Jatuhnya Sukhoi "Human Error," Kegagalan Teknis atau Faktor Cuaca?
Nasional - Bencana
Ditulis oleh Era Baru News   
Selasa, 15 May 2012 10:29

alt

Media massa di Rusia ramai membicarakan mengenai jatuhnya pesawat buatan negeri itu, Rabu 9 Mei 2012 lalu. Media Rusia rt.com mengambil tema dengan menulis apakah kejatuhan Sukhoi disebabkan oleh human error, kesalahan teknis bahkan diakibatkan oleh faktor cuaca.

Dalam laporannya disebutkan bahwa, para ahli percaya human error dan kerusakan teknis bisa jadi penyebab utama di balik kecelakaan pesawat Superjet 100 Rusia di Indonesia.

Meskipun bangkai pesawat telah ditemukan, tetapi kesimpulan resmi belum diambil terkait penyebab kecelakaan pesawat yang menewaskan 45 orang ini.

Utusan Wakil Presiden Rusia Dmitry Rogozin menegaskan bahwa kesalahan manusia mungkin sebagai penyebab insiden pesawat Sukhoi.

"Saya berharap bahwa IAC (International Aviation Committee) akan melaksanakan pekerjaan yang diperlukan untuk menentukan penyebab dari tragedi ini. Tapi pendapat para ahli menunjukkan bahwa sistem teknologi bekerja dengan baik dan itu mungkin faktor manusia," kata Rogozin pada wartawan.

Sukhoi memberikan kesimpulan akhir. Dalam pengakuannya, Rogozin mengatakan ia telah terbang dalam pesawat jenis ini pada bulan Februari di Novosibirsk dan menilai pesawat ini sebagai pesawat yang baik, handal, dan modern.

"Selama penerbangan dari Novosibirsk ke Moskow, saya berada di kokpit dan pilot menjelaskan kepada saya keunggulan dari pesawat jet ini. Pilot memiliki opini yang sangat baik terhadap pesawat ini. Pesawat ini memiliki masa depan cemerlang, sangat menjanjikan dan kompetitif," jelas Rogozin.

Banyak pilot juga ditanyai dengan analisis mereka terkait jatuhnya pesawat pabrikan United Aircraft Corporation (JSC).  Pelanggaran terhadap ambang ketinggian yang diizinkan disebutkan sebagai salah satu dari sekian banyak alasan yang mungkin pada kecelakaan Superjet Sukhoi 100.

Seorang pilot Indonesia, dengan jam terbang lebih dari 33.000 jam kepada rt.com mengatakan bahwa ia sangat percaya kecelakaan itu disebabkan oleh human error.

"Saya bertanya-tanya pada diri sendiri, mengapa pilot meminta untuk turun ke ketinggian 6.000 kaki? Itu melanggar ketinggian minimum bebas rintangan (Minimum Obstacle Clearance Altitude). Di lokasi itu, ketinggian bebas rintangan minimum adalah sekitar 11.000 kaki, " kata Ronny Rosnadi.

"Pesawat itu seharusnya turun ke ketinggian yang lebih rendah hanya ketika mendekati sebuah titik di selatan dari pantai Pangandaran. Itu jauh lebih aman, " tambahnya.

Rosnadi mengatakan pilot Rusia mungkin dalam kondisi tidak stabil saat menerbangkan pesawat. "Dia bisa saja terlalu percaya diri, atau cukup lelah," kata mantan pilot Merpati Nusantara Airlines ini.  "Pilot melakukan penerbangan demo dan itu melelahkan," ungkapnya.

Rosnadi mengatakan sebuah downdraft, sebuah angin kencang yang berhembus selama perubahan musim, bisa jadi kemungkinan lain penyebab kecelakaan pesawat.  Mungkin juga akibat pandangan pilot terhalang oleh kabut tebal yang membuat dia tidak melihat sesuatu dihadapannya.

Sementara pilot kehormatan Rusia dan ahli keamanan penerbangan Vladimir Gerasimov mengatakan analisanya tentang fakta dan sampai pada kesimpulan yang sama.

"Pesawat jet menabrak tebing dalam kondisi cuaca buruk," katanya kepada perusahaan media RBK (RosBusinessConsulting) Rusia. "Itu berarti ia turun lebih rendah dari jarak aman. Ada ketinggian jarak bebas hambatan minimal untuk medan datar, daerah perbukitan dan daerah pegunungan. Jika pesawat jet tabrakan, ini berarti ia telah melanggar aturan keselamatan ketinggian,” paparnya.

“Jika reruntuhan pesawat jatuh kurang dari satu setengah kilometer dari titik terakhir komunikasi dengan pemantau lalu lintas udara. Ini berarti hanya beberapa detik penerbangan. Itu adalah penerbangan yang terkendali. Para kru tidak melaporkan kemungkinan kegagalan teknis. Ini berarti kita berbicara bukan tentang pesawat jet, tetapi tentang pilot. Kesalahan pilot, " katanya.

Vladimir Gerasimov yakin para peneliti juga harus mempertimbangkan kualifikasi awak untuk penerbangan internasional. Apakah mereka telah mempelajari medan, seandainya mereka berada pada penerbangan yang sama sebelumnya, apakah mereka lancar berbahasa Inggris.

Pilot uji coba ternama Rusia Anatoly Knyshov, percaya bahwa Superjet Sukhoi 100 dikemudikan oleh awak berpengalaman, tetapi mereka tidak diberitahu mengenai peralatan onboard yang benar. Ada kemungkinan, bahwa pilot tidak mendapatkan informasi yang cukup tentang kondisi cuaca dan kekhususan daerah.

Untuk menghindari tabrakan, pesawat modern dilengkapi dengan penanda bahaya alarm dan suara, bersama dengan penandaan warna pada daerah berbahaya di layar radar cuaca. "Ketika mereka terbang di atas daerah datar - lampu hijau (menyala), di atas pegunungan dan daerah berbahaya warna merah," jelas Knyshov.

"Ternyata, sistem ini tidak bekerja, tidak disempurnakan, atau ada sesuatu yang salah. Menurut pendapat saya, aktivitas badai atau kejutan listrik statis dapat menyebabkan kegagalan sistem. Ini berarti bahwa kru tidak memiliki informasi tentang keadaan sebenarnya," katanya.

Sementara itu, David Learmount, yang sebelumnya bekerja pada situs berita penerbangan Flight global, percaya bahwa fakta bahwa penerbangan itu adalah Joy Flight calon pelanggan, bisa menjadi bagian penting dari misteri. Cukup banyak kecelakaan terjadi murni karena pesawat sedang diterbangkan sampai ke batas kemampuan yang dimiliki oleh pilot.

"Itu adalah penerbangan demo, itu merupakan demonstrasi penerbangan," kata Learmount.

"Kadang-kadang pilot atau awak sengaja menerbangkan pesawat hingga ke batas mereka. Mereka melakukan itu kadang-kadang ketika pesawat cukup dekat dengan tanah. Begitulah sebuah demonstrasi penerbangan sering kali dilakukan. Terkadang mereka mendorong hingga ke ambang batas terlalu jauh. Itu mungkin yang terjadi, " tuturnya. (rt.com/wid/asr)

 
Stay Slim and Healthy