| China Penyandang Dana Terbesar untuk Bendungan |
| Ditulis oleh Oleh: Sonya Bryskine | Kamis, 12 Agustus 2010 |
|
Sebuah laporan baru yang dikeluarkan oleh Survival International menyebut kerusakan serius telah menggarisbawahi nasib suku-suku asli di Afrika, Asia dan Amerika Selatan yang menghadapi kehancuran habitat mereka, dengan lebih banyak dibangunnya bendungan untuk panen listrik tenaga air "energi hijau." Laporan itu menyebutkan China sebagai investor paling aktif dalam proyek-proyek jutaan dolar, menggantikan Bank Dunia yang sebelumnya merupakan sponsor terbesar. Pemerintah China telah mendanai sebagian besar pembangunan bendungan di China, yang mencapai sekitar setengah dari total keseluruhan, kata laporan itu. Korporasi Proyek Tiga Ngarai China, pembangun dari Bendungan Tiga Ngarai yang kontroversial yang menggusur lebih dari satu juta orang dari sekitar Sungai Yangtze, sekarang telah dikontrak untuk membangun sebuah bendungan di tanah suku Penan di Sarawak, Afrika. Selain itu, bank pemerintah terbesar di China, Bank Industri dan Komersial China, sedang mempertimbangkan dana Gibe III di Ethiopia, yang akan menjadi bendungan Afrika tertinggi dan akan menghancurkan kehidupan setidaknya delapan suku, menurut laporan itu. Bencana Tiga NgaraiDi China sendiri, Bendungan Tiga Ngari telah membawa kehancuran yang sangat besar. Dianggap sebagai sumber listrik tenaga air terbesar di dunia, itu juga telah membuat banyak rekor kurang menarik lainnya. Proyek besar mencatat rekor jumlah orang yang dipindahkan (lebih dari 1,2 juta), jumlah kota besar dan kota kecil ditenggelamkan (13 kota besar, 140 kota kecil, 1.350 desa), dan panjang reservoir (lebih dari 600 kilometer). Menurut kelompok konservasi Rivers International dampak lingkungan dari proyek ini amat sangat besar, dan cenderung memburuk dari waktu ke waktu. Penenggelaman dari ratusan pabrik, tambang dan tempat pembuangan sampah, dan keberadaan pusat industri besar hulu menciptakan sebuah rawa-rawa busuk efluen, debu, polusi industri dan sampah dalam reservoir, menurut situs Rivers International. Erosi dari waduk dan hilir sungai menyebabkan tanah longsor, dan mengancam salah satu dari perikanan terbesar di dunia di Laut Timur China. Baru-baru ini banjir parah di China selatan telah mempertanyakan kontrol banjir dan fungsi Tiga Ngarai lainnya - proyek kontrol air China paling ambisius, paling mahal dan kontroversial. Pada 20 Juli Sungai Yangtze meluap ke puncak tertinggi sejak selesainya bendungan. Air mengalir ke bendungan sebanyak 70.000 meter kubik per detik. Sembilan saluran bendungan itu dibuka untuk mengalirkan banjir dari hulu hingga hilir bendungan. Salah satu fungsi bendungan adalah pengendali banjir, yang banyak dipertanyakan setelah banjir melanda China. Setidaknya 701 orang tewas dan 347 masih hilang di China selatan, menurut laporan resmi. Ribuan MenderitaKonstruksi bendungan global mencapai puncaknya pada tahun 1970-an, ketika bendungan besar dibangun dengan laju sekitar seribu setahun, menurut Komisi Dunia untuk Bendungan. Angka-angka ini menurun pada 1990-an dengan munculnya informasi akan buruknya konstruksi proyek dan pengaruh bendungan yang sangat buruk terhadap lingkungan. Sekarang, selubung kekuatiran telah dikesampingkan lagi dan konstruksi bendungan mulai buming. Saat ini Bank Dunia sendiri sedang mengucurkan dana US $ 11 miliar dalam 211 proyek-proyek tenaga air di seluruh dunia - meningkat lebih dari 50 persen dari angka pada tahun 1997. Laporan Kerusakan Serius terbaru memperkirakan bahwa sedikitnya 300.000 orang akan terdorong menuju kehancuran ekonomi dan budaya, dan dalam kasus beberapa suku Brasil yang lebih kecil, akan punah. Bendungan membanjiri wilayah daratan luas dekat sungai di mana mereka dibangun. Banjir menghancurkan habitat asli, tanaman dan rumah-rumah di mana orang-orang pribumi bergantung untuk bertahan hidup. Satu suku Amazon, Enawene Nawe, tahu bahwa pemerintah Brasil merencanakan untuk membangun 29 bendungan di sungai tersebut. Di seberang Amazon, lima wilayah suku terasing akan terpengaruh, kata laporan Survival. Suku Penan di Sarawak menghadapi penggusuran guna membuat jalan bagi bendungan, dan suku-suku di Ethiopia akan terpaksa bergantung pada bantuan makanan jika bendungan yang sedang dibangun di sungai terkenal Omo, tidak dihentikan. Seseorang dari suku Kwegu Lembah Omo, dikutip dalam laporan mengatakan: "Tanah kami telah menjadi buruk. Mereka ketat menutup aliran air dan sekarang kami kelaparan. Bukalah bendungan dan biarkan air mengalir." (EpochTimes/ray) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!


- Penampakan UFO di Thames Estuary
- Tahanan Falun Gong Diambang Kematian
- Berlian Dibalik Kabut Percandian Muarajambi
- Rudal AS Tewaskan Tokoh al-Qaeda Pakistan
- Tentara Suriah Lancarkan Serangan Besar-besaran
- Kisah Sebatang Gandum
- Risiko Lahirkan Bayi Cacat Bagi Ibu Diabetes
- Mengatasi Polusi Timbal dengan Jamur
- Video Kekerasan ABG di Bali Banjir Kecaman
- Misteri Piramida di Gunung Sadahurip
- Badai Matahari Lenyapkan Elektron Dalam Sabuk Radiasi Bumi (Video)
- Hanya Sebulan 50 Bencana Menimpa Indonesia
- Cerita Tentang Einstein
- Astronom Temukan Planet Layak Huni
- Dibalik Rahasia Orang Sukses
- Udumbara Bunga Surgawi

China adalah penyandang dana terbesar di dunia dan pembangun bendungan-bendungan besar, yang memanen pembangkit listrik tenaga air tetapi juga menghancurkan ratusan komunitas penduduk pribumi di seluruh dunia.





Mozilla Firefox
Comments
tetap terbelakang & gelap
atau
mendapat listrik??
RSS feed for comments to this post.