|
Jambi - Serikat Buruh Sejahtera Indonesia menilai sikap pengusaha terhadap serikat buruh masih mengganggap sebagai musuh.
Koordinator Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Jambi, Royda Pane, Kamis (28/4) mengatakan, sikap pengusaha terhadap persatuan atau serikat buruh di perusahaan sebagai musuh bukan sebagai mitra.
"Seharusnya pengusaha menganggap dan menjadikan serikat buruh sebagai mitra untuk memecahkan berbagai masalah yang terjadi," katanya.
Ia menyebutkan, hingga saat ini masih banyak hak buruh atau pekerja yang diabaikan pengusaha, dan kepedulian pemerintah untuk mengatasinya.
Upah minimum provinsi (UMP) yang sudah ditetapkan, juga masih banyak yang belum dibayarkan sesuai aturan yang berlaku.
Diakui kendati UMP yang dibayarkan itu dinilai sudah memenugi standar hidup layak, namun masih dirasakan klurang, karena segala sesuatu diukur dengan harga termurah.
Segala sesuatu bila diukur dengan harga termurah sudah dapat dipastikan kualitas barang itu juga rendah, dan itu pun tidak sepenuhnya dibayar sesuai UMP. Selain itu sikap arogan pengusaha terhadap buruh juga masih tinggi, karena banyak ditemukan kasus pekerja yang diperlakukan semena-mena.
Serikat buruh yang ada, selalu memperjuangkan hak buruh, selalu dianggap musuh oleh perusahaan karena dianggap bertentangan dengan kebijakan perusahaan.
"SBSI Jambi yang anggotanya kini tercatat 17.000 orang lebih akan terus memperjuangkan hak pekerja sesuai aturan dan ketentuan berlaku," kata Royda Pane.(ant/waa) |