik dan ikan air tawar. Rumahnya dikelilingi 1000 lebih rumpun pohon salak dan tentu saja beberapa kolam ikan, serta ratusan sisa ternak burung puyuh. Burung puyuh yang diternakkannya sebagian tampak masih sekarat. Burung-burung itu menderita stress karena pengaruh letusan merapi terhadap udara sleman yang panas dan belum kondusif untuk dihirup. “Ini adalah faktor utama kematian unggas,” kata Tri sambil menujuk pada baskom plastik yang berisi bangkai burung puyuhnya yang masih belum dikubur. Jika dilihat peta yang dikeluarkan oleh Badan Geologi Nasional dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Dusun Somoitan, Kelurahan Giri Kerto, Turi, Sleman ini masih termasuk dalam radius zone bahaya Merapi. Jaraknya berada pada zone merah 10 km dari Merapi. Tetapi karena minimnya informasi yang mereka dapatkan, masyarakat desa ini tanpa koordinasi sudah kembali ke rumah masing-masing. Sejumlah pengungsi di kawasan ini pun mengeluhkan tidak ada perhatian pihak berwenang pasca pengungsian. “Kami tidak punya stok bahan pangan untuk bertahan. Kami sudah mememnuhi persyaratan yang diminta oleh panitia jika ingin mendapatkan bekal logistik, yakni tanda tangan ketua Rt dan RW, tetapi setelah kami mengikuti prosedur dikatakan aturannya di rubah. Kamipun tidak bisa berbuat apa-apa dan tidak tahu harus mengeluh kepada siapa,” kata Puji Yantara, warga lereng Merapi lainnya. Disisi lain para pengungsi juga mengeluhkan janji pemerintah yang berwacana memberikan sekadar uang jajan. “Kami tidak pernah pegang uang, anak menangis ingin jajan, apa boleh buat,” Kata Sriyanti sambil menggendong anak perempuannya Linda(4) yang merengek.(man/waa) |

Sleman - Cuaca di pengungsian korban letusan Gunung Merapi stadion Maguwo Harjo cukup cerah dan sedikit berawan, Minggu (21/11) sore.
Mozilla Firefox