|

Southern Weekend, surat kabar mingguan berbasis di Guangzhou baru-baru ini menerbitkan sebuah artikel berjudul “'Penyakit Mental Politik' Menunjukkan Lingkungan Keras Politik di China.” Poin utama dalam artikel ini adalah bahwa tekanan mental yang besar pada pejabat pemerintah China adalah sedang mengarah ke penyakit mental yang meluas di kalangan para pejabat.
Masalah ini sangat serius bagi para pejabat di posisi yang berkaitan dengan relokasi dan pembongkaran, kantor polisi, dan lembaga pengawasan lainnya. Para pejabat secara luas terkena sisi gelap masyarakat, yang mengarah ke kondisi kesehatan mental yang ekstrim parah.
Pada 30 Mei 2010, Outlook Weekly, majalah yang dikelola negara menerbitkan sebuah artikel berjudul “Penelitian Menunjukkan Lebih Dari 100 Juta Orang Menderita Penyakit Mental di China, Dengan 16 Juta Kasus Berat.”
Artikel ini diterbitkan segera setelah Foxconn mengumumkan bahwa mereka yang melakukan bunuh diri di pabrik Foxconn di China menderita penyakit mental. Artikel ini membicarakan tentang jenis penyakit mental yang diderita oleh orang-orang di China dan penyebabnya. Melihat pada artikel Southern Weekend dan Outlook Mingguan secara bersamaan, orang dapat melihat fakta-fakta.
Pertama, jumlah orang di China yang didiagnosis berpenyakit mental adalah pada rekor tinggi, dinilai dengan pengukuran apapun. Menurut statistik resmi, ada 1,4 miliar orang di China. Lebih dari 100 juta menderita penyakit mental, yang mana adalah 1 / 14 atau lebih besar dari total populasi. Tidak ada negara lain di dunia yang mendekati ke angka ini dalam 100 tahun terakhir.
Kedua, anggota dari semua kelas sosial di China bisa menderita penyakit mental. Artikel Southern Weekend menunjukkan bahwa para pejabat menderita penyakit mental akibat masalah-masalah dengan lingkungan politik.
Artikel Outlook Weekly terutama berkonsentrasi pada kelas bawah. Artikel itu mengatakan: "Karena biaya medis yang tinggi, dikombinasikan dengan penurunan selama bertahun-tahun atau dekade, banyak keluarga tidak memiliki sisa uang. Bahkan orang-orang yang terlindungi tidak mampu membayar biaya untuk masuk rumah sakit dan biaya tambahan, tapi kebanyakan bahkan tidak memiliki perlindungan.” Ini secara dasar diterjemahkan ke dalam tren baru di China: Menjadi miskin sama dengan memiliki penyakit mental.
Dua artikel itu menunjukkan sebuah masalah umum: Tekanan besar selama transisi menyebabkan tekanan sosial. Tekanan pada kaum miskin datang dari kebutuhan hidup dasar, seperti pekerjaan, biaya hidup, biaya medis, pendidikan, dan biaya dari berbagai bentuk perlakuan tidak adil.
Tekanan pada para pejabat berasal dari keabnormalan di dalam partai politik. Pejabat menyuap satu sama lain untuk dipromosikan; keberhasilan politik bergantung pada koneksi, bukan kinerja. Nilai-nilai pejabat yang terdistorsi. Mereka tidak diperbolehkan untuk bertindak di luar dari hati nurani dan moralitas melainkan harus melindungi kepentingan Partai Komunis China (PKC) dan memelintir diri mereka sendiri untuk beradaptasi dengan sistem yang korup.
Misalnya, pejabat yang terlibat dalam relokasi dan pembongkaran harus memiliki hati sedingin baja. Mereka tidak bisa merasakan kesedihan karena melempar orang keluar dari rumah mereka dan harus memandang orang yang bunuh diri sebagai "menghalangi perintah resmi."
Situasi di departemen lain hampir sama. Kantor permohonan harus menghadapi aliran tak berujung pemohon penderita ketidakadilan. Departemen pengawasan harus mengabaikan tindakan korup pejabat sehari-hari. Para anggota departemen akuntansi harus menutup mata mereka akan account palsu.
Di dunia ini, di mana segalanya adalah terbalik, dengan pencampuran konstan benar dan salah ditambah hilangnya moralitas, sulit membayangkan kehidupan orang-orang China pada umumnya.
Ketika saya masih di China, seorang jaksa yang merupakan temanku mengatakan dia sudah muak dan lelah akan pekerjaannya, karena ia menangani kasus-kasus untuk para pejabat yang korup setiap hari. Beberapa orang yang terlihat baik dari luar begitu gelap di dalam. Setelah beberapa saat, ia mulai meragukan semua orang.
Saya bekerja di media, dan saya sangat marah karena tidak mampu mengungkapkan fakta-fakta gelap tentang masyarakat. Namun, kegelapan 10 tahun yang lalu masih jauh lebih sedikit daripada kegelapan di hari ini. Banyak orang di daratan memberitahu saya bahwa hari ini masyarakat adalah 10 kali lebih gelap dibandingkan apa yang saya tulis dalam buku saya "China's Pitfalls."
Hidup dalam masyarakat gelap seperti ini dijamin akan meningkatkan jumlah orang berpenyakit mental.
Ketika mayoritas warga di sebuah negara berada di bawah tekanan besar seperti itu, dengan begitu banyak orang berpenyakit mental, maka kondisi kehidupan di negara ini harusnya secara serius salah.
Pemerintah harus memperbaiki lingkungan untuk mengurangi tekanan pada warga negara biasa. Rezim China, bagaimanapun, tidak melakukan apa pun untuk mengurangi tekanan. Sebaliknya, ia mengikuti Stalin si pembantai, memandang siapa pun yang mempunyai pandangan berbeda sebagai berpenyakit mental, dan kemudian secara politik menganiaya mereka dengan dikatakan memiliki penyakit mental.
Pada Mei, Outlook Weekly menulis tentang ini. Melaporkan bahwa karena kurangnya rumah sakit jiwa, lembaga penegak hukum akan bertanggung jawab atas pasien muda dengan penyakit mental. Pembangkang dan orang-orang dengan pandangan yang berbeda harus diperlakukan seolah-olah mereka memiliki gangguan mental.
Kasus-kasus ini tidak diputuskan oleh dokter, tetapi oleh organisasi PKC. Organisasi lokal PKC mengidentifikasi kasus-kasus dan mengirim mereka langsung ke penegak hukum. Metode ini sangat mirip dengan yang diterapkan oleh Stalin di Rusia.
Pada titik ini, saya pikir pembaca harus memahami bahwa siapa yang merubah China menjadi pemimpin dunia dalam penyakit mental. Saya juga mengerti alasan mengapa begitu banyak orang China berimigrasi ke negara lain: untuk hidup normal. (EpochTimes/khl)
He Qinglian adalah seorang penulis China terkenal dan ekonom. Saat ini tinggal di Amerika Serikat, ia menulis "China's Pitfalls," yang menyangkut korupsi di reformasi ekonomi China tahun 1990-an, dan "Fog of Censorship: Media Control di China," yang membahas manipulasi dan pembatasan pers. Dia menulis secara teratur pada isu-isu kontemporer sosial dan ekonomi China.
Baca artikel dalam bahasa Mandarin. |