Era Baru News >> Opini >> Opini >> Penampilan Palsu Kekayaan China
Penampilan Palsu Kekayaan China
Ditulis oleh Michael Young Selasa, 15 November 2011

alt

Dalam sebuah konferensi tentang China di Kota New York, ketika ditanya apa yang terpikirkan orang ketika kata “China” melintas di pikiran, seorang wanita Amerika di antara penonton menjawab, “negara terkaya di dunia.”

Sebagai seorang keturunan China-Amerika, saya terus berjalan ke orang-orang yang bertanya ke saya jika mereka harus berinvestasi di China, karena perekonomian di sana terlihat begitu ajaib indahnya.

Beberapa faktor mungkin telah berkontribusi ke publik Amerika yang mempunyai persepsi ini. Sebagai contoh, selama perkembangan pesat ekonomi China selama 30 tahun terakhir, rezim komunis memungkinkan beberapa orang untuk menjadi kaya, memberikan kesan keseluruhan masyarakat menjadi kaya.

China memegang lebih dari 1,2 triliun dolar AS dalam utang AS, sejumlah cadangan devisa yang sangat besar. Dan media dan Wall Street telah menggambarkan China sebagai kemunculan tambang emas bagi investasi.

Sang Miskin

Dibandingkan dengan era Mao, banyak orang China standar hidupnya mungkin telah meningkat secara signifikan. Tetapi kenyataannya adalah terlepas dari dinamika 30 tahun terakhir, masyarakat China masih sangat miskin.

Dalam buku The Next Decade, George Friedman menunjukkan bahwa menurut Bank Rakyat China, 60 juta orang China (kurang dari 5 persen penduduk China) hidup di rumah tangga kelas menengah (definisi untuk mereka yang berpenghasilan lebih dari Rp 160 juta per tahun).

Enam ratus juta orang China tinggal di rumah tangga dengan penghasilan kurang dari Rp 8 juta per tahun, atau kurang dari Rp 24.000 per hari untuk satu keluarga. 440 juta orang China lainnya tinggal di rumah tangga dengan penghasilan antara Rp 8 juta dan Rp 16 juta setahun, atau Rp 24.000 sampai Rp 48.000 per hari.

Friedman menyimpulkan bahwa 80 persen orang China hidup dalam kondisi yang sebanding dengan kemiskinan di sub-Sahara Afrika. Angka-angka ini mungkin tidak dipercaya oleh banyak orang Amerika. Mereka mungkin bertanya-tanya bagaimana mungkin bagi suatu negara yang begitu maju memiliki begitu banyak Utang AS.

Utang AS

China, meskipun terjadi reformasi ekonomi, ia masih terpusat dan dikendalikan oleh negara. Rezim komunis melalui pembangunan ekonomi untuk melegitimasi kekuasaan dan kestabilan bangsa.

Dengan memanipulasi nilai yuan, pajak yang berat atas industri-industri manufaktur yang mengekspor barang ke pasar asing, memanfaatkan sumber daya yang kaya untuk bahan baku, termasuk menguasai posisi pasar dalam dunia, dan menjaga biaya murah modal manusianya, rezim China telah mengakumulasi cadangan devisa besar dalam mata uang asing.

Larry Lang, profesor ketua dari Finance di Chinese University of Hong Kong, baru-baru ini menyatakan bahwa China memiliki pajak penghasilan tertinggi di dunia.

Dalam rangka untuk mempertahankan nilai tukar mata uang yang rendah untuk memberikan keuntungan bagi ekspor China, rezim China telah memilih untuk membeli utang AS dan memanipulasi mata uang.

Membeli utang AS juga berfungsi untuk menciptakan ketergantungan perekonomian Amerika Serikat atas China dan menciptakan pengaruh politik dalam berurusan dengan pemerintah AS. Sebagai contoh, Amerika Serikat selama dua dekade terakhir telah hampir sebagian besar mengabaikan pelanggaran hak asasi manusia oleh rezim China dan menjauh dari apapun dan siapapun yang dianggap musuh oleh Partai Komunis China.

Ketimpangan Pendapatan

Pembangunan ekonomi China dirancang oleh Deng Xiaoping, arsitek reformasi ekonomi China, untuk memungkinkan beberapa menjadi kaya terlebih dahulu. Bahkan, reformasi tidak menghasilkan apa-apa kecuali hasil: Beberapa yang telah menjadi kaya.

Pertumbuhan ekonomi China tercepat utama dunia, memiliki 502.000 jutawan tahun lalu, menurut sebuah studi oleh Julius Baer Group dan CLSA Asia Pacific Market. Jumlah jutawan di China tumbuh menjadi 534.500 tahun ini, menurut sebuah laporan pada bulan Juni oleh Capgemini SA dan Merrill Lynch Global Wealth Management. China menduduki ranking keempat dalam hal jumlah individu kaya dalam populasi, dibelakang Amerika Serikat, Jepang, dan Jerman.

Sebuah artikel baru-baru ini oleh Zhang Monan di China Daily menyatakan keluarga-keluarga kaya di China hanya tercatat 0,2 persen dari jumlah total rumah tangga di negara itu, proporsi yang jauh lebih rendah dibandingkan di negara lain.

Misalnya, di Amerika Serikat proporsinya adalah 4,1 persen rumah tangga, dan 8,4 persen di Swiss. Zhang mendesak negara untuk meningkatkan pajak properti sehingga dapat membantu mengurangi kesenjangan besar dalam distribusi kekayaan.

Sosiolog terkenal Zhou Xiaozheng, yang mengepalai Institut Hukum dan Sosiologi di Renmin University of China menunjukkan dalam sebuah wawancara dengan The China Post: "Jangan lupa, keberhasilan China saat ini dibangun di atas 300 juta orang yang mengambil keuntungan dari 1 miliar buruh murah. Dan dengan sistem peradilan yang tidak adil dan distribusi kekayaan yang tidak adil membuat tantangan menjadi lebih besar.”

Koefisien Gini China – pengukur perbedaan pendapatan keseluruhan – melonjak ke 0,47 yang mengkhawatirkan tahun lalu (garis peringatan internasional adalah 0,4) dan dikhawatirkan mencapai 0,5 tahun ini, yang akan menjadi tertinggi dalam sejarah.

Bahkan di dalam kota, kesenjangan pendapatan sangat besar, mencapai Koefisien Gini sebesar 0,36. Zhou menyalahkan kerusuhan sosial dikarenakan kesenjangan pendapatan besar, seperti bunuh diri di pabrik perakitan Foxcomm, insiden berulang anak ditikam sampai mati di Shenzhen dan Shanghai, dan penduduk lokal mengorbankan dirinya sendiri untuk memrotes perampasan tanah dan rumah mereka oleh negara dan relokasi.

Yang Kaya Kabur

Laporan Hurun, bersama-sama dengan bank-bank swasta China, merilis makalah pada 29 Oktober yang membahas manageman kekayaan di antara individu-individu paling bernilai tinggi di China pada 2011.

Makalah ini didasarkan pada survei yang dilakukan di 18 kota besar dan di antara orang-orang yang rata-rata kekayaannya mendekati 60 juta yuan, menurut Evening Post Nanjing yang berbasis di Yangtze.
 
Dalam laporan negara itu, empat puluh enam persen dari mereka yang disurvei berencana untuk bermigrasi ke negara lain, dan 14 persen dari mereka telah pindah. Sepertiga dari mereka telah memiliki properti di luar negeri.

Laporan ini telah menimbulkan keprihatinan serius di dalam rezim China. Huanqiu, publikasi online di bawah People Daily, menerbitkan sebuah artikel yang mengutuk orang kaya yang pindah keluar dari China, dengan mengatakan migrasi seperti itu dapat menyebabkan bencana ekonomi dan harus dibatasi.

Kebanyakan orang yang telah memutuskan untuk meninggalkan negara China adalah dikarenakan mereka tidak memiliki perasaan aman tinggal di China. Keprihatinan mereka termasuk kurangnya sistem peradilan yang independen, kebijakan ekonomi yang tak terduga, dan perpajakan yang tinggi.
Bagi rezim China, stabilitas adalah prioritas utama. Ini harus bergantung pada Tentara Pembebasan Rakyat dan pasukan polisi bersenjata untuk mengendalikan meningkatnya jumlah protes kekerasan. Beberapa jenis redistribusi kekayaan pada akhirnya harus terjadi.

Bangkrut

Larry Lang adalah salah satu dari beberapa sarjana China yang telah mengungkapkan pemikiran mereka tentang situasi ekonomi China saat ini.

Pidato yang ia berikan di Shenyang telah hilang karena virus di Internet, meskipun kontrak lisan dengan para pendengarnya adalah absolut rahasia. Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa semua angka resmi perekonomian China yang diterbitkan baik di atas kertas maupun online oleh negara China adalah rekayasa.

Menurut Lang, sebenarnya China sudah bangkrut. Dia mengatakan bahwa mulai pada bulan Juli, sektor manufaktur China sudah dalam resesi, dan pada 2013, tsunami ekonomi China akan dimulai.

Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi ketika ekonomi China runtuh dan rezim China menemukan alasan apa untuk tetap berkuasa. Seluruh dunia akan lebih baik mempersiapkan diri untuk bencana ini, daripada bersantai dan menikmati gambar kemerahan yang disajikan oleh rezim China. (EpochTimes/khl)

Michael Young adalah seorang penulis China-Amerika yang berbasis di Washington, DC, yang menulis tentang China dan hubungan China-AS.