Era Baru News >> Sejarah >> Sejarah >> Kisah ‘Obasute,’ Membuang Nenek
Kisah ‘Obasute,’ Membuang Nenek
Ditulis oleh Pudi Yanto/ Era Baru News Rabu, 21 Juli 2010

obasute-eb1‘Obasute’ adalah sebuah cerita legenda kuno yang tumbuh di masyarakat Jepang. Cerita ini banyak dibikin novel dan dimainkan oleh kelompok-kelompok teater di Jepang, seperti teater Noh, dan juga Teater Harpon yang akhir Juli 2010 ini akan pentas di Jakarta. Cerita ini masih ada di dalam hati semua orang Jepang, hingga kini.

Banyak versi cerita ‘Obasute’ yang bersumber dari cerita legenda turun temurun di masyarakat Jepang. Cerita ‘Obasute’ di bawah ini ditulis oleh Hara Tomohiko, seorang penulis asal Jepang yang menetap di Ohsu, Nagoya mulai tahun 1976. Ia mendalami kesenian sejak usia 20 tahun.

"Saya ingin membuat perpisahan itu menjadi sesuatu hal yang indah" katanya, mengomentari cerita yang mengharuskan seorang anak berpisah dengan orangtuanya, karena aturan adat.

Kiprahnya di teater di Jepang cukup banyak. Ia pernah terlibat di Teater Japon, Super, Harpon dan lain-lain. Inilah kisah ‘Obasute’ tulisan pria kelahiran 1946, Hara Tomohiko.

Pada jaman dahulu di Jepang, di desa-desa miskin disela-sela gunung, ada adat yang mengharuskan meninggalkan Baba di gunung untuk menghemat persediaan makanan.  Baba adalah sebutan untuk nenek yang sudah terlalu tua di Jepang. Tradisi ini dinamakan ‘Obasute.’ Gunung tempat pembuangan dinamakan ‘Obasute Yama.’

Baba menunggu-nunggu kapan akan ditinggalkan di gunung, karena sudah menjadi adat ditinggalkan di gunung dan Baba berpikir bahwa segala adat akan membawa kebaikan bagi keluarga di kampung halaman ini. obasute-eb2

Pada jaman dahulu sewaktu kampung halaman Baba masih ada. Seorang pengembara dari luar desa datang karena kesasar dan bertemu dengan anak perempuan dari keluarga yang baru melakukan ‘Obasute.’

Ketika sedang mendengarkan cerita si anak perempuan ini, dia tertidur. Kisah yang akan diceritakan selanjutnya adalah mimpi si pengembara.

Tahun ini, di musim panas, bunga Tsubaki yang merah dan besar berkembang di desa ini, padahal biasanya bunga Tsubaki berkembang di musim dingin setiap tahun. Menurut adat desa ini kalau bunga Tsubaki berkembang di musim panas maka Baba harus dibawa ke gunung untuk ditinggalkan.

Pada saat musim panas berlalu sewaktu Baba akan dibawa ke gunung, Baba dan cucunya seharian hanya bermain-main. Baba menari-nari dengan indahnya dan memberikan kipasnya pada si cucu sebagai kenang-kenangan.

Ini adalah perpisahan yang menyenangkan tetapi menyimpan kesedihan yang mendalam. Baba dibawa ke gunung digendong oleh anaknya yaitu ayah dari si cucu. Sebenarnya anaknya tidak ingin meninggalkan Baba di gunung, namun susahnya Baba sudah lama menunggu untuk ditinggalkan di gunung.

Disini ada peraturan bahwa jika si anak dapat membuat Baba tertawa maka si anak boleh membawa Baba kembali ke desa. Si anak berusaha supaya Baba tertawa dengan cara bercerita dan gerakan-gerakan lucu. Namun Baba tidak tertawa karena Baba ingin ditinggalkan di gunung. Akhirnya si anak menggendong Baba sambil menangis membawa Baba ke gunung.

Di tengah perjalanan Baba memaksa mengusir anaknya agar pulang dan meninggalkannya di gunung. Kemudian Baba melanjutkan mendaki gunung sendirian.

Pada saat itu serangga-serangga muncul dari belakang batu, lalu menari bersama Baba sambil mengucapkan selamat jalan. Kemudian Baba berjalan kembali menuju puncak gunung dan angin bertiup pergi sambil menyanyikan lagu ‘Obasute.’

Bulanpun melihat selalu
Serangga-serangga tak bernama
Bunga-bunga di kerimbunan rumput
Segala hati yang tidak dipedulikan siapapun
Ke dalam hati yang belum pernah cerita pada siapapun
Hal-hal yang mendebarkan hati
Kenakalan yang seharusnya membuat malu

Saat itu juga, sewaktu melihat ke langit
Bulan telah mati
Namun perlahan-lahan mengedipkan mata
Sambil melihat itu

Mencoba hidup
Sepertinya terlalu lama hidup disini
Saat masih segar dan lincah pun
Ataupun telah menjadi keriput
Yang ingin ditinggalkan bukanlah nama
Walaupun sebelumnya ada nama
Itu bukanlah nama

Di puncak...
Di Gunung Obasute
Bulanpun muncul...

Kemudian setelah beberapa hari, bunga Tsubaki berwarna merah darah yang besar jatuh di kepala sang cucu. Tugas hidup sang nenek kini dilanjutkan sang cucu. Di puncak gunung bulan bersinar terang menyiratkan Baba yang sedang tersenyum.

Sebuah perpisahan memang menyedihkan. Mendatangkan kesedihan dan penderitaan yang terkadang kita tidak kuasa menghindarinya. Namun ada hikmah yang diperoleh dari sebuah penderitaan, tergantung bagaimana kita memaknainya. Hidup berjalan terus. Ada suka, ada duka.  Ada yang datang dan ada pula yang pergi. (rpd/bng)

Berita/ Artikel Terkait:

Legenda Kuno Jepang ‘Obasute’ Akan Pentas di IKJ