Era Baru News >> Top News >> Internasional >> Ketika Jurnalis Terluka
Ketika Jurnalis Terluka
Ditulis oleh Oleh: James Burke Jumat, 03 September 2010

Thailand - Satu dekade yang lalu, saya membaca buku otobiografi Bang Bang Club. Buku itu berkisah tentang liputan dari empat foto journalis muda Afrika Selatan berkulit putih. Sebuah liputan berupa foto yang mengungkap  transisi menyakitkan bangsa mereka menuju demokrasi.

Sebuah film dirilis tahun itu berdasarkan pada buku ini. Film ini dibintangi oleh Ryan Philippe dan berhasil masuk nominasi  Academy Award 2006 sebagai nominasi film dokumenter yang berkisah tentang wartawan foto Kevin Carter. Ia adalah salah satu anggota Bang Bang Club.

Carter adalah yang paling terkenal dari empat orang itu, khususnya karena foto kontroversialnya pada 1993. Sebuah foto yang mengabadikan seorang anak kurus kering Sudan yang terancam dibayang-bayangi oleh burung bangkai.

Foto itu membuatnya mendapatkan Hadiah Pulitzer. Namun demikian, Carter dikritik karena tidak menyelamatkan anak itu dari burung bangkai yang mengincarnya.

Hanya beberapa bulan setelah menerima penghargaan itu, Carter memutuskan untuk bunuh diri dalam usianya yang 33 tahun. Kematiannya mengacu pada bagian karena menyaksikan begitu banyak kesengsaraan.

Tulisan dalam surat wasiatnya, dia mengatakan permintaan maafnya.

"Saya benar-benar minta maaf. Penderitaan dalam kehidupan menghapus kebahagian pada suatu titik dimana kebahagian menjadi  tidak eksis," demikian bunyi surat itu.

Nasib anak kelaparan yang difotonya itu tidak diketahui.

Fotografer Bang Bang Club, Ken Oosterbroek juga meninggal pada tahun yang sama seperti Carter. Ken ditembak ketika meliput kekerasan politik di Johannesburg, Afrika Selatan. Mereka meninggalkan dua anggota klub yang masih hidup yaitu Greg Marinovich dan Joao Silva. Anggota klub yang tersisa itu akhirnya menulis buku mereka.

Seperti biasanya, saya mengerjakan pekerjaan saya mengedit berita minggu ini.   Saya mensortir beberapa gambar, mencari gambar yang paling sesuai. Sebuah gambar yang akan mendukung artikel terbaik yang sudah dipilih. Ada foto korban banjir di Pakistan, situasi sandera Filipina, kerusuhan Kashmir, dan korban serangan pengrusakan tajam di Kamboja. Di sisi lain dari gambar itu terdapat seorang fotografer. Saya bertanya-tanya bagaimana mereka (para fotografer) menghadapi situasi mengerikan seperti yang mereka saksikan dan rekam.

Belum lama ini, Bangkok pusat menjadi seperti zona perang. Hal ini menarik ratusan pers internasional untuk memburu sebuah cerita yang menjanjikan konfrontasi berdarah.

Apa yang saya pribadi lihat pada 19 Mei adalah sangat mengerikan. Militer Thailand balik menyerang mengusir pengunjuk rasa anti-pemerintah kaos merah dari benteng perkemahan mereka. Ada 16 orang tewas dan pengunjuk rasa membakar lebih dari 30 bangunan di berbagai lokasi di seluruh ibukota Thailand.

Diantara korban yang tewas terdapat nama Fabio Polenghi. Fabio adalah seorang wartawan foto Italia. Tidak jelas siapa yang membunuh Fabio, sama seperti yang dialami Hiro Muramoto, juru kamera Reuters berkebangsaan Jepang.  Kematian Hiro masih tetap menjadi misteri. Tidak tahu siapa yang menembak mati Hiro dalam bentrokan 10 April antara tentara militer dan para demonstran.

Sembilan wartawan lainnya luka-luka saat meliput kerusuhan antara April - Mei. Baik Komite Perlindungan Wartawan (CPJ) dan Reporters Without Borders mengeritik militer dan pengunjuk rasa karena kecerobohan menewaskan mereka. CPJ juga menuduh pemerintah Thailand melakukan usaha minimal dalam menyadarkan orang-orang untuk memperhitungkan setiap serangan terhadap wartawan. (EpochTimes)