American Academy of Pediatrics mengeritik media modern dalam penggambaran seks remaja
Pekan lalu, American Academy of Pediatrics (AAP) membuat berita dengan merilis sebuah pernyataan yang mengeritik kebijakan media modern dalam penggambaran seks remaja, dan dampaknya terhadap para remaja.
Laporan itu, berjudul "Seksualitas, Kontrasepsi dan Media," adalah revisi dari pernyataan sebelumnya yang dirilis pada Januari 2001, dengan nama yang sama, yang ditulis oleh Victor C. Strasburger, MD, dan Dewan Komunikasi dan Media.
"Ada ketidakcocokan besar antara apa yang digambarkan oleh media utama, seks sepintas lalu dan seksualitas tanpa konsekuensi, dan apa yang dibutuhkan oleh anak-anak dan remaja," tulis ringkasan laporan itu.
Ia menambahkan bahwa apa yang remaja butuhkan adalah "informasi langsung tentang seksualitas manusia dan kebutuhan akan kontrasepsi ketika berhubungan seks."
Untuk perspektif, sebuah laporan dari Nielsen Ratings Desember lalu menunjukkan bahwa anak-anak antara usia 2 dan 11 rata-rata terpaku 25 jam per minggu di depan televisi.
Bagian terakhir dari kesimpulan AAP di atas sedikit pendek, dan tampaknya mewujudkan sebuah garis pembatas pada usia sikap tidak menghakimi dan kebenaran politik.
Budaya kita, melalui televisi arus utama, film dan media hiburan, lebih sering menayangkan daripada mengurangi tentang seks sebagai aspek fisik, meremehkan konsekuensi bermoral, perilaku merusak, dan terkesan bagi anak-anak kita bahwa nilai-nilai ini tidak hanya diterima, tapi sudah biasa,
Saya mengantisipasi beberapa reaksi, hanya melihat kata-kata yang tidak bermoral. Mereka akan memuji perkembangan masyarakat selama 60 tahun terakhir ditambah tahun-tahun ke depan, seks bebas dan masyarakat terbuka.
Tapi saya pikir ini sudah waktunya untuk memberikan anak-anak kita dan diri kita sendiri lebih banyak pilihan. Saya bosan dengan reality show yang menunjukkan nilai-nilai yang menghubungkan sindiran-sindiran seksual dalam hiburan anak-anak, dan kekejaman dan kevulgaran secara umum. Saya mendapati diri saya memohon-mohon hal-hal baik dalam kehidupan.
Mengapa tidak menggambarkan sitkom komedi keluarga yang mengajarkan anak-anak menahan diri dan nafsu?
Menampilkan kita pasangan muda yang membahas tentang menghormati kesatuan antara suami dan istri, memandang seks sebagai penyempurnaan perkawinan, tentang cinta abadi, dan komitmen.
Mempertunjukkan kepada kita harga-harga dari seks dan pengkhianatan, laki-laki dan wanita yang menyesal, dan kemudian dalam kehidupan mereka memahami bagaimana keegoisan dapat merusak kehidupan orang lain. Menceritakan kisah tentang seorang wanita yang menjaga diri untuk suaminya, dan laki-laki yang hatinya hanya mengenal cinta kepada pengantinnya saja, bahkan di ulang tahun pernikahan mereka yang ke 50.
Cerita-cerita ini memang ada, saya telah bertemu orang-orang seperti ini, dan saya sendiri mempelajari nilai-nilai berharga dari ini di kemudian hari. Saya telah belajar apa artinya bagi seorang pria untuk memberikan hati, jiwa dan raga pada istrinya; untuk selalu ada dalam pikiran dan perbuatan dan menerima yang sama sebagai balasannya.
Bagi banyak orang yang memilih untuk menjalani hidup dengan cara ini, mungkin tidak mudah, tetapi mereka tetap melakukannya, atau belajar ada cara yang lebih baik setelah melukai diri mereka sendiri. Mari kita mengajar anak-anak kita lebih dari ini, dan menekankan apa yang baik. Sudah waktunya kita sebagai suatu budaya memutuskan untuk mengubah sudut, dan menempatkan nilai lebih dan lebih pada sifat-sifat mulia manusia kita ini.
Jika ini adalah cara yang kita putuskan untuk dijalankan, budaya kita akan berubah, dan saya percaya anak-anak kita akan berterima kasih dan menghormati kita untuk itu. Mari beri mereka pilihan, dan tunjukkan jalan lain. Cara yang banyak dari kita telah dilupakan.
Paling tidak, mari kita wakili nilai-nilai ini dengan memberikan kedudukan yang setara dalam masyarakat kita, dan mengingatkan anak-anak kita akan nilai menahan diri dan berbakti.
Dalam merefleksikan aspek ini dalam budaya modern kita, saya teringat pada kata-kata Marcus Aurelius: "Kebahagian hidup Anda tergantung pada kualitas pikiranmu: karena itu, berhati-hatilah, dan jagalah dengan baik, dimana kamu tidak mempunyai konsep-konsep yang tidak sesuai dengan kebajikan, dan perilaku yang wajar." (EpochTimes/khl)