Era Baru News >> Opini >> Opini >> Ekonomi China Target Utama Perang Dagang Internasional
Ekonomi China Target Utama Perang Dagang Internasional
Ditulis oleh Oleh: Tianlun Jian Senin, 09 November 2009

Krisis ekonomi global telah berdampak keras terhadap banyak orang, mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang-orang di sebagian besar negara. Semakin banyak negara dihadapkan pada hilangnya pekerjaan, kegagalan perusahaan, dan stagnan penjualan, sengketa perdagangan baru menjadi hal yang biasa. Penurunan daya beli saat ini telah memicu perang dagang yang semakin meluas di arena internasional dan China telah menjadi target utama.

Bagi China, ekspor selama dua hingga tiga dekade yang lalu telah memainkan peranan dalam meningkatkan pembangunan ekonominya, terhitung sekitar sepertiga dari GDP (Gross Domestic Product). Seperti yang banyak orang katakan, China pada dasarnya telah menjadi pabrik dunia.

Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang telah memprotes kebijakan China seperti dumping, kurang menghargai mata uang, dan subsidi ekspor. Mereka telah berulang kali mendesak China untuk menaikkan nilai mata uangnya yang telah dipatok dengan dolar AS untuk satu dekade, dan yang secara luas dianggap mematok dibawah nilai yang sebenarnya sebesar 40 persen pada tahun 2005.

Di bawah tekanan internasional, People's Bank of China (bank sentral) memutuskan untuk mengganti nilai tukarnya dari dollar-pegged system ke currency basket system. Pada Juli 2005, yuan memulai mengatur nilai mata uang, perlahan menghargai dolar AS, yang telah menurun sejak awal tahun 2002 karena defisit yang besar. Namun, yuan dipatok lagi untuk menurunkan dolar pada Juli 2008. Dengan kata lain, yuan telah mulai jatuh terhadap semua mata uang utama bersama dengan dolar pada tahun lalu, memungkinkan eksportir China memperoleh keuntungan yang lebih besar dalam kompetisi global.

Akibatnya, China tahun ini telah mendapat banyak keluhan dari mitra dagangnya. Antara Januari dan Agustus, 17 negara memiliki sengketa perdagangan dengan China pada kebijakan ekspornya, termasuk dumping, subsidi, dan kurang menghargai mata uang. Pada kenyataannya, sejak reformasi ekonomi pada tahun 1978, mempromosikan ekspor telah menjadi kebijakan pembangunan China. Pemerintah China telah menggunakan subsidi ekspor dan kurang menghargai mata uang untuk membuka pasar internasional. Sekarang resesi ekonomi global hanya disoroti sebagai sebuah tekanan bahwa kebijakan ini telah menjadi penyebab resesi bagi negara-negara lain.

Perlawanan dan keluhan dari negara lain dapat merusak prospek ekspor China. Bahkan, ekspor China telah menurun secara signifikan pada tahun lalu karena resesi global. Bahkan pada bulan September, ekspor China masih menurun lebih dari 15 persen dari tahun sebelumnya. Kecenderungan ini diperkirakan akan terus berlanjut. Sebuah berita di Shanghai Securities News (29 September 2009) berisikan daftar 70 besar perusahaan publik. Semua ke 70 perusahaan itu sekurang-kurangnya 60 persen dari pendapatannya berasal dari ekspor. Jelas, perusahaan-perusahaan ini dan mitra bisnis mereka akan sangat dipengaruhi oleh penurunan ekspor. Sektor-sektor terkait, seperti perusahaan-perusahaan transportasi, pelabuhan, penerbangan, dan lain-lain juga akan terpengaruh. Jika produk tidak bisa diekspor, maka akan dijual di China, menyebabkan persediaan akan lebih banyak dan lebih banyak persaingan, terutama untuk barang yang sudah kelebihan pasokan.

Prospek ekspor yang lemah kemungkinan akan berdampak pada perekonomian China dalam empat cara berikut. Pertama, pergeseran dalam ekspor akan berlanjut sampai akhir tahun atau tahun depan. Kedua, karena ekspor terdiri dari persentase besar dari GDP (sekitar 30 persen) dalam lima hingga sepuluh tahun, penurunan ekspor juga akan berpengaruh negatif terhadap GDP. Surplus rekening giro China mencapai puncaknya pada tahun 2007, dikatakan 11 persen dari GDP nya, yang menurun menjadi 9,8 persen tahun lalu. Diharapkan untuk lebih turun menjadi sekitar 6 persen pada tahun 2009 (7,8 persen oleh IMF dan 5,6 persen oleh Bank Dunia). Ketiga, saham perusahaan yang sangat mengandalkan ekspor kemungkinan akan jatuh. Data dari Bursa Saham Shanghai menunjukkan bahwa dari akhir Juli sampai akhir Oktober, Shanghai Composite Index turun dari 3.500 ke 3.100, sementara Dow Jones Industrial Average mendekati di atas 9.500 dan perlahan-lahan naik menjadi sekitar 9.800 pada periode yang sama. Ini mungkin akibat penurunan ekspor. Keempat, kompetisi yang lebih besar untuk pasar domestik dan kelebihan pasokan akan terus melancarkan tekanan ke bawah pada harga domestik. Harga barang-barang industri dan pertanian di China sudah menurun sejak akhir 2008. (Tianlun Jian/Epoh Times/dia)

Tianlun Jian, Ph.D, penulis tentang perekonomian China.