Cuaca Ekstrim Akibat Tekanan Rendah di Selatan Jawa
Nasional - Bencana
Ditulis oleh Era Baru News Senin, 30 Januari 2012

Cuaca ekstrim, BMKG, Hujan Lebat, angin kencang, puting beliung Jakarta - Cuaca ekstrim berupa hujan lebat dan angin kencang  yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia, karena adanya daerah tekanan rendah di selatan Jawa. Angin kencang akan terjadi sekitar Sumatera bagian Selatan, Jawa, dan Nusatenggara dengan kecepatan sampai sekitar 60 km/jam.

“Sekitar pekan ke-3 Januari 2012 ini memang wilayah sekitar Sumatera bagian Selatan, Jawa, dan Nusatenggara dilanda angin kencang dengan kecepatan sampai sekitar 60 km/jam,” ujar peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof.Thomas Djamaluddin, Senin (30/1).

Hujan lebat dan angin kencang  di daratan dan gelombang tinggi di pantai, menjadi kekhawatiran masyarakat.  Hal itu menyebabkan banyaka pohon tumbang bertumabangan dan terjadinya banjir dan tanah longsor.

“Penyebabnya karena adanya daerah tekanan rendah di selatan Jawa. Kita tahu, angin terjadi karena adanya perbedaan tekanan udara,” jelas Djamaludin.

Terjadinya perbedaan tekanan udara  dipicu oleh terbentuknya wilayah tekanan rendah yang memicu aliran udara.  Kecepatannya meninggu dari daerah sekitarnya yang dirasakan sebagai angin kencang.

Oleh karena itu perlu diketahui perbedaan antara angin kencang dan putting beliung. Adapun puting beliung bersifat sangat lokal akibat dinamika atmosfer lokal yang dipicu efek pemanasan lokal. Sedangkan angin kencang bersifat regional dan umumnya terjadi pada musim hujan, serta saat musim kemarau dengan sifat angin yang kering.

“Dalam hal ini perlu dibedakan antara angin kencang dengan puting beliung,” ujar Djamaludin.

Musim hujan yang terjadi saat inim dikarenakan terjadinya perubahan pemanasan di permukaan bumi terkait dengan kemiringan sumbu rotasi bumi.  Pada bulan Desember  sampai Maret 2012, posisi matahari berada di belahan selatan bumi yang mulai bergeser menuju ke utara. Akibatnya wilayah Selatan mendapatkan panas yang lebih banyak daripada bagian Utara.

“Oleh karenanya tekanan udara di belahan Selatan relatif lebih rendah daripada di belahan Utara,” ungkap Djamaludin.

Faktor tersebut menyebabkan terjadinya pergerakan angin di sekitar ekuator bergerak ke arah selatan. Akibat perputaran bumi, angin sebelah utara ekuator bergerak dari arah timur dan di selatan angin bergerak dari arah barat.

Adapaun pemanasan matahari menyebabkan terjadinya pemanasan  lautan serta pergerakan angin. Pemanasan lautan selanjutnya menyebabkan penguapan yang kemudian terangkat ke atas oleh angin membentuk awan di daerah pertemuan angin dari selatan dan utara yang disebut daerah konvergensi.

“Nah, daerah konvergensi ini bergeser tergantung musimnya yang terkait dengan pergeseran arah angin,” ujarnya.

Secara umum peneliti memprakirakan awal musim hujan di Indonesia yang dimulai dari wilayah Sumatera bergeser ke arah Timur dan memprakirakan akhir musim hujan yang dimulai dari Nusa Tenggara Timur bergeser ke Barat.

“Potensi bencana akan meningkat kalau ada efek gabungan yang saling menguatkan. Jadi, jangan abaikan peringatan dari BMKG yang tugasnya memberikan informasi cuaca,” katanya. (tdjamalwordpress/asr)