| Kekerasan Terhadap Wartawan Meningkat di China |
| Ditulis oleh Oleh: Cheryl Chen | Minggu, 05 September 2010 |
|
Kasus Chang Ping sebagai sebuah contoh. Chang Pin adalah seorang komentator berita dan karyawan senior di harian terkemuka Southern Daily Group. Belum lama Chang Ping diberitahu oleh atasannya bahwa artikelnya pada kolom di harian Southern Metropolis dan Southern Weekend akan ditunda. Tidak ada penjelasan artikel atau topik yang mana telah memicu pencekalan, itu karena ada tekanan dari 'yang lebih tinggi.' "Sebuah masyarakat di mana seseorang ditahan atas apa yang dia telah katakan adalah sangat tidak normal," kata Chang (juga dikenal sebagai Zhang Ping) kepada Radio Free Asia dalam sebuah wawancara baru-baru ini. Pada 2008, ketika Chang menjabat sebagai wakil pimpinan redaksi untuk Mingguan Southern Metropolis, ia menjadi terkenal setelah menerbitkan serangkaian artikel termasuk "Tibet: Kebenaran dan Sentimen Nasionalis," yang menyebabkan kegemparan publik. Pada waktu itu Chang diturunkan dan dipindahkan dari posisi editorial ke bagian administrasi, di mana ia bekerja sebagai peneliti di Pusat Komunikasi sampai sekarang. Kejadian baru-baru ini setiap hasil karyanya semakin jauh dikurangi. Chang memiliki sejarah panjang berhadapan dengan sensor rezim komunis China. Pada 2001, saat ia menjadi Direktur Departemen berita di Southern Weekend, ia dipecat dari jabatannya atas pelaporan yang terbuka dari dua kasus yang sangat sensitif pada waktu kasus Zhang Jun, sebuah pengadilan kriminal kelas kakap dan kasus ledakan Shijiazhuang. Setelah ini, Chang pergi ke AS 'cuti panjang' sebagai sarjana tamu di Universitas California, Berkeley. Setelah kembali ke China, ia mulai bekerja untuk harian Southern Group. Penindasan Chang telah menarik perhatian banyak intelektual dan jurnalis di China, yang telah menyebarkan berita dan menyatakan dukungan mereka di blog dan microblogs. Terkadang melalui bentuk-bentuk tulisan tersembunyi. Group International TerintimidasiWartawan lainnya, Feng Weixiang, yang merupakan wartawan investigasi untuk harian Pekerja Zhejiang, diganggu dan diancam karena penerbitan "informasi sensitif" di blognya pada sina.com, seperti yang dilaporkan oleh RFA. Feng mengatakan pada RFA (26/8) bahwa blog-nya diblokir 10 Agustus. Dia mengatakan bahwa semua artikel yang telah diposting, beberapa tentang korupsi peradilan, sebagian besar tentang sengketa tanah dan pembongkaran paksa telah diterbitkan. "Saya tidak akan mungkin posting apa-apa yang diklasifikasikan sebagai 'penggunaan internal,' karena saya tahu bahwa saya tidak boleh," katanya. Feng berkata bahwa ia sangat sering menerima ancaman, surat kaleng dan juga telah diserang secara fisik untuk mengekspos 'rahasia gelap' dari beberapa individu dan organisasi. Wartawan di China adalah target rutin oleh perusahaan swasta yang mereka laporan secara negatif. Pada 28 Juli, wartawan dari koran Penninsula Metropolis di Qingdao, Propinsi Shandong dipukuli oleh sekelompok orang, tulang tangannya patah, antara cedera lainnya. Wartawan itu sedang mencari manajer dari sebuah sekolah pendidikan mengemudi yang dicurigai menipu mahasiswa untuk melakukan wawancara. Pada 29 Juli Chen Xiaoying, seorang reporter wanita untuk China Times, menanggapi sebuah panggilan telepon gelap yang mengaku memiliki informasi tentang Shenzhen International Enterprise Co Ltd, sebuah perusahaan yang sebelumnya telah dilaporkan Chen secara negatif. Dia menindaklanjuti temuannya dan disergap oleh seorang pria yang memaki dan memukulinya. Pada sore 30 Juli, sejumlah wartawan untuk National Business Daily News Center China Timur diserang oleh empat orang yang menyatakan bekerja untuk 'Bully International Group.' Reporters Without Borders (RWB) pada 26 Agustus lalu meringkas beberapa insiden serius tentang kekerasan terhadap jurnalis di China dalam laporannya. LSM yang bermarkas di Paris mengutuk tren yang sedang berkembang oleh perusahaan-perusahaan berpengaruh untuk melecehkan wartawan, mengatakan bahwa wartawan China telah menjadi wajah baru ke dalam jajaran kelompok rentan China, karena mereka terjepit di antara otoritas dan kepentingan pribadi. "Semakin bertambah wartawan yang terkekang kebebasannya di China, mereka maju memberi perlawanan yang solid untuk pemerintah serta perusahaan swasta negara," ungkap laporan tersebut. (EpochTimes/man) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!


- Penampakan UFO di Thames Estuary
- Tahanan Falun Gong Diambang Kematian
- Berlian Dibalik Kabut Percandian Muarajambi
- Rudal AS Tewaskan Tokoh al-Qaeda Pakistan
- Tentara Suriah Lancarkan Serangan Besar-besaran
- Kisah Sebatang Gandum
- Risiko Lahirkan Bayi Cacat Bagi Ibu Diabetes
- Mengatasi Polusi Timbal dengan Jamur
- Video Kekerasan ABG di Bali Banjir Kecaman
- Misteri Piramida di Gunung Sadahurip
- Badai Matahari Lenyapkan Elektron Dalam Sabuk Radiasi Bumi (Video)
- Hanya Sebulan 50 Bencana Menimpa Indonesia
- Cerita Tentang Einstein
- Astronom Temukan Planet Layak Huni
- Dibalik Rahasia Orang Sukses
- Udumbara Bunga Surgawi

Berdasarkan temuan laporan terbaru Reporters Without Borders, penindasan dan kekerasan terhadap Ikatan Wartawan China baru-baru ini, menjadi peringatan bahwa menegakkan stabilitas sosial, bukan kebebasan berbicara adalah fungsi yang ditentukan oleh rezim. 





Mozilla Firefox