Ribuan orang merayakan festival penghormatan pada Santa Claire , pelindung kota Obando di Filipina.
Perayaan dilakukan dengan ritual menari diiringi musik tradisional, terutama oleh para pasangan yang menginginkan keturunan. Santa Claire dipercaya sebagai santa pelindung kesuburan, dan pembantu para bujangan untuk menemukan pasangannya.
Tess Faustino yang baru menikah berkata, ia bertemu dengan suaminya setelah meminta petunjuk dari Sang Santa, dan kini ia mengharapkan anak.
[Tess Faustino, Peserta Festival]:
“Ini pertama kalinya saya memohon seorang anak.”
Jemimah Santiago, ibu dengan dua anak dan sedang hamil anak ketiganya, menari agar suaminya cepat kembali.
[Jemimah Santiago, Peserta Festival]:
“Sebetulnya ia tinggal dengan orang lain, saya menari agar ia dapat kembali bersama saya.”
Ritual ini telah diturunkan dari generasi ke generasi. Penduduk Obando percaya, menggoyangkan pinggul sambil menari dapat membuka organ reproduksi wanita agar lebih subur.
Gereja Katolik di sana juga mendukung ritual ini, menekankan pentingnya keluarga dan perkembangan populasi kehidupan.
Uskup Katolik telah menentang undang-undang tentang kesehatan reproduksi, yang memberikan pilihan untuk mengontrol keluarga. Cara mengontrol misalnya adalah dengan alat kontrasepsi atau pil anti hamil untuk mengurangi populasi.
Para pastor Katolik dan mereka yang pro-kehidupan berkata, undang-undang ini melanggar nilai-nilai Kristiani, dan banyaknya populasi tidak berhubungan dengan kemiskinan.
[Jerry Fortunato, Pastor]:
“Masalahnya bukan karena memiliki anak, tapi karena kemiskinan dan korupsi di negara kita.”
Filipina yang didominasi oleh agama Katolik, memiliki populasi hampir 100 juta, yang sepertiganya hidup dibawah garis kemiskinan.