Era Baru News >> Wisata >> Pariwisata >> Ojek Sepeda, Batalkan Kepunahan Sepeda Onthel
Ojek Sepeda, Batalkan Kepunahan Sepeda Onthel
Ditulis oleh Andrie Yudhistira/ Era Baru Sabtu, 17 Juli 2010

wisataojeksepedaJakarta - Sepeda onthel? Tahukah Anda sepeda yang satu ini? Yups, sepeda onthel itu merupakan  salah satu sepeda klasik yang ada di Indonesia. Dahulu, di zaman penjajahan Belanda, sepeda ini masih menjadi transportasi andalan, bahkan sempat menjadi primadona di jamannya.

Namun seiring perkembangan zaman, transportasi 'ramah' lingkungan ini, sedikit demi sedikit mulai tersisihkan.

Inilah yang menarik keprihatinan banyak orang ataupun organisasi yang akhirnya berusaha membudayakan sepeda onthel. Mereka  rela merogoh kocek puluhan juta rupiah 'hanya' demi sepeda Onthel. Tujuannya hanya satu, yakni  membudayakan sepeda onthel tersebut.

Sebut saja Sutadi, seorang pria yang usianya sudah menginjak kepala tujuh ini, bertekad melestarikan sepeda tua tersebut.

Kondisi ekonomi yang kurang mapan pun tidak menghalangi Sutadi melestarikan sepeda Onthel. Caranya? Pria kelahiran 1938 ini sehari-harinya bekerja sebagai tukang ojeg. Eith, bukan ojek motor looohh, jangan salah. Ojek tidak selalu identik dengan sepeda motor, khususnya bagi Sutadi.

Profesi ojek yang dilakoni Sutadi adalah ojek sepeda atau sewa sepeda onthel di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta.

sutadi"Selain mencari nafkah, pekerjaan saya ini juga secara tidak langsung membudayakan sepeda onthel. Saya yakin, sepeda onthel akan mampu bertahan walaupun zaman sudah serba canggih," ujarnya saat ditemui Erabaru di kawasan wisata Kota Tua, Jakarta, Sabtu (17/07).

Bukan hanya satu bulan ataupun satu tahun pekerjaan ini ia lakoni. Kalau kita bisa memutar waktu, tepatnya sejak tahun 1985 lah Pak sutadi sudah mulai mengayuh sepeda onthel untuk mengepulkan asap dapur, guna menghidupi keluarganya.

Penghasilannya sehari-sehari pun tidak menentu. Terkadang saat nasib ga berpihak padanya, dalam sehari ia tidak mendapatkan seorang pun pelanggan.

"Ya, kalo lagi sepi ya sepi mas. Biasanya kalau rame itu Sabtu dan Minggu atau hari libur sekolah," ungkapnya.

Sutadi menarifkan sewa sepeda onthel itu Rp. 20 ribu untuk satu jamnya. Jika pengunjung minta diantar mutar-mutar tempat bersejarah lainnya, pria berkaca mata ini mengutip Rp. 25 ribu.

Tarif Rp. 25 ribu tersebut mungkin tak sebanding dengan keringat dan lelahnya pria tua tersebut. Karena ia harus mengantarkan penumpangnya ke lima tempat bersejarah lainnya, seperti Sunda Kelapa, Musium Bahari, Menara Syahbandar, Jembatan Kota Intan, dan Gedung Merah (Kota Merah).

"Lelahnya seperti apa, penghasilannya seperti apa, kita harus mensyukuri," katanya bernada ikhlas.

Hebatnya, dari cucuran keringat dan lelahnya itulah, ia sudah berhasil mengantarkan ke lima anaknya hingga lulus sekolah.

Nikmati Sepeda Onthel

sutadi2

Saat teriknya matahari di Sabtu (17/07) siang, manakala Erabaru berkunjung ke kawasan Kota Tua,  nampak pengunjung ramai  mendatangi kawasan wisata ini. Tidak hanya warga yang berdomisili di Jakarta, namun juga banyak wisatawan yang sengaja datang dari luar kota.

Adalah Siska, seorang mahasiswi Sanata Dharma, Jogjakarta, yang berkunjung ke Kota Tua ini untuk mengisi liburan kuliahnya. Gadis berumur 21 tahun ini datang bersama kedua temannya.

Mereka bertiga datang ke Kota Tua tidak hanya untuk berwisata saja. Jauh sebelumnya, mereka sudah merencanakan untuk menikmati sepeda onthel. 

Gadis berambut panjang ini menuturkan, baginya sepeda onthel itu lucu dan unik. Jadi tidak masalah sambil berwisata sambil naik sepeda onthel.

"Sepeda onthel itu lucu, unik. Selain bisa dikendarain, sepeda ini juga bisa buat foto-foto," ujarnya sambil tersenyum.

Kompetisi Dengan Ojeg Motor

ojeksepedapasarpagiTernyata, sepeda ontel pun tidak hanya 'diojegkan' atau disewakan di kawasan Kota Tua saja. Lihat saja di kawasan Pasar Pagi Lama, Jakarta, sepeda othel pun masih dijadikan ojeg sepeda.

Sayangnya, ojeg sepeda onthel harus berkompetisi dengan pesaing nya, yakni ojeg motor. Tidak tertutup kemungkinan, ojeg motor itu memangkas pendapatan para pengojeg sepeda onthel.

Namun tidak bagi Xi Ong, salah seorang pengojeg sepeda onthel di Pasar Pagi Lama Jakarta, menurutnya semua rezeki itu sudah ada yang mengatur.

"Rezeki mah udah ada jatahnya. Kami tidak merasa bersaing dengan ojeg motor. Kita sama-sama mencari nafkah. Walaupun keberadaan sepeda motor itu mengurangi pendapatan saya," ujar pria 54 tahun ini.

Nampaknya eksistensi sepeda onthel itu masih diakui dan menghidupi masyarakatnya. Meski tidak mendatangkan pundi-pundi rupiah yang menggiurkan, namun keberadaan sepeda onthel ini masih mampu mencetak rupiah untuk mencukupi kebutuhan hidup para pelakunya. Disadari atau tidak, Sutadi dan teman-teman seprofesinya telah melakukan tindakan mulia, melestarikan dan membudayakan sepeda onthel yang terancam punah ditelan perkembangan zaman.(ayt/waa)