Era Baru News >> Opini >> Opini >> Investasi Tanpa Syarat di China Telah Berakhir
Investasi Tanpa Syarat di China Telah Berakhir
Ditulis oleh Oleh: He Qinglian Selasa, 24 Agustus 2010

Perusahaan Dipaksa Menyerahkan Teknologi dan Menerima Mitra China

Para pengusaha asing di China sekarang ini hidup dalam ketakutan. Perusahaan-perusahaan lainnya puas dengan diri mereka sendiri dengan mengamati dan menunggu Google dan rezim China yang berhadap-hadapan, dengan asumsi Google memiliki pengaruh yang berlebihan.

Jika dulu pengusaha-pengusaha Barat menyeringai pada keadaan sulit Google, penerbitan dari "Beberapa Pendapat Dewan Negara atas Tindakan Bagus Lebih Lanjut dalam Pemanfaatan Penanaman Modal Asing" rezim China telah mengusap habis seringai itu dari wajah kolektif mereka. Inti dari artikel itu: "Masa prioritas diberikannya investasi asing tanpa syarat di China" telah berakhir sekarang.

Pendapat-pendapat Berbeda

Beberapa investor asing masih bermimpi tentang hak istimewa tahun-tahun kemarin, berharap para pejabat China akan mendengarkan dan mempertimbangkan kembali. Kali ini mereka menayangkan ketidakpuasan mereka secara terbuka, bukannya beralih melobi pribadi.

Kamar Dagang Amerika dan Kamar Dagang Uni Eropa di China telah mempublikasikan laporan. Laporan-laporan ini menunjukkan keprihatinan mendalam dari komunitas bisnis Eropa dan Amerika atas kebijakan proteksionis China.

Pada 7 Juli, The World Bank Group menerbitkan laporan 2010 "Investing Across Borders," memasukkan China dalam daftar salah satu negara dengan limit terbesar untuk investasi asing. Pada pertengahan Juli, sejumlah perusahaan internasional mengkritik di depan umum iklim komersial China dalam sebuah pertemuan dengan Perdana Menteri Wen Jiabao. Perusahaan-perusahaan itu termasuk Siemens dan BASF.

Ketidakpuasan kepala perusahaan-perusahaan asing itu jatuh pada tiga bagian.

Pertama, kekayaan intelektual mereka tidak terlindungi. Peraturan-peraturan baru memaksa perusahaan asing untuk menyerahkan rahasia-rahasia dagang dan teknologi-teknologi baru mereka kepada mitra China mereka sebagai pertukaran untuk pangsa pasar.

Kedua, perusahaan investasi asing, tidak seperti rekan-rekan China mereka, adalah tidak diperlakukan sama di penawaran-penawaran negara.

Ketiga, China mempunyai banyak peraturan bagi pemberlakuan merger dan akuisisi. Perusahaan asing diwajibkan untuk bermitra dengan para pebisnis China, dan pembagian haruslah 50-50.

Pejabat-pejabat China, dipimpin oleh Perdana Menteri Wen Jiabao, telah membantah hambatan-hambatan ini. Liu Yajun, direktur Departemen Administrasi Investasi Asing di Departemen Perdagangan China, menolak temuan-temuan Bank Dunia itu pada sebuah konferensi pers.

Menteri Perdagangan Chen Deming mengatakan kepada Finansial Times yang berbasis di Inggris bahwa China berulang kali menurunkan hambatan-hambatan masuk bagi perusahaan asing sejak China bergabung dengan WTO,  dan banyak perusahaan internasional yang sangat terpengaruh oleh krisis keuangan global telah menemukan sumber pendapatan baru di China.

Mengapa Mereka Belum Pergi

Meskipun posisi Beijing jelas, dan perusahaan-perusahaan asing telah mengancam untuk pergi, sangat sedikit yang benar-benar melakukannya. Mengapa?

Satu-satunya alasan paling penting adalah bahwa perusahaan-perusahaan asing itu telah menghabiskan uang dalam jumlah besar untuk mengembangkan bisnis di China dan sekarang sudah memasuki fase "panen."

Google, Goldman Sachs, dan General Electric (GE) pantas disimak. Mereka adalah tipikal perusahaan-perusahaan raksasa di IT, keuangan, dan bidang industri. Google, yang menarik diri dari pasar China setelah sebuah sengketa high profile dengan rezim China, pada akhirnya kembali karena takut kehilangan pasar yang sudah dirintisnya dengan hati-hati itu.

Goldman Sachs selalu merendahkan diri menjilat Partai Komunis China (PKC). Ia  tetap diam dalam menghadapi tuduhan media China "menghisap emas dan perak dari pasar China."

Meskipun Chairman dan CEO GE, Jeff Immelt mengkritik kebijakan China pada perusahaan-perusahaan asing, GE tidak menunjukkan tanda-tanda menarik diri dari China. Saat ini perusahaan mempekerjakan sekitar 13.000 pekerja di sana, termasuk lebih dari 2.000 insinyur yang terlibat dalam penelitian lingkungan dan medis. Kebanyakan dari penelitian mereka adalah diarahkan ke pasar China.

Pendapatan perusahaan itu di China tahun lalu melebihi US $ 6 miliar. Untuk menjadi "orang asing yang ramah," GE mensponsori Olimpiade Beijing US $ 70 juta untuk memainkan sebuah lagu dan juga salah satu sponsor terbesar di Pavilion AS di Shanghai World Expo. Jika GE menarik diri dari pasar China sekarang, semua upaya sebelumnya akan sia-sia.

Kekayaan Intelektual

Isu-isu kekayaan intelektual benar-benar menguji perusahaan-perusahaan asing. Tujuan China adalah selalu dengan mempertukarkan sebuah pangsa pasar untuk teknologi, berharap untuk "mempelajari teknologi asing yang maju" melalui perusahaan patungan.

Sejumlah besar tuntutan hukum kekayaan intelektual menunjukkan bahwa "pembelajaran" seperti itu lebih banyak dilakukan secara ilegal. Dengan perusahaan-perusahaan asing menjadi semakin pintar, pelanggaran hak kekayaan intelektual seperti ini telah menjadi lebih sulit.

Di mata masyarakat internasional, kekayaan intelektual merupakan sebuah produk dari investasi raksasa R&D; monopoli berikutnya atas teknologi harus dilindungi oleh hukum. Kebijakan-kebijakan seperti ini mendorong inovasi dan melindungi perkembangan baru. Kurangnya perlindungan kekayaan intelektual pasti mengarah ke persaingan yang tidak sehat.

Di sisi lain, pihak China tetap menganggap perlindungan terhadap kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan asing sebagai sebuah bentuk monopoli berhati dengki.

Untuk memfasilitasi transformasi struktur ekonomi dalam negeri, China sekarang telah secara sistematis mengubah peraturan-peraturan komersialnya, memaksa perusahaan asing untuk mengungkapkan rahasia-rahasia dagang dan teknologi mereka. Sebagai gantinya, perusahaan asing diperbolehkan untuk mengakses pasar China.

Ini adalah cara untuk "melegalkan" apa yang di masa lalu merupakan pelanggaran terhadap hak-hak kekayaan intelektual. Perusahaan asing mempunyai dua pilihan: Menyerah pada tekanan, atau meninggalkan China.

Senjata Terakhir

Senjata terakhir perusahaan-perusahaan asing adalah dengan menyatakan bahwa mereka akan menolak untuk melobi pemerintah mereka sendiri atas nama China, yang dapat menyebabkan kemunduran hubungan diplomatik antara Sino - AS, dan Sino - Uni Eropa.

Perusahaan-perusahaan asing telah bertindak sebagai mata rantai politik yang penting antara rezim China dan masyarakat internasional, misalnya, Amerika Serikat. Banyak perusahaan internasional telah menghabiskan sejumlah besar untuk melobi Gedung Putih dan Kongres untuk mendapatkan dan melindungi investasi mereka di China.

Para pengusaha Amerika telah melobi Kongres untuk mengabaikan catatan suram hak asasi manusia di China dan politik kediktatoran, mengklaim bahwa pembangunan ekonomi akan memicu reformasi politik di China dan bahwa Internet akan membawa kebebasan pers.

Lobi-lobi seperti ini telah sangat menguntungkan rezim komunis China. Artikel Foreign Policy yang diterbitkan pada 20 Juli 2010 dengan judul "Kematian Lobi China?" mengekspresikan pandangan bahwa jika perusahaan-perusahaan multi-miliar seperti Google, GE, dan Goldman Sachs berhenti melobi untuk China, proteksionisme perdagangan dalam negeri akan naik ke Washington.

China tidak bereaksi terhadap kemungkinan serangan balasan ini. Beijing banyak akal dalam berurusan dengan peruahaan-perusahaan asing: Ia telah menguasai seni memecah belah dan menaklukkan dan dapat terus menggantung wortel dari pasar China di depan hidung-hidung mereka. Organisasi-organisasi ini tidak akan membentuk serikat buruh untuk bernegosiasi dengan Beijing sebagai kelompok, ataupun mundur. Selama mereka tinggal di pasar China, mereka akan melobi bagi pemerintah China pada saat-saat kritis.

Di China, dimana kekuasaan adalah segalanya, setiap lembaga harus menjilat pada pihak penguasa. Perusahaan domestik China adalah "telur-telur rapuh sebelum China goyah." Pasukan utama perusahaan-perusahaan internasional Panda yang bersahabat hanyalah lebih kuat sedikit dibandingkan dengan telur-telur itu, dan hasilnya akan menyakitkan bila hal-hal tidak berjalan baik bagi mereka.

Saya ingin tahu apakah perusahaan-perusahaan internasional telah merenungkan ini: Ketika mereka meyakinkan pemerintah mereka untuk tidak mengkritik hak-hak asasi manusia China dan memuliakan Naga China, mereka benar-benar membuka jalan bagi pemulihan mereka sendiri sekarang. (EpchTimes/khl)

He Qinglian adalah seorang ekonom China terkenal, penulis, dan komentator, dan penulis Kabut Sensor: Kontrol Media di China.

 

Comments  

 
0 # yu 2010-08-30 01:10
smoga Indonesia bisa lebih banyak meniru sikap China yang mau belajar & menyerap ilmu dari para investor sehingga tidak hanya menjadi objek saja
Reply | Reply with quote | Quote