Para demonstran, beberapa berbaring di tanah dengan genangan cairan merah yang menyimbolkan darah hewan, meneriakkan “Tolak bulu”.
Mereka ingin menarik perhatian orang akan penderitaan hewan di perdagangan bulu.
Bukti foto yang dirilis oleh Koalisi Internasional Anti Bulu mengungkapkan cara kontroversial di mana hewan dibunuh, baik di Tiongkok maupun Eropa.
Pertama, hewan itu dilempar beberapa kali ke lantai sampai sekarat, kemudian kakinya dipotong dengan kapak dan dikuliti dalam keadaan masih hidup.
Rita, salah satu peserta demonstran menuturkan pentingnya kesadaran akan penderitaan hewan yang tak berdaya.
[Rita Balade, Demonstran]:
"Ini kejam dan mengejutkan, membunuh hewan demi bulunya. Mereka menderita karena dilucuti bulunya saat masih hidup. Tidak manusiawi! Kita harus menjaga dunia, ini menuju neraka.”
Di zaman kuno, orang memakai bulu setelah berburu binatang.
Menurut para aktivis, di zaman modern ini, peningkatan kesadaran akan hak-hak hewan meningkat dan manusia tidak boleh lagi mengabaikan penderitaan hewan.
[Jane Halevy, Pendiri, Koalisi Internasional Anti Bulu]:
"Saya ingin mengingatkan wanita yang masih berpikir mengenakan bulu adalah modis, dan memberitahu mereka: status bulu di saat ini tidak seperti dulu, status bangsawan. Sekarang ini adalah status kebodohan, kejahatan akibat egoisme! Mereka yang masih memakai bulu harus tahu, ini adalah yang mereka wakili."
Koalisi Anti Bulu Internasional telah bekerja keras untuk meluluskan undang-undang yang melarang impor dan perdagangan bulu.
Survei oleh Institut Hagar menunjukkan, 86 persen warga Israel mendukung undang-undang pelarangan perdagangan bulu.
Sebuah RUU telah diajukan ke Parlemen Israel dua tahun lalu, dan dalam proses persetujuan.