Era Baru News >> Opini >> Opini >> Ancaman Tentara Patriotik Hacker China
Ancaman Tentara Patriotik Hacker China
Ditulis oleh Cha Si Rabu, 31 Agustus 2011

alt

Pada bulan Juni, banyak laporan berita yang menceritakan tentang peningkatan konfrontasi antara China dan Vietnam atas kedaulatan beberapa pulau di Laut China Selatan, tapi mereka melewatkan sebuah perang tanpa asap senapan yang pecah di antara kedua negara.

Perang itu terjadi di dunia maya, dan tentara-tentaranya adalah para hacker dari kedua negara. Tujuannya? Untuk meng-hack situs-situs negara lawan.

Hacker China menyebutnya sebagai "serangan membela diri." Mereka menjadi sangat marah setelah media China melaporkan bahwa hacker Vietnam telah menyusup ke sebuah website China pada 2 Juni dan mem-posting pesan-pesan provokatif seperti “Orang-orang Vietnam bersedia untuk berkorban demi melindungi laut, langit, dan negara!”

Patriotisme para hacker China telah dikobarkan oleh kecaman berulang media terhadap Vietnam karena “menduduki pulau-pulau China,”  mengobarkan invasi cyber orang-orang Vietnam. Pada 4 dan 5 Juni, mereka memperjuangkan sebuah “perang suci” untuk balas dendam.

Posting di situs internet China menyerukan kepada para netizen patriotik untuk bergabung dalam perang ini. “Tidak apa-apa, bahkan jika kamu tidak tahu teknologi [hacking]. Kami akan menyediakan tutorial dan tool seragam,” kata posting di sebuah web, bersama dengan sebuah ruang konferensi online bagi orang-orang untuk bergabung.

Para hacker China mengaku meraih kemenangan besar atas Vietnam. Lebih dari 1.000 situs Vietnam dilumpuhkan. The Honker Union of China (H.U.C.), salah satu kelompok hacker yang paling bergengsi di China, mengumumkan bahwa mereka telah melumpuhkan mesin pencari terbesar Vietnam selama lebih dari 12 jam.
 
Perang Dengan AS

Seiring dengan demonstrasi superioritas teknis para hacker China atas Vietnam, perang ini juga menunjukkan patriotisme mereka yang kuat.

Ini bukan perang patriotik pertama yang telah diperjuangkan oleh para hacker China. Dari 1998 sampai 2001, mereka telah memerangi beberapa perang dengan para hacker AS. Yang paling terkenal adalah perang hacker Mei 2001.

Pada 1 April 2001, sebuah jet tempur China bertabrakan dengan pesawat pengintai AS di atas Laut China Selatan. China mengklaim bahwa PoizonBox, organisasi hacker AS terus menyerang situs China setelah 4 April.

Mengatakan demi untuk melindungi China, HUC mengorganisir para hacker China untuk sebuah serangan membela diri yang menargetkan website-website AS, dimulai pada 1 Mei. Para hacker AS juga melawan balik. Perang itu berlangsung selama tujuh hari sampai HUC mengumumkan untuk dihentikan pada 8 Mei.

Hacker China menggunakan taktik-taktik gelombang manusia untuk melumpuhkan situs Gedung Putih dari jam 9 sampai jam 11 pagi. Pada 4 Mei, para hacker China memperkirakan selama perang, tiga website China ditutup untuk setiap website AS yang ditutup, refleksi dari keunggulan teknologi yang dimiliki oleh Amerika Serikat pada tahun 2001.

China memuji HUC dan pemimpinnya LION sebagai pahlawan. Menurut ensiklopedia dari mesin pencari Baidu, HUC adalah “terbentuk pada tahun 2000 oleh hacker legendaris LION.” “Pada puncaknya, ia mempunyai lebih dari 80.000 anggota dan peringkat kelima di dunia. Aksinya yang paling terkenal adalah serangan Denial of Service (DoS, atau DDOS untuk Distributed Denial of Service) ke Gedung Putih pada tahun 2001.”

Keterlibatan Militer China

Zhang Zhaozhong, direktur Kantor Penelitian dan Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Militer di Universitas Pertahanan Nasional, memuji hacker China ini dalam sebuah wawancara dengan People's Daily: “Hacker China telah menunjukkan kehebohan mereka [tentang hegemoni AS] dan mempertunjukkan pendirian kuat mereka terhadap misi, tanggung jawab, dan patriotisme. Motivasi mereka haruslah dilindungi dan dipuji...”

Militer tidak hanya memuji para hacker, tetapi juga aktif – termasuk para hacker – dalam strategi perang cyber secara keseluruhan. China telah mengakui pentingnya perang cyber selama lebih dari satu dekade. Banyak publikasi militer China berulang kali mengutip sebuah studi RAND Corporation yang mengatakan bahwa perang strategis dalam era industri adalah perang nuklir, sementara di era informasi adalah perang cyber.

Untuk memenangkan perang cyber, selain untuk memajukan teknologi komputasi sendiri. China telah mengadopsi “taktik gelombang manusia”, yang mana telah digunakan dalam Perang Korea melawan Amerika Serikat.

Doktrin perang ini memanfaatkan, dan mengorbankan sejumlah besar orang dalam pertempuran untuk menebus kerugian teknis dan militer. Penerapan taktik perang cyber mengharuskan pembangunan basis raksasa sumber daya serangan cyber, termasuk staf militer, hacker, perusahaan swasta, dan netizen China. Ikatan di antara mereka semua? Patriotisme.

Militer China telah lama memandang para hacker sebagai komponen penting di medan perangnya. Zhang Zhaozhong berpendapat, “Memanfaatkan [hacker] sampai maksimal dan menggabungkan kekuatan resmi dan bawah tanah bersama-sama dengan cepat akan meningkatkan tingkat keamanan informasi bangsa kita.”

Banyak artikel militer China telah mengutip contoh-contoh yang menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah secara aktif merekrut hacker ke Command Cyber dan menyarankan China harus mengikutinya.

altDan Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) yang melakukannya. Alan Paller, spesialis komputer, bersaksi ke Senat AS Komite Keamanan Dalam Negeri dan Urusan Pemerintah pada tanggal 29 April bahwa militer China pada tahun 2005 merekrut Dailin Tan, seorang mahasiswa pascasarjana di Universitas Sichuan, setelah dia memenangkan kontes hacker tahunan.

Militer menempatkan Tan melalui workshop 30 hari, 16 jam perhari “dimana ia belajar untuk benar-benar mengembangkan serangan-serangan high-end dan mengasah keterampilannya.” “Pada Desember, dia ditemukan di dalam komputer [Departemen Pertahanan], di dalam komputer-komputer DoD.”

CNN juga melaporkan bahwa sebuah perusahaan hacker, yang berbasis di Zhoushan, sebuah pulau dekat Shanghai, menerima dana dari militer China.

Metropolitan Nanfang Weekly, penerbit China yang berbasis di Guangzhou, menyebutkan seorang hacker tingkat junior bernama Renil ditangkap dan ditahan selama lebih dari sebulan karena meng-hacking beberapa website Biro Keamanan Publik.

Setelah dibebaskan, ia bekerja di siang hari sebagai pengecat jembatan, menghasilkan 60 yuan (9,37 dolar AS) per hari. Dan di malam harinya ia melumpuhkan website-website asing dan dibayar 1,5 yuan untuk setiap situs yang ia hack. Dia menghasilkan 200 yuan (31,23 dolar AS) satu malam. Artikel itu tidak menyebutkan siapa penyandang dana hacking. Tetapi siapa yang memiliki kantong yang begitu dalam dan keinginan untuk melakukannya?

Karena para hacker penting bagi strategi perang cyber TPR, industri-industri hacker diperbolehkan eksis di China. The National Computer Network Emergency Response Technical Team/Coordination Center of China (CNCERT/CC) memperkirakan “industri hacker” China memiliki lebih dari 238 juta yuan (US$36 juta) pendapatan pada 2009. Bahkan situs-situs pelatihan hacker adalah hal yang umum.

Bahaya Ganda

Hacking, seperti namanya, adalah tidak bermoral. Tapi para hacker China membenarkan diri mereka sendiri atas dasar “patriotisme.”

Situs HUC mengklaim sebagai “organisasi patriotik non-pemerintah.” Dikatakan, “Semua kata-kata dan tindakan kita adalah didasarkan pada patriotisme dan menjaga martabat China. Suara dan tindakan kita adalah manifestasi dari integritas nasional China.”

Di homepage Hacker Union of China, kelompok hacker bergengsi China lainnya, menampilkan slogan merah: “Mengamankan Martabat Bangsa; Mencintai China kami; Memperkuat China kami; dan Memuliakan China kami.”

Patriotisme adalah bentuk kebanggaan terkenal yang rentan terhadap penghinaan, baik yang nyata maupun imaginasi. Hacker China pada waktu itu telah cepat marah.

Pada Maret 2008, media China dipenuhi dengan cerita-cerita yang mengklaim bahwa CNN telah menayangkan laporan-laporan desas-desus jahat tentang penindasan China terhadap orang-orang Tibet. Hal itu membuat murka orang-orang China. Hacker China mengorganisir sebuah serangan DDOS ke CNN.com dimulai pada 19 April 2008, dan melumpuhkannya selama beberapa hari.

Setelah fans China Super Junior, grup pop dari Korea Selatan, bentrok dengan polisi bersenjata China di Shanghai, lebih dari 100.000 netizen China berpartisipasi dalam “Perang Suci 9 Juni.” Situs-situs pemerintah Korea Selatan, situs perusahaan, dan situs China yang berhubungan dengan Korea Selatan diserang. Meskipun sebenarnya konflik yang terjadi adalah antara fans China dan polisi bersenjata China, para mahasiswa tetap menyebut serangan itu sebagai “peristiwa patriotik.”

Ada juga banyak kegiatan hacking yang tidak dapat dikonfirmasi asal-usulnya tapi dicurigai berasal dari China.

Pada bulan Mei, Boxun.com, situs hak asasi manusia yang berbasis di AS lumpuh selama beberapa hari karena serangan DDOS setelah artikel di situs itu menyerukan Revolusi Jasmin di China dan mengeluarkan daftar waktu dan lokasi di berbagai kota di China untuk mengadakan protes. Change.org, yang menjadi tuan rumah petisi dengan lebih dari 100.000 tanda tangan bagi kebebasan aktivis Ai Weiwei, juga dilumpuhkan.

Awal bulan ini, perusahaan keamanan internet McAfee melaporkan tindakan hacking terbesar dalam sejarah. Apa yang disebut McAfee sebagai “Operation Shady Rat” diyakini dilakukan oleh para ahli yang berasal dari China dan memiliki 72 target, termasuk para pemerintahan, organisasi, dan perusahaan. Operasi hacking itu dimulai pada bulan July 2006 dan berlangsung selama beberapa tahun.

Beberapa ahli percaya bahwa China telah melampaui Amerika Serikat dalam lomba perang cyber.

Dulu nasionalisme ekstrem  adalah bahaya besar di abad 20, dan cyberhacking merupakan bahaya besar di abad ke-21. Sebagaimana rezim China mengembangkan “patriotisme” tentara hacker-nya, mungkin masyarakat internasional harus mengkhawatirkan bahaya yang menumpuk di atas bahaya dimana para hacker China terus menjelajahi perdagangan mereka. (EpochTimes/khl)