| Ketika Odapus dalam Cerita |
| Ditulis oleh Era Baru News | Rabu, 08 Februari 2012 |
|
Pengidap lupus atau Odapus dikenal sebagai great imitator alias peniru ulung, atau disebut sebagai penyakit seribu wajah karena menyerupai penyakit lain. Lupus adalah jenis penyakit kronik yang saat ini di Indonesia penderitanya yang tercatat berjumlah 11.800 odapus. Memperingati Wolrd Lupus Days – Indonesia Mei 2012, Yayasan lupus Indonesia menggelar Butterfly Film Festival (BFF) dalam bentuk sosialiasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang Lupus atau nama lengkapnya Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Masyarakat luas diharapkan mempunyai pemahaman mengenai gejala awal dan konsekuensinya kesehatan akibat lupus yang terlambat terdeteksi. Khalayak luas diharapkan juga turut menyuarakan pentingnya penanganan lupus secara tepat. Terselenggaranya Butterfly Film Festival sebagai wadah untuk anak muda berkreasi secara langsung dan bisa mengemas secara bebas dalam berkarya. Judul film tidak ditentukan dengan tema tertentu asal berkaitan dengan lupus. Film yang dilombakan dalam bentuk video klip, iklan pendek, film dokumenter dan film cerita. Tidak diharuskan dengan menggunakan kamera profesional, peserta boleh menggunakan handphone, kamera digital dan i-Phone. Adapun durasi film maksimal 10 menit dan minimal 30 detik. “Diambil dengan durasi pendek dengan perbincangan dengan Damien untuk membuat sesuatu yang berguna dengan masyarakat tanpa perlu mengeluarkan biaya besar,” ujar Ketua Yayasan Lupus Indonesia, Tiara Savitri kepada Erabaru.net, Rabu (8/2). Adanya hasil dari karya film ini akan dijadikan sebagai bahan penyeluhun kepada masyarakat luas untuk memberikan pemahaman tentang lupus. “Hasil karya ini akan menjadikan penyuluhan secara pendek, kalau panjang ya cukup membosankan bagi masyarakat,” tutur Tiara. Penyuluhan kepada masyarakat yang dilakukan secara langsung terbatas dengan perorangan, oleh karena dengan adanya film-film tersebut diharapkan mempermudah sosialisasi lebih luas kepada masyarakat tentang lupus. Film ini juga akan dibawa pada kongres internasional di Argentina, April 2013. Ini sebagai bentuk keberadaan Indonesia kepada masyarakat Indonesia tentang lupus. Dengan demikian menjadi poin tersendiri bagi masyarakat internasional, film durasi pendek menjadi alat sosialisasi kepada masyarakat luas. “Kita ingin menunjukkan keberadaan Indonesia, Indonesia juga ada pasien lupus, kita juga dapat menghasil karya anak bangsa dengan film pendek yang mereka tidak harus profesional,” jelas Tiara. Butterfly Film Festival pada dasarnya sebagai bentuk kampanye kepada masyarakat tentang lupus, yang tidak hanya dikenal dalam bentuk seminar, talkshow dan medis yang lingkupnya masih terbatas dan pendekatan sosialisasi cenderung menjemukan. “Sekarang kita terhambat penyuluhan dalam medis, talkhshow yang menjemukan, bagaimana lebih tertarik dan jaun lebih tertarik maka kita adakan dengan pendekatan seni,” kata Tiara. Adapun dewan juri tergabung dalam festival film ini adalah Damien Dematra selaku Produser dan Sutradara, Donny Damara selaku nominator aktor Asia terbaik dan Tiara Savitri selaku Ketua Yayasan Lupus Indonesia. Penentuan film hanya 10 menit agar nantinya kompitator muda lebih fokus dalam pembuatan film, kalau lebih dari durasi itu diharapkan tidak membebani kreator muda dari segi pembiayaan dan film. Hal yang menjadi pertimbangan utama adalah sejauh kuatnya makna dan ide dari cerita film. “Jadi memang lebih fokus, disamping itu kita mengajak anak muda agar lebih membantu, kalau idenya bagus ya bisa saja dinaikkan di layar lebar,” kata Damien Dematra. Mempunyai ide yang kuat dinilai mampu membangkitkan pengetahuan dan ketertarikan masyarakat tentang lupus. Kuatnya ide dan cerita lebih penting dari pada faktor teknikal, lighting dan kru yang sedemikian besar. “Intinya adalah tema lupus itu sendiri, kuatnya dicerita untuk sosialisasi tentang lupus itu sendiri,” ujar Doni Damara. Bagi yang berminat ikut serta, waktu terakhir penyerahan hasil karya film selambat-lambatnya 21 April 2012 ke alamat Sekretariat Yayasan Lupus Indonesia yang berkantor di Rumah Sakit Kramat 128 Jalan Kramat Raya No 128, Jakarta Pusat. (mas/asr) |
Cari Artikel di Era Baru :
Ingin berita terkini EB muncul di Beranda Anda?
Ayo, gabung bersama ribuan penggemar lainnya!

- Disambar Petir
- MA dan Menkumham Berikan Pertimbangan Grasi Corby
- Ancaman Peningkatan Program Nuklir Korut
- Robot Ikan Untuk Memerangi Polusi
- OECD: Krisis Eropa Dapat Menghambat Pemulihan Global
- Istri dan Pembelot Akan Segera Diadili
- Bagaimana Anjing Merespon Bahasa Manusia?
- Trik Psikologi untuk Mempermudah Diet
- Mengungkap Misteri Rahasia Kalender Maya
- Kisah Bocah 8 Tahun Nasehati Koruptor
- Apakah Manusia Memiliki Kemampuan Paranormal?
- Peneliti Terus Selidiki Misteri Gunung Padang
- Lukisan Paling Tenang
- Pecahkan Kasus Pembunuhan Melalui Serangga
- Jackie Chan Mundur dari Film Laga
- Pendekatan Penelitian Reinkarnasi

Jakarta – Masyarakat hanya tahu penyakit jantung, kanker dan AIDS merupakan penyakit yang berbahaya, namun tidak banyak tahu apakah penyakit lupus itu. Pengetahuan dan pemahaman masyarakat akan lupus diperlukan untuk mengenal lebih dekat tentang lupus.


Mozilla Firefox