Kelompok Doctors Against Forced Organ Harvesting berkata upaya mengurangi wisata transplantasi ke Tiongkok mulai berhasil.
Para anggotanya berbicara di depan Kongres Transplantasi Amerika di Boston.
Mereka memperinci proses pengambilan organ secara paksa dari tahanan yang tak bersalah.
Ahli bedah jantung Israel Dr. Jacob Lavee adalah salah satu pendukung upaya ini sejak 2005.
[Jacob Lavee, MD, Mantan Presiden Organisasi Transplantasi Israel]:
“Di tahun 2005, salah satu pasien saya berkata bahwa ia muak menunggu mendapatkan donor jantung yang cocok, dan ia diberitahu oleh perusahaan asuransi kesehatannya untuk pergi ke Tiongkok dalam dua minggu, karena ia telah dijadwalkan untuk menjalani transplantasi jantung pada hari tertentu.”
Ini hal yang mengejutkan bagi Dr. Lavee. Sebagai ahli bedah jantung, ia tahu bahwa hati tak dapat bertahan lama di luar tubuh manusia.
Itu berarti rencana seperti ini hanya akan mungkin jika seseorang ‘dijadwalkan’ untuk menyerahkan hatinya pada hari transplantasi.
Dengan kata lain, kematian telah direncanakan.
Setelah itu, pengacara hak asasi Kanada David Matas dan mantan anggota parlemen Kanada David Kilgour mempublikasikan sebuah laporan pengambilan organ secara paksa oleh rezim Tiongkok dari para anggota latihan meditasi Falun Gong.
Dr. Lavee lalu mendesak para ahli transplantasi untuk mencegah wisata transplantasi ke Tiongkok, dan telah berhasil di negaranya.
[Jacob Lavee, M.D., Mantan Presiden Organisasi Transplantasi Israel]:
“Wisata transplantasi dari Israel ke Tiongkok sejak tahun 2008 lalu secara tiba-tiba berhenti.”
David Matas, salah satu penulis laporan pengambilan organ, berkata wisata transplantasi ke Tiongkok telah menurun.
Namun peningkatan prosedur transplantasi domestik berarti jumlah keseluruhan tetap sama.
Rezim Tiongkok telah mengaku mengambil organ dari tahanan yang dieksekusi.
Kelompok hak asasi berkata sumber ini saja tak cukup untuk mendukung jumlah besar transplantasi yang dilakukan di Tiongkok.