| Dephub : Penyebab Jatuhnya Sukhoi Tunggu KNKT |
| Nasional - Bencana |
| Ditulis oleh Era Baru News |
| Jumat, 11 May 2012 06:10 |
|
Jakarta – Kementerian Perhubungan mengatakan penyebab jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat, Rabu (9/5), masih menunggu hasil penelitian dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Kita tidak bisa mengira-ngira atau memprediksi apa yang menjadi faktor terjadinya kecelakaan, kita tunggu saja hasil investigasi KNKT,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub RI, Herry Bakti S. Gumay seperti dilansir dari laman dephub, Jumat (11/5). Dijelaskannya, pesawat tersebut hilang kontak setelah 12 menit terbang yakni dari pukul 14.21 hingga 14.33. Kemudian piot pesawat itu meminta untuk merendahkan penerbangan dari 10.000 feet menjadi 6.000 feet kepada ATC. “Namun ternyata pada akhirnya ditemukan di pegunungan Salak di wilayah Kabupaten Sukabumi. Apabila posisi pesawat masih di atas Atang Sanjaya, kerendahan penerbangan tersebut tidak bermasalah dan tetap bisa dilakukan oleh pesawat udara,” ujarnya. Mengenai pilihan terbang di kawasan Bogor, karena biasanya sering dilakukan beberapa penerbangan karena minimnya penerbangan di wilayah udara tersebut. Selain itu. tidak ada penerbangan berjadwal yang melewati wilayah itu kecuali untuk pesawat carter. Menurut Herry, penyebab kecelakaan pesawat tersebut, kemungkinan akibat cuaca yang kurang bagus hingga menghalau pandangan pilot, lalu menghantam tebing gunung Salak. Namun Herry tidak meyakini apakah itu menjadi salah satu penyebab, sebelum hasil investigasi dilakukan KNKT. Seperti diketahui kawasan gunung Salak selalu berkabut. Biasanya sekitar siang hari, kawasan ini juga kadang-kadang diguyur hujan. Kabut ini diduga mengahalau pandangan pilot. Kemudian pesawat yang diturunkan menjadi 6.000 ft menjadi tanda tanya, pasalnya ketinggian gunung Salak sekitar 7.253 ft. Biasanya, hasil investigasi yang dilakukan oleh KNKT diperlukan butuh waktu lama untuk mengetahui lebih detail dan diumumkan ke publik. Seperti jatuhnya pesawat Adam Air KI 574 penerbangan Surabaya-Makassar 1 Januari 2007 lalu, hasil investigasi KNKT baru diumumkan ke publik setahun kemudian, 25 Maret 2008. Hal yang sama juga saat kecelakaan 30 November 2004, Lion Air Penerbangan 538 PK-LMN, MD-82 rute Jakarta-Solo-Surabaya, tergelincir saat melakukan pendaratan di Bandara Adisumarmo, yang menyebabkan 26 penumpang meninggal. (dephub/rt.com/mas) |


Mozilla Firefox