Ini adalah pied tamarin Brazil. Ilmuwan termasuk ahli biologi Benedito Domingos Neto, berkata habitat Pied Tamarin tergusur seiring pertumbuhan kota.
[Benedito Domingos Neto, Ahli Biologi]:
"Pied Tamarin ini nasibnya malang karena tinggal di area pembangunan kota Manaus yang semakin berkembang."
Hewan ini merupakan satwa asli hutan di sini.
Pemerintah memperkirakan kurang dari 500 tamarin yang tertinggal di alam liar, dan kebanyakan tinggal di daerah seluas 7.500 kilometer persegi.
Tapi selama akhir dekade ini, lebih separuh hutan tropis telah ditebang, diganti dengan bangunan, pabrik dan jalanan. Ini menyebabkan tamarin kekurangan makanan dan jadi berpenyakit.
Arsitek dan pecinta lingkungan berkata, kota melenyapkan lingkungan satwa.
[Jaime Kuck, Arsitek dan Ahli Masalah Perkotaan]:
"Ini hal yang menyedihkan bahwa urbanisasi terjadi tepat di lingkungan spesies ini tinggal. Hewan ini endemik, hanya ada disini dan mereka harus membayar mahal karenanya."
Bendito Neto mencoba menelusuri tamarin lokal dengan kalung pelacak.
Ia berusaha merawat tamarin yang sakit dan terluka, tapi populasinya semakin berkurang.
[Benedito Domingos Neto, Ahli Biologi]:
"Sudah pasti menurun dan mempercepat kepunahannya. Saya pikir jika terus berlangsung seperti ini, mungkin hewan ini tak akan terlihat lagi dalam sepuluh tahun."
Pabrik diperkirakan menciptakan 20.000 pekerjaan setiap tahunnya. Saingan yang berat bagi ilmuwan yang mencoba melindungi tamarin.
Tapi menurut ahli konservasi, keseimbangan antara hewan dan pembangunan harus tercapai, atau Brazil akan kehilangan spesies unik ini.