Era Baru News >> Opini >> Opini >> PKC Mengatur Kunjungan Kim Jong-Il
PKC Mengatur Kunjungan Kim Jong-Il
Ditulis oleh Oleh: Li Tianxiao Senin, 17 May 2010

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-Il, bersama dengan iring-iringan 17 mobil mewahnya melakukan kunjungan ke China yang ke-lima dari 3 - 7 Mei. Kim memamerkan gaya mewah pada perjalanan tidak resminya ini, meskipun negaranya menghadapi krisis ekonomi serius.

Kim terlihat menginap di Furama Hotel bintang lima di kota Dalian, yang mana presidential suitenya seharga lebih dari US$2.100 satu malam - setara dengan PDB per kapita negaranya.

Iring-iringan mobilnya, disebut-sebut sebagai yang terpanjang dalam 10 tahun terakhir, dibutuhkan lima menit untuk memasuki Rumah tamu Negara Bagian Diaoyutai, dimana tamu-tamu asing sering tinggal. Dia juga menerima sambutan hangat 5 jam dari pemimpin senior Partai Komunis China (PKC) di Aula Agung Rakyat.

Namun, kunjungannya tidak disambut oleh para blogger China. Blog-blog  "Usir Kim Jong Il keluar dari China" begitu populer di Internet sehingga Departement Propaganda Pusat mengeluarkan perintah untuk menutup mereka.

Kim melakukan kunjungan tidak lama setelah Presiden Korea Selatan Lee Myung-bak diundang ke "Korea-China Summit Talks" dan Upacara Pembukaan Shanghai World Expo. Korea Selatan sangat tidak senang bahwa PKC telah menyembunyikan kunjungan Kim dari mereka dan dengan sengaja memberikan penyambutan tingkat tinggi kepada Kim. Korea Selatan menghubungi kedutaan China untuk mengekspresikan kekecewaan dan penyesalan mereka akan kejadian yang langka terjadi itu. PKC telah sekali lagi menunjukkan hubungan dekat dengan tetangga komunisnya dalan sebuah kejadian yang mengingatkan kita pada peristiwa serupa di tahun 2008.

Mengapa Sambutan Yang Begitu Hangat?

Dukungan kuat PKC pada Kim dan Korea Utara bukanlah sebuah keramah-tamahan yang sederhana ataupun dorongan bagi Kim Jong Il untuk reformasi, seperti yang dispekulasikan oleh dunia luar. Kim hanyalah anjing PKC yang menggonggong. Lalu mengapa PKC menyambut Kim dengan begitu menyolok kali ini?

Pertama, PKC ingin memaksa Korea Selatan dan masyarakat internasional untuk mencegah kemungkinan sangsi-sangsi kuat terhadap Korea Utara setelah mengungkapkan penyebab tenggelamnya Cheonan, kapal perang Angkatan Laut Korea Selatan pada 26 Maret lalu di perairan Korea Selatan.

Jelas, baik Lee maupun Kim datang karena insiden tenggelamnya kapal tersebut. Lee telah menuntut China untuk mengakui keterlibatan Korea Utara yang menorpedo kapal itu dan China dapat bekerja sama atas sangsi-sangsi yang dijatuhi Dewan Keamanan PBB kepada Korea Utara. Jadi, PKC memanggil Kim untuk menghiburnya, berharap penyambutan yang mewah itu dapat menghalangi sangsi-sangsi.

Korea Utara sebenarnya adalah "tersangka langsung satu-satunya" dalam insiden penenggelaman kapal itu. Presiden Lee mengatakan pada "Konferensi Komandan Militer" pada 4 Mei bahwa tenggelamnya Cheonan bukanlah sebuah kecelakaan sederhana. Chosun Ilbo, sebuah surat kabar terkemuka Korea Selatan, berpendapat dalam pidato Lee tersiratkan keterlibatan Korea Utara.

Setelah kebenaran disiarkan, Lee tidak punya pilihan lain kecuali menjatuhkan sangki-sangsi terhadap Korea Utara. Jenderal Burwell Bell, mantan Panglima Angkatan Korea Amerika Serikat, menyerukan tindakan blokade ketat jika terbukti keterlibatan Korea Utara. Tentu saja, Korea Selatan juga akan meminta PBB dan masyarakat Internasinal untuk mengambil tindakan bersama-sama. Lee tahu dengan jelas bahwa PKC mendukung Korea Utara. Dia ingin mendapatkan izin dari PKC sebelum mengambil tindakan apapun. Ini adalah tujuan dari kunjungan Lee.

Dilema PKC

PKC sekarang ada di ujung tanduk dilema. Jika ia setuju dengan sangsi-sangsi, kekuatan Korea Utara akan rusak, dan melemahkan kekuatan tawar menawar untuk menggunakan Korea Utara untuk bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Jika tidak setuju, ia akan takut menjadi target umum. Dengan demikian, pilihan terbaik bagi PKC adalah dengan menggunakan penyambutan high profile Kim untuk memaksa Korea Selatan menghentikan atau mengurangi sangsi-sangsinya.

Kedua, PKC perlu menghadiahi Kim. Beberapa ahli berpikir bahwa Kim Jong-Il menganggap insiden Cheonan sebagai kesempatan untuk mengunjungi China untuk meminta bantuan keuangan mendesak. Pada kenyataannya, insiden itu memang membantu PKC menghindari rasa malu dari penarikan Google dan menunjukkan kepada Barat kartu-kartu yang dipegang PKC. Selain itu, Korea Utara sedang menderita karena kegagalan reformasi moneter, situasi sulit dari krisis makanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan bahkan kekurangan ransum.

Selain China menjanjikan US$ 1 miliar ditambah investasi di Korea Utara pada bulan Februari, dikatakan bahwa PKC juga akan memberikan 100.000 ton pangan, senilai US $ 60 juta. Ini menandakan bahwa Kim layak mendapatkan hadiah-hadiah atas apa yang telah dilakukannya, dan Beijing telah memberikan hadiah-hadiah itu seperti yang telah dijanjikan. Kedua belah pihak bisa saling bekerja sama dengan baik, dan Kim, karena itu membayar China dengan sebuah kunjungan.

Lebih jauh lagi, PKC ingin menggunakan kunjungan Kim itu untuk mengatakan kepada dunia bahwa Korea Utara masih di bawah kendali Kim, dan bahwa PKC sekarang dan akan dengan tegas mengendalikan dirinya dan Korea Utara.

Akhirnya, PKC ingin Kim menyerah lebih jauh lagi di depan "Model China" dengan mempertunjukkan kepadanya area-area pelabuhan di sekitar Dalian. PKC juga berusaha menipu Barat bahwa mereka berusaha untuk meyakinkan Kim untuk mengambil jalan yang benar dan, karena itu, menutupi niatnya  menggunakan Kim untuk pijakan kaki atas masalah-masalah dalam masyarakat internsional. (EpochTimes/khl)