Era Baru News >> Opini >> Opini >> Program Satu Anak di China, 400 Juta Janin Terbunuh (3)
Program Satu Anak di China, 400 Juta Janin Terbunuh (3)
Ditulis oleh Wen Long Selasa, 25 Oktober 2011

alt

Pihak penguasa semakin memperketat pengawasan, dan hingga saat ini Chen sekeluarga belum dapat berhubungan dengan siapa pun.

Dari “Mama Yang Mulia” Hingga Kebijakan Membunuh Bayi

Di masa awal pemerintahan PKC, demi untuk mengandalkan taktik perang Lautan Manusia dalam menguasai daratan China, Mao Zedong (baca: mao cetung) terus mendorong kaum perempuan untuk melahirkan anak sebanyak mungkin dan makin banyak melahirkan anak maka makin mulialah perempuan itu, bahkan ibu rumah tangga yang melahirkan di atas 10 orang anak, diberi gelar kehormatan sebagai “Mama yang Mulia”.

Data internal PKC mengungkapkan: tentara sukarelawan yang tewas di medan Perang Korea sekitar 700 ribu hingga 1 juta personel (tidak termasuk tentara rakyat Korea), tentara PBB yang tewas sebanyak 50 ribu personel, perbandingan korban dan senjata 20:1. Dalam perang tersebut Mao menjadi ketagihan dengan “kekuatan besar dari kelompok besar”. Pikiran inilah yang menyebabkan tingkat kelahiran pada 1970 mencapai 5,81 atau 400 juta jiwa lebih banyak daripada keadaan normal.

Mao Zedong terus menyimpan niat mengobarkan Perang Dunia III. Dalam kunjungannya ke Uni Soviet pada Desember 1949, ia pernah berkata pada Stalin: “Demi kemenangan revolusi dunia, kami China telah mempersiapkan 300 juta orang yang siap mati.” Pada 1955 Mao Zedong kembali mengusulkan kepada Krushchev: “Perang Dunia III seharusnya dimulai lebih awal, perang nuklir, perang di China. Jika rakyat China mati 400 juta, masih ada 200 juta, hanya dalam beberapa tahun saja, akan kembali menjadi 600 juta jiwa!” Waktu itu usul ini bahkan sempat membuat Krushchev tercengang.

Pemikiran untuk mengobarkan perang dunia bersama Mao Zedong inilah yang mendukungnya untuk melakukan serangkaian kebijakan anti-ilmiah dan anti-kemanusiaan di China, salah satu di antaranya adalah mendorong pertumbuhan penduduk.

Pada akhir era 60-an, tekanan pengangguran meletus. Pada 1972 Departemen Kesehatan mengajukan usulan program kelahiran “Tunda, Jarak, Sedikit”. Yang dimaksud dengan “Tunda” adalah laki-laki maupun perempuan sebaiknya menikah setelah usia di atas 25 tahun. Yang dimaksud dengan “Jarak” adalah memberikan jarak berupa jangka waktu antara pasca pernikahan dan melahirkan. Yang dimaksud “Sedikit” adalah setiap pasangan suami istri hanya memiliki 2 anak.

Program kelahiran yang belum sempat dicanangkan secara luas ini sempat menuai efek yang mengejutkan. Jika dibandingkan dengan total angka kelahiran, hanya dalam tempo 9 tahun saja, tingkat kelahiran China yang mencapai 5,81 pada 1970 langsung merosot drastis menjadi hanya 2,75 pada 1979, mulai mendekati angka regenerasi normal yakni 2,1.

Pada 1980 PKC mengusulkan target GDP berlipat ganda dalam waktu 20 tahun. Waktu itu GDP di China hanya 250 dollar AS, targetnya adalah GDP 1.000 dolar AS pada 2000. Oleh karena itu sejak 1980, tanpa melewati proses pembuktian apa pun, program 1 anak dipaksa harus dijalankan, dan pada 1982 program ini secara resmi ditulis di dalam undang-undang, dan menjadi kebijakan nasional China.

Menanggapi akibat dari program 1 anak ini, ketua asosiasi Feminism Without Borders bernama Riggy mengatakan, “China adalah satu satu negara yang menandatangani serangkaian kesepakatan internasional yang melindungi perempuan dan keluarga. Penerapan program 1 anak secara paksa ini saja telah melanggar semua kesepakatan tersebut. Apalagi program 1 anak ini secara langsung memicu aborsi bagi janin perempuan, ini adalah suatu gender genosida.”

Riggy berpendapat, program 1 anak PKC ini telah menjadi masalah internasional, sehingga masyarakat internasional seharusnya bereaksi terhadap masalah ini. Himbauannya telah menuai hasil. Beberapa anggota Dewan Senat AS termasuk Kepala Dewan Senat yang baru Bernard, anggota senat Chris Smith, Frank Wolf pada berbagai forum terbuka, telah menuntut agar PKC menghentikan tindakan aborsi secara paksa itu.

Pakar menyebutkan, perencanaan kelahiran adalah suatu kebohongan terbesar PKC, karena sama sekali tidak memberikan sumbangsih secara langsung terhadap perkembangan ekonomi maupun sosial masyarakat China.

Sebaliknya perbandingan jumlah laki-laki dan perempuan justru menjadi tidak seimbang, dan terjadi fenomena penuaan usia penduduk, hal ini akan menjadi bom waktu yang dapat secara langsung mengancam kestabilan sosial. Peraih hadiah Nobel ekonomi pada 1998, Amartya Sen, juga mengemukakan pandangan yang sama, bahwa perencanaan kelahiran PKC ini sama sekali tidak berguna di masa sekarang ini dan justru akan membahayakan di masa mendatang. Meskipun sejumlah pakar baik dalam maupun luar negeri telah mengemukakan krisis struktur populasi penduduk China, namun pihak penguasa tetap menolak untuk menghapus program 1 anak tersebut.  (EpochTimes/lie)

TAMAT