Para jurnalis di Tiongkok yang membuat laporan diluar ketentuan Partai Komunis Tiongkok, akan dipecat, seiring dengan semakin ketatnya kebebasan pers di sana.
Baru-baru ini, mantan jurnalis Chen Jieren mengumumkan di blognya bahwa ia telah dipecat oleh media pemerintah, Harian Rakyat. Chen merupakan editor eksekutif dari situs Rakyat Jiangsu, versi online Harian Rakyat.
Dalam blognya yang kini telah disensor, Chen menulis, dia diberitahu bahwa ia terlalu banyak mengkritik pemerintahan, dan corong rejim tak dapat memperkerjakan seseorang yang tidak bekerja sama. Chen telah mempublikasikan artikel yang mempertanyakan prestasi politik yang dirayakan pemerintah. Dia juga menyerukan pemboikotan amandemen hukum identifikasi pribadi, yang mengharuskan pendaftaran sidik jari.
Selain Chen, ada pula kepala editor lain mengumumkan kepergiannya dari majalah berita investigasi. Zhu Shunzhong dulunya memimpin Great Wall Monthly, media yang digosipkan telah dihentikan oleh pemerintah pada bulan Oktober. Hari Minggu, Zhu bersama timnya mengumumkan akan meninggalkan majalah ini karena "masalah yang tidak bisa diselesaikan". Great Wall Monthly telah meliput topik kebijakan kontroversial keluarga berencana, dan penggusuran paksa di seluruh negara.
Huang Liangtian, yang dipecat dari jabatan kepala editor di media daratan Tiongkok, menjelaskan mengapa rejim Komunis tidak mentolelir hal ini.
[Huang Liangtian, Mantan Kepala Editor Majalah Baixing]:
"Partai Komunis benar-benar menyadari propagandanya, dan semua media dijadikan alat propagandanya. Jika anda berada dalam bisnis ini, anda akan menjadi alatnya juga, menjadi corong komunis, bukan otak atau hatinya. Anda tidak bisa memiliki hati nurani atau kebebasan berpikir."
Rejim Tiongkok, baru-baru ini mendorong perluasan yang disebut "kekuatan lembut," untuk mempertahankan legitimasinya. Departemen Pusat Propaganda sangat mengontrol media, baik dalam dan luar negri.