Era Baru News >> Wisata >> Pariwisata >> Merapi versus Pariwisata
Merapi versus Pariwisata
Ditulis oleh Wayan Manuh/ Era Baru News Kamis, 18 November 2010

candiprambananYogyakarta - Kalangan  pariwisata dari lereng Gunung Merapi hingga Kota Yogyakarta kini merasakan pukulan telak dari dampak letusan.

Tempat-tempat wisata, hotel, rumah makan, biro perjalanan, toko cenderamata serta banyak usaha dari hulu ke hilir mengalami dampak domino merapi.

Erabaru melakukan beberapa kunjungan dan berbincang-bincang dengan beberapa kalangan yang bergerak dalam bidang pariwisata ini.

“Saya sangat optimis ini tidak berlangsung lama dan kami berharap media bisa memberitakan hal positip dari keadaan kita yang sedang lesu ini,” ujar Muhamad Munir, General Manager Sheraton Mustika Hotel, Yogyakarta.

Munir pun mengatakan agar wisatawan tidak usah takut berkunjung ke Yogyakarta.

“Anda lihat sendiri kehidupan di Jogja normal, lalu lintas dan perdagangan di kota juga berjalan normal,” tambahnya.

 Tingkat hunian dalam keadaan normal hotel berbintang lima ini 70 persen dari 246 kamar. Sedangkan sejak tanggal 5 sampai sekarang tingkat hunian hanya 20 persen.

“Harapan saya setelah airport di buka tingkat hunian akan meningkat,” kata Chairman JCJHA (Jogja Central Java Hotels Association) yang beranggotakan 36 hotel dan resort.

Sebenarnya Jogja berada dalam radius aman untuk penerbangan.

Grand Quality Hotel yang berlokasi tidak jauh dari Bandara adalah Hotel Bintang 4 mengandalkan pasar domestik dalam marketingnya.

Menurut Manager On Duty yang tidak ingin namanya dimuat mengatakan penurunan hunian hotel menurun drastic.

“Kalau keadaan biasa tingkat hunian kami 80%, sekarang hanya 40an persen,” ujarnya.

Dia mengatakan trend wisatawan domestik cenderung untuk menggunakan jasa penerbangan datang ke Jogja.

“Kalau Bandaranya ditutup otomatis kami tidak punya tamu. Karena konsep kami ‘airport hotel’,” ujarnya.

Bandara Adisutjipto hingga kini masih dinyatakan tertutup sampai tanggal 20 November.

Tidak ada yang bisa dimintai keterangan kecuali post satpam dan pengumuman dari Dephub tentang perpanjangan penutupan bandara dari 15-20 November yang ditempel di counter pembelian tiket airline.

Tampak, Lion Air hanya memasang pengumuman nomer telepon yang bisa dihubungi untuk mengubah atau menguangkan tiket yang sudah dibeli.

Sedangkan Garuda Indonesia yang membuka pelayanan dari pukul 06:00-17:00, mengatakan bahwa penumpang di ‘rerouting’ penerbangan dari Jogja ke Solo.

“Penumpang bisa dengan biaya sendiri ke Solo untuk menggunakan tiket pesawatnya dari dan ke Jogjakarta,” Kata Hendra salah seorang staff Garuda.

Obyek wisata bahkan jauh lebih merasakan dampak berantai ini.

pasaroleholehsepipembeliCandi Prambanan yang Era Baru Net kunjungi mengeluhkan hal yang sama.

“Waaduh penurunannya sangat drastis sampai 70-75persen,” ujar seorang penjaga di loket penjualan karcis.

Sedangkan Ripto, seorang juru pemandu foto Prambanan mengatakan kalau sebelum bencana pengunjung Prambanan sekitar 2000an per hari. Kondisi ini juga tampak berdampak pada toko-toko penjual cenderamata.

”Sekarang paling 100 orang per hari. Sepi sekali mas, hari ini baru ada pengunjung,” kata Yusuf seorang penjual batik di kios cendramata Prambanan.

Biro perjalanan yang merupakan rantai dari kunjungan wisata juga mengalami dampak yang serupa.

Wibowo, seorang staff dari Travel Biro FKA yang mempekerjakan 20 karyawan mengatakan jumlah wisatawan yang dihandlenya turun 60-70 persen.

Ibu Putu yang membidangi promosi di kantor pariwisata Yogyakarta, mengatakan dampak bencana sangat jelas terhadap kunjungan wisatawan.

“Mengenai persentase penurunan kunjungan wisatawan kami belum bisa jawab dengan angka, mungkin setelah rapat jajaran kepariwisataan di Sleman pada hari Jumat (19/11),” ujar Putu.(man/waa)