| Pengacara HAM Ungkap “Perampasan Organ” di China |
| Ditulis oleh Oleh: Charlotte Cuthbertson | Minggu, 14 Maret 2010 |
|
Matas, pengacara HAM internasional berkebangsaan Kanada ini, telah menghabiskan empat tahun mengungkap sebuah traged Holocaust---tragedi yang sulit dipahami kebanyakan orang. Buku terakhirnya, Bloody Harvest: The Killing Falun Gong for Their Organs, mengulas praktek keji perampasan organ para praktisi Falun Gong di China. Falun Gong adalah metode latihan meditasi yang penuh kedamaian berdasarkan Sejati-Baik-Sabar; tumbuh berkembang begitu populer akhir 1990-an, yang kemudian dianiaya secara kejam oleh rezim komunis. Amnesti Internasional dan Perseriktan Bangsa-Bangsa merupakan salah satu organisasi yang terus melaporkan penganiayaan, penyiksaan dan pembunuhan ini. “Menurut saya, hal seperti ini tidak boleh diabaikan,” ujar Matas atas reaksinya terhadap adanya dugaan perampasan organ. “Ini merupakan dugaan yang saya tidak lihat siapapun dapat melakukannya---sangat sulit.” Matas bergabung dengan rekan senegaranya, mantan Anggota Parlemen Kanada, David Kilgour, untuk melakukan investigasi. Cukup sulit, ujarnya. Tidak ada mayat, tidak ada dokumen, tidak ada bukti TKP, bahkan mereka mendapat kesulitan memasuki China. “Menurut saya yang menjadi salah satu bukti adalah tes darah,” ujar Matas. Ia dan Kilgour telah berbicara dengan belasan praktisi Falun Gong di seluruh dunia yang selamat dari penyiksaan di China dan kini sebagai pengungsi. “Saya melihat orang-orang ini tidak saling mengenal satu sama lain, di seluruh dunia, semua mengatakan hal yang sama,” ujar Matas. “Pengujian darah mereka bukan demi kesehatan, karena mereka disiksa.” “Ini merupakan suatu bukti yang sangat mengerikan,” ujarnya. Transplantasi organ membutuhkan darah dan jaringan yang akurat untuk memastikan kecocokan. Sejumlah rumah sakit China mengiklankan transplantasi pada website mereka---sebuah ginjal dijual sekitar $ 60.000 dengan hanya menunggu dua minggu yang dijamin oleh beberapa rumah sakit. Matas mengatakan ia dan Kilgour menentang partai komunis China, mengekspos perampasan organ. Ia berada di New York, Kamis (10/3) malam, untuk menanda tangani ‘Boody Harvest,’ Buku yang ditulis bersama dengan David Kilgour dan ketiga laporan mereka tentang perampasan organ. Jennifer Lawrence, seorang mahasiswa yang bercita-cita menjadi pengacara HAM, membeli salah satu buku yang telah ditanda tangani. “Ini sebuah pengalaman yang sangat membuka mata,” ujarnya. “[Matas] telah mengekspos perlakuan keji di China yang tidak pernah saya ketahui.” Lawrence mengatakan ia akan membawa isu ini ke kelas hak asasi manusia-nya, sesuatu yang menggembirakan buat David Matas. “Buku ini dimaksudkan untuk melengkapi orang-orang dengan kemampuan dalam berurusan dengan [isu ini] pada diri mereka sendiri,” ujar Matas., Belum lama ini Kilgour dan Matas dinominasikan sebagai periaih Nobel Perdamaian. (EpochTimes/sua) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!


- Penampakan UFO di Thames Estuary
- Tahanan Falun Gong Diambang Kematian
- Berlian Dibalik Kabut Percandian Muarajambi
- Rudal AS Tewaskan Tokoh al-Qaeda Pakistan
- Tentara Suriah Lancarkan Serangan Besar-besaran
- Kisah Sebatang Gandum
- Risiko Lahirkan Bayi Cacat Bagi Ibu Diabetes
- Mengatasi Polusi Timbal dengan Jamur
- Video Kekerasan ABG di Bali Banjir Kecaman
- Misteri Piramida di Gunung Sadahurip
- Badai Matahari Lenyapkan Elektron Dalam Sabuk Radiasi Bumi (Video)
- Hanya Sebulan 50 Bencana Menimpa Indonesia
- Cerita Tentang Einstein
- Astronom Temukan Planet Layak Huni
- Dibalik Rahasia Orang Sukses
- Udumbara Bunga Surgawi

New York - Tidak banyak orang yang ingin melakukan sesuatu tentang Holocaust. Kecuali David Matas (66), sejak ia menemukan tragedi hak asasi manusia (HAM) yang ia gambarkan sebagai “suatu bentuk kejahatan yang belum pernah terjadi pada planet ini.”





Mozilla Firefox