Era Baru News >> Top News >> Internasional >> Tentara Suriah Lancarkan Serangan Besar-besaran
Tentara Suriah Lancarkan Serangan Besar-besaran
Ditulis oleh Alex Johnston Kamis, 09 Februari 2012

alt

Aktivis Suriah mengatakan pada Senin (6/2) bahwa pasukan keamanan telah menembakkan rudal, mortir, dan artileri di lingkungan di Homs, kota yang telah dikepung oleh tentara sejak pemberontakan itu dimulai 10 bulan lalu.

Jaringan aktivis Komite Koordinasi Daerah (LCC) mengatakan ada sedikitnya 37 orang tewas di Homs, oleh tembakan rudal pasukan rezim di lingkungan Baba Amro “selama berjam-jam.” Rekaman video yang diupload ke Youtube menunjukkan pemandangan sebagian dari kota, dengan ledakan hampir konstan terjadi di kejauhan.

Para aktivis mengatakan pemerintah memotong sebagian besar telekomunikasi di Baba Amro dan lingkungan lain di Homs.

Sementara itu, ada ledakan besar terjadi di lingkungan Al Waer, yang diselingi oleh tembakan intensif terus menerus, menurut LCC. Tembakan dan ledakan keras di lingkungan Zaytoun Karam membuat para penduduk panik.

Seorang saksi di Homs mengatakan kepada televisi Al-Arabiya bahwa "ini adalah penembakan yang paling intensif terhadap Baba Amro sejak awal protes."

Saksi mata mengatakan helikopter militer terlibat dalam penembakan, menyebabkan beberapa bangunan runtuh. "Tujuh bangunan tempat tinggal runtuh sebagai akibat dari penembakan intensif Suriah terhadap Homs," kata seorang aktivis LCC kepada stasiun TV.

"Homs menyaksikan perang nyata," kata aktivis.

Para aktivis mengatakan bahwa Homs, yang merupakan pusat resistor anti-pemerintah, telah diserang oleh pemerintah terus-menerus selama beberapa hari terakhir.

"Ini adalah serangan besar-besaran, pembantaian baru sedang terjadi di sini," kata aktivis Abu Abdo Alhomsy kepada televisi Al-Jazeera. "Tidak ada yang bisa keluar, kita tidak tahu berapa banyak rumah telah hancur atau berapa banyak orang yang tewas."

Amerika Serikat pada Senin mengumumkan bahwa mereka akan menghentikan semua operasi di Kedutaan Besar Amerika di Damaskus, menambahkan bahwa semua staf telah meninggalkan negara itu. "Lonjakan terakhir pada kekerasan, termasuk pemboman di Damaskus pada 23 Desember dan 6 Januari, telah menimbulkan kekhawatiran serius bahwa Kedutaan Besar kita tidak cukup terlindungi dari serangan bersenjata," tulis pernyataan dari misi diplomatik.

Sekitar seminggu yang lalu, pembelot tentara Suriah mengambil alih bagian dari pinggiran kota Damaskus, yang mendorong pemerintah untuk menggunakan tank dan ribuan pasukan untuk merebut kembali tempat tersebut.

Rusia dan China pada pada Sabtu memveto resolusi Dewan Keamanan PBB mengutuk kekerasan negara di Suriah yang dianjurkan oleh Liga Arab, yang memancing kecaman dari negara Barat dan Arab. (Epoch Times/dia)