Era Baru News >> Opini >> Opini >> Seberapa Serius Tantangan China?
Seberapa Serius Tantangan China?
Ditulis oleh Oleh: Markus Jaeger Jumat, 06 Agustus 2010

Meskipun menanjak, interdependensi keuangan China telah berat sebelah dengan AS

Perekonomian China telah berkembang 10 persen sejak awal reformasi ekonomi di akhir 1970-an. Jika tren ini terus bertahan, China akan menyalip AS dalam ukuran ekonomi pada 2025. Dalam istilah PPP, China akan menjadi ekonomi terbesar di dunia pada 2020.

Pendapat para analis ekonomi terbagi mengenai cara China menuju ke keungulan ekonomi. Beberapa meramalkan tentang bahaya-bahaya tabrakan karena terlalu cepat, sementara lainnya berpendapat bahwa saling ketergantungan dapat memuluskan perjalanan.

Meskipun kebangkitan ekonomi dramatis dan peningkatan bobot keuangan China, hubungan ekonomi keuangan China - AS dapat secara tepat digambarkan sebagai salah satu "salingtergantungan tidak simetris" - di mana Beijing menemukan dirinya dalam posisi "kerentanan tidak simetris" - condong berat terhadap dukungan Washington.

Apa yang Diharapkan

Beberapa faktor dan perkembangan dapat melemahkan pembagiaan penjualan dengan harga yang lebih rendah China.

Beberapa analisis mengantisipasi peningkatan kompetisi geostrategis antara China dan AS. Secara historis, meningkatkan kekuasaan bermanfaat untuk meningkatkan pengaruh mereka, menurut Aaron Friedberg, meningkatkan ketergantungan atas komoditas-komoditas import dapat mengarahkan China untuk mengurangi resiko pasokan dengan mencari "regional dalam jumlah lebih besar," dengan demikian meningkatkan kompetisi strategi antara Beijing dan Washington.

Itu adalah sebuah langkah kecil untuk membangun skenario dimana kompetisi geostrategis mengarahkan ke konflik ekonomi yang membebani pembangunan ekonomi China, seperti yang diramalkan oleh realis hubungan internasional seperti John Mearsheimer. Ahli lain lebih optimis tentang kemungkinan sebuah "pergeseran kekuasaan" secara damai.

David Shambaugh, Robert Sutter dan Bates Gill menafsirkan banyak perilaku internasional Beijing sebagai bukti bahwa China sedang menjadi sebuah "penanggung jawab stakeholder" dalam sebuah sistem internasional yang menawarkan - keuntungan-keuntungan melalui sebuah sistim perdagangan terbuka.

Beberapa analis mengantisipasi ketidakstabilan politik. Kurangnya kharismatik kepemimpinan Mao dan penurunan kekuatan ideologi telah melemahkan fondasi sistim politik China, menurut Roderick MacFarquhar dari Harvard.

Peningkatan aktivisme sosial dapat merongrong aturan partai komunis dan kestabilan rezim. Lagi, dari analisis ini, itu hanyalah sebuah langkah kecil untuk menuju ke sebuah skenario di mana politik yang sedang terbang dan tidak pasti membebani pertumbuhan ekonomi.

Andrew Nathan lebih optimis, mengatakan bahwa pemerintah China telah berulang kali membuktikan kemampuannya untuk merespon tuntutan-tuntutan sosial dan ekonomi yang baru muncul. Kerusuhan sosial lokal ada terjadi, tetapi mengingat kombinasi responsif rezim dan kontrol politik, Andrew Nathan tetap berpendapat bahwa "sebuah percikan tidak akan memulai api di padang rumput luas di China."

Demografis-demografis memastikan bahwa tuntutan reformasi politik akan tetap dihadapi. Sebagai "kelas menengah tidak akan menuntut demokrasi karena mereka takut pada lebih banyak kelas, bahkan petani dan pekerja migran, dan karenanya melihat rezim otoriter sebagai benteng orde untuk melawan kekacauan."

Kurangnya reformasi lebih lanjut mungkin melemahkan pertumbuhan masa depan. Pei Minxin, rekan senior Badan Amal Carnegie, menyarankan bahwa reformasi ekonomi parsial telah menyebabkan munculnya suatu "campuran" sistem negara terpusat yang mengabadikan hak-hak istimewa para elit yang berkuasa. Sistem-sistem ini memungkinkan para elit untuk "membuka sumbat keuntungan-keuntungan efisien dari reformsi terbatas untuk mempertahankan inti yang tidak terekonstruksi dari kepemimpinan ekonomi tua - fondasi ekonomi dari suprimasi politik." Dia menyebut ini seubah "transisi jebakan,"dimana kelompok penguasa mempunyai sedikit intensif untuk mengejar reformasi ekonomi lebih lanjut. 

Akan tetapi, reformasi ekonomi Absen, pertumbuhan ekonominya adalah terikat penurunan. Variasi dalam argumentasi ini telah dikemukakan oleh Woo Wing Thye, profesor ekonomi UC Davis, yang menyarankan tantangan terletak pada mempertahankan pertumbuhan ekonomi sementara ketidaksama-rataan sosial meningkat dan mengakomodasikan peningkatan tuntutan kelas menengah untuk reformasi politik. Optimis, seperti Barry Naughton, menunjuk bahwa pemerintah telah berulang kali membuktikan kemampuannya secara sukses menghadapi tantangan-tantangan ekonomi yang berbeda dan pertumbuhan tetap secara luas dikendalikan oleh ekonomi skala besar dan kekuatan demografis yang secara relatif independen dengan kebijakan pemerintah.

Secara alami, keprihatinan lainnya berkisar dari keberlanjutan lingkungan dan kelangsungan hidup dari investasi berat sekarang, ekspor memimpin pertumbuhan strategi ke politik yang bahkan lebih beresiko. Menurut "bears," semua ini mungkin menciptakan kapasitas resiko-resiko tidak berarti potensial yang mampu melemahkan, atau setidaknya secara signifikan memperlambat pertumbuhan China. Meskipun demikian, singkatnya, sebuah kerusakan yang komplit - dan sepertinya sangat tidak -  sebuah skenario lemah yang masuk akal adalah kemungkinan besar berarti 5 sampai 7 persen pertumbuhan tahunan, daripada gembar-gembor kuat tentang stagnasi ekonomi.

China tidak mungkin terlempar dari jalur seperti halnya ekonomi Soviet dan Jepang dahulu. Struktural, pertumbuhan potensial jangka sedang China, setelah semuanya, adalah signifikan. Berbeda dengan Jepang pada 1980-an, China terletak jauh dari perbatasan teknologi, dan model perkembangannya didasarkan pada tingkat keterbukaan ekonomi yang relatif tinggi, dan tidak seperti Uni Soviet, China lebih cocok untuk menghasilkan total faktor produktivitas dengan mengimport teknologi asing. Oleh karena itu, China akan lebih kemungkinan besar untuk tidak terus meregister setidaknya 8 persen pertumbuhan tahunan selama dekade berikutnya.

Meregangkan Otot Ekonomi

Ukuran peningkatan ekonomi China akan menyediakan Beijing dengan pertumbuhan pengaruh politik, ekonomi dan keuangan. Sementara kemajuan China telah sangat meningkatkan kekuatannya, sejauh ini diterjemahkan ke pengaruh bilateral terbatas berhadap-hadapan dengan AS. Pengaruhi pengungkit ekonomi keuangan China yang paling penting dengan AS adalah ancaman untuk menjual habis $1,4 triliun dalam treasury AS dan utang agensi.

Gerakan semacam ini akan berakibat mahal bagi Beijing, namun, secara ekonomi dan keuangan, seperti kata pepatah, China akan menembak dirinya sendiri. Pertama, nilai holding-holdingnya akan menurun, dan tingkat bunga AS yang lebih tinggi akan timpang dengan harapan pertumbuhan AS, melukai ekspor China. Selanjutnya, kecuali ia bersedia menerima apresiasi renminbi, China akan harus menemukan aset dolar lain untuk diinvestasikan, dimana apresiasi cepat renminbi adalah hampir tidak menjadi perhatian China dalam hal ekspor dan dolar - yang denominasi hutang holding-holding AS. Namun, jika China kembali berinvestasi dalam aset-aset dolar denominasi, ini agaknya akan membantu meringankan kondisi pembiayaan di segmen lain dari sistem keuangan AS, berpotensi mengkompensasi efek negatif tingkat suku bunga lebih tinggi di pasar treasury di dalam ekonomi.

Kedua, jika Beijing membuang bongkahan-bongkahan besar hutang AS, ia mungkin mengganggu pasar-pasar keuangan dalam jangka pendek. Dampak jangka medium kemungkinan akan bisa ditangani, yang mana pembeli asing resmi lainnya dengan hubungan dekat sekuritas dengan AS, termasuk Jepang dan negara-negara Teluk, akan melangkah masuk, sekalipun pada suku bunga yang lebih tinggi.

Terakhir tapi bukan yang paling sedikit, motivasi politik apapun yang membuat aksi menjual hutang AS akan memicu sebuah serangan balasan politik yang parah - dan bukan hanya dari AS - sebagaimana juga meruntuhkan posisi China sebagai sebuah investor keuangan yang handal dan mitra ekonomi.

Secara finansial, ekonomi dan politik, Beijing akan membayar harga tinggi untuk secara signifikan menaikkan biaya-biaya pinjaman AS dan itu akan berakhir dengan membayar dengan harga lebih tinggi daripada Washington - hanya mencerminkan fakta bahwa China jauh lebih tergantung kepada AS daripada sebaliknya. AS telah mengakses ke basis investor yang lebih diversifikasi, dengan mempertahankan hubungan dekat politik. Secara substansial, pasar AS adalah lebih penting bagi China dalam hal ekspor dan impor daripada sebaliknya - dan sektor ekspor China adalah relatif lebih padat tenaga kerja.

Kepemilikan China atas hutang AS tidak meminjamkan diri mereka sendiri sebagai sebuah instrumen paksaan dan barangkali lebih baik dianggap sebagai alat penangkis terbatas. Kenaikan melalui lintas kepemilikan aset dan perdagangan telah meningkatkan interdependensi, meningkatkan biaya konflik ekonomi baik bagi China maupun AS. Meskipun demikian, biaya potensial konflik karena ketergantungan perdagangan China secara substansial lebih tinggi bagi Beijing daripada Washington.

Namun, jika dan ketika China mengurangi ketergantungan ekspornya terhadap pasar AS, relatif terhadap ketergantungan AS pada pasar China, dan jika dan ketika mengadopsi sebuah substansial pertukaran kurs rezim yang fleksibel, keseimbangan kekuatan ekonomi dan keuangan akan bergeser secara dramatis dengan dukungan Beijing. Sampai kemudian, Beijing memiliki kepentingan yang jauh lebih besar dalam mencegah sebuah konflik ekonomi-keuangan yang lebih besar antara Tiongkok-AS dibandingkan Washington.  (EpochTimes/khl)

Markus Jaeger adalah direktur di Deutsche Bank Research, New York. Dengan izin dari YaleGlobal Online. Copyright (c) 2010, Yale Center untuk Study of Globalization, Yale University.