Era Baru News >> Top News >> Internasional >> Korban Pembantaian Batang Kali Tuntut Pemerintah Inggris
Korban Pembantaian Batang Kali Tuntut Pemerintah Inggris
Ditulis oleh Erabaru News   
Selasa, 08 May 2012 09:22

alt

Sejumlah keluarga korban kasus pembunuhan masal di Batang Kali, Malaysia oleh tentara Inggris pada 1948, menuntut dilakukan sebuah penyelidikan.

Pembantaian tersebut telah menwaskan 24 anggota keluarga mereka. Mereka menyebut kematian keluarga mereka itu sebagai 'pembunuhan massal berdarah dingin'.

Pembunuhan di Batang Kali itu berlangsung ketika Malaysia masih menjadi bagian dari Kerajaan Inggris.

Tiga orang anggota keluarga korban hadir dalam konferensi pers di London, Senin 7 Mei 2012. Dua di antara mereka masih berusia belasan tahun ketika pembunuhan terjadi.

Salah seorang dari mereka mengatakan bahwa ketika ayahnya dibunuh, dia berusia 11 tahun dan hingga saat ini masih marah dengan pembunuhan itu.

Pengacara Inggris yang mendampingi keluarga korban, John Halford, mengatakan yang terjadi adalah pelanggaran hak asasi manusia.

"Yang terjadi di Batang Kali merupakan pelanggaran hak asasi yang amat serius berdasarkan pandangan apa pun."

"Itu merupakan pembunuhan massal atas 24 otang yang tidak bersenjata yang dari pandangan apa pun bukan merupakan pejuang dan tidak memberi ancaman kepada pasukan Inggris yang membunuh mereka," tambahnya.

Hingga saat ini sudah ada dua penyelidikan sehubungan dengan kasus Batang Kali, yaitu pada tahun 1948 dan tahun 1970.

Namun keluarga korban mengatakan kedua penyelidikan tersebut lebih merupakan sekedar upaya membersihkan kejahatan yang sebenarnya terjadi.

Mereka juga mengatakan memiliki sejumlah dokumen--termasuk kesaksian dari para tentara Inggris--yang bertentangan dengan hasil kedua penyelidikan itu.

Pemerintah Inggris secara resmi menolak penyelidikan namun keputusan itu kini akan digugat lewat pengadilan uji material yang digelar Selasa (8/5) dan Rabu (9/5) di pengadilan tinggi London.

Menurut pemerintah Inggris, korban adalah para pemberontak yang ditembak mati ketika sedang berupaya melarikan diri.

Sebuah pernyataan yang dikeluarkan pemerintah Inggris menyebutkan bahwa dalam peristiwa yang berlangsung lebih dari 60 tahun lalu itu, terjadi bentrokan dan sebuah penyelidikan secara umum tidak akan bisa menghasilkan rekomendasi untuk mencegah agar hal yang serupa terulang kembali di masa depan.

Pembunuhan dilakukan oleh sebuah peleton dari satuan Scots Guards pada masa yang disebut keadaan darurat di Malaysia, atau masa perlawanan yang diinspirasi dari idelologi komunisme atas pendudukan Malaysia yang berlangsung hingga akhir 1950-an. (Erabaru/bbc.co.uk/sua)

 

Bagikan halaman ini ke :

|