Era Baru News >> Top News >> China Update >> Tahun Naga, Tahun Perubahan
Tahun Naga, Tahun Perubahan
Ditulis oleh Tangwen & Muqing Sabtu, 04 Februari 2012

alt

Tahun Naga Sering Kali Merupakan Tahun Perubahan Besar di China, Sejak 1940 Hingga 2012 di China Telah Terjadi Perubahan Besar 6 Kali di Tahun Naga.

Dalam legenda Tiongkok, tahun Naga adalah tahun perubahan, selalu mengandung perubahan besar dalam dunia manusia yang mengisyaratkan dan menentukan arah masa depan masyarakat serta untuk mendapatkan beberapa inspirasi sebagai persiapan menghadapi perubahan maha besar dan kesempatan pada tahun naga 2012.
 
Peristiwa Wan Nan (1940)

Dalam sejarah Partai Komunis China (PKC), Peristiwa Wan Nan (Provinsi Anhui Selatan) yang terjadi pada 6 Januari 1941 (sesuai penghitungan kalender Imlek masih terhitung tahun Naga) dilukiskan sebagai peristiwa anti komunis yang disiasati dan sengaja dicetuskan oleh golongan ultra konservatif Partai Kuomintang (Partai Nasionalis), namun kian banyak data sejarah dan hasil studi para pakar menunjukkan, latar belakang dan penyebab terjadinya peristiwa tersebut dipicu oleh PKC tidak melakukan perlawanan terhadap agresor Jepang, bahkan melakukan penyergapan dan pembantaian terhadap tentara nasional yang sedang melawan agresi Jepang. Peristiwa tersebut disalahgunakan oleh PKC untuk didorong ke puncak gerakan subversinya terhadap pemerintah China (ROC) yang sah kala itu, dan racun tersebut beredar hingga kini.

Pada akhir 1940, atas nama Komite Militer pemerintah ROC. He Yingqin dan Bai Chongxi memerintahkan dengan tegas Tentara IV Baru dan Tentara Rute VIII pimpinan PKC seluruhnya harus ditarik ke wilayah utara Sungai Yangzhi dalam waktu sebulan. Namun PKC mengabaikan perintah, setelah mengulur waktu beberapa saat, pada 4 Januari 1941 PKC memerintahkan pusat komando Tentara IV Baru beserta sebuah detasemennya sebanyak 9.000 prajurit bergeser ke utara dari Yunling.

Tanggal 6 setibanya di Desa Maolin, Kabupaten Jing - Wan Nan, dihadang oleh 80 ribu orang lebih Tentara Kuomintang, sebagian besar Tentara IV Baru tewas dan ditawan, sisa 2.000 orang meloloskan diri. Komandan Korps Ye Ting ditahan ketika sedang berunding dengan pasukan Kuomintang, pejabat teras lainnya Xiang Ying dan Zhou Zikun tewas  terbunuh oleh pengkhianat intern PKC.  

10 bulan sebelum terjadi “Peristiwa Wan Nan” yaitu pada Maret 1940, Tentara Rute VIII PKC yang bercokol di daerah perbatasan Provinsi Hebei dan Henan menggunakan intrik menyergap dan menghancurkan 3 korps Tentara Nasional sebanyak 60 ribu personil, akan tetapi terhadap tentara Jepang yang hanya berjarak sejauh 50 mil, mereka tidak melakukan tindakan apapun. 3 korp tentara nasional tersebut semula berencana dari selatan Provinsi Shanxi menuju Hebei dan menerobos Gunung Taihang dengan membuka sebuah jalur hingga Hebei, dengan demikian Tentara Nasional yang di belakang yang akan menuju Hebei dapat melakukan penyerangan frontal terhadap tentara Jepang. Presiden ROC, Chiang Kaishek, demi menjaga muka rakyat China di hadapan tentara sekutu tidak mengumumkan peristiwa tersebut agar tidak terkesan sedang terjadi peperangan internal.

Pastor Inggris Lei Zhenyuan dan Lei Mingyuan dalam sebuah bukunya yang berjudul Nei Zai De Di Ren (Musuh Dalam Selimut) telah mengungkap kejahatan PKC yang tidak melawan Jepang namun menyergap dan membunuh Tentara Nasional yang siap berperang melawan Jepang.

Tak Pernah Berperang Melawan Jepang

Xin Haonian, ahli sejarah China yang menetap di AS mengungkapkan, beberapa tahun belakangan ini, beberapa ahli sejarah militer Tentara Pembebasan Rakyat PKC yang melakukan studi lebih mendalam tentang sejarah militer Tentara IV Baru, merasa sangat pedih sekali. Karena mereka menemukan, jika dikatakan Tentara Rute VIII PKC masih pernah dengan terpaksa bersama Tentara Nasional ROC melakukan perang Ping Xing Guan dan apa yang disebut perang Bai Tuan melawan Jepang, akan tetapi Tentara IV Baru PKC selain belum pernah berperang melawan agresor Jepang, bahkan betul-betul menjadi kekuatan utama dan pelopor serta sumber bencana dalam perang saudara, bahkan menjadi pelaku utama PKC dalam mengkhianati negara.

Sejak 1 Agustus 1937,  tidak lama setelah terjadi “peristiwa Jembatan Lu Gou” (Tentara Jepang mulai mengagresi China),  komite sentral PKC telah mengeluarkan “Petunjuk terhadap daerah gerilya di wilayah selatan”, secara jelas memberi petunjuk kepada gerilyawan Tentara Merah PKC, bahwa demi mendapatkan status hukum, kelompok gerilyawan boleh melakukan perundingan dengan partai Kuomintang, atau mengubah nomor kode pasukan, dengan menaati prinsip mutlak di bawah kepemimpinan PKC serta mempertahankan atau mengubah diri menjadi pasukan bersenjata revolusioner. Anggota bersenjata yang terpencar dan sisa kekuatan bersenjata PKC di berbagai daerah di selatan, justru di bawah petunjuk tersebut, mulai menerima reorganisasi pemerintah menjadi Tentara IV Baru, dan “menerima perintah terpadu Komite Militer Tertinggi”.

Namun Tentara IV Baru yang menerima gaji dan perbekalan dari Kuomintang, malah  menaati perintah dari Mao Zedong dan PKC. Menurut studi sejarawan Xin Haonian, berkali-kali PKC memberi petunjuk, harus menjamin kepemimpinan mutlak PKC terhadap Tentara IV Baru. Tentara IV Baru hanya memedulikan ekspansi dan pengembangan, jika ada yang mengganggu dan menghalanginya maka basmilah; Tentara IV Baru hanya diperbolehkan sekali-kali melakukan penyerangan terhadap tentara boneka serta hanya dalam keadaan diperlukan baru diizinkan menyerang tentara Jepang kelompok kecil.

Peperangan seperti yang disebut sebagai pertempuran Wei Gang dan Huang Qiao yang tersohor, yaitu 7 kali perang 7 kali menang dan pertempuran Jalur Barat dan lainnya, semuanya adalah perang saudara dan yang diserang adalah “golongan ultra konservatif” dari Kuomintang yang sedang melakukan perlawanan terhadap Jepang. Jika mereka yang menang, maka adalah kemenangan terhadap “golongan ultra konservatif” Kuomintang; jika kalah, maka dikatakan “Golongan ultra konservatif” Kuomintang telah melakukan serangan terhadap Tentara IV Baru yang “melawan Jepang”.

Setelah terjadi “Peristiwa Wan Nan”, Zhou Enlai dalam Harian Xinhua yang terbit di Kota Chongqing (yang notabene kala itu di bawah kendali pemerintahan Kuomintang) justru balik memelintir dan menyebarkan kebohongan besar ke seluruh China dengan mengatakan “Ketidakadilan abadi yang terjadi pada komandan korp Ye Ting di selatan Sungai Yangtze”, racun ini menyebar hingga sekarang. PKC menggunakan peristiwa tersebut telah mendorong ke puncak tindakan subversinya dalam merongrong pemerinta ROC yang sah, kejahatan memecah-belah, ekspansi dan mengkhianati negara yang dimainkan oleh PKC kian hari kian parah. (The Epoch Times/tys)