Era Baru News >> Wisata >> Pariwisata >> Makepung: Puluhan Pasang Kerbau Adu Cepat
Makepung: Puluhan Pasang Kerbau Adu Cepat Array Cetak Array  Surel
Ditulis oleh Budiastawa, Era Baru   
Minggu, 02 Agustus 2009 15:42

Lomba Makepung, NegaraMinggu pagi ini (2/8), puluhan kerbau berkumpul di sebuah hamparan sawah yang baru saja dipanen di Desa Pangkung Dalem, Negara. Mereka dihias layaknya penari yang siap pentas. Dengan mahkota nan indah keemasan di kepala, ditambah beragam hiasan warna-warni pada tanduk mereka, puluhan pasang kerbau ini terlihat cantik dan mewah. Namun bukanlah untuk mementaskan suatu tarian, tapi mereka harus berlari menarik gerobak cikar sekencang mungkin dengan ratusan pukulan sebatang rotan berduri besi dari sang joki.

Perlombaan tradisional yang dinamakan makepung ini merupakan satu warisan budaya di wilayah barat pulau Bali, yakni Kabupaten Jembrana. Perlombaan ini sifatnya beregu, terbagi menjadi dua blok; Blok Barat dan Blok Timur yang dipisahkan oleh sebuah sungai bernama Ijo Gading, yang melintang tepat di tengah kota Negara, ibu kota kabupaten tersebut. Tiap kali lomba, masing-masing blok mengeluarkan sedikitnya dua puluh pasang kerbau. Tidak ada juara perorangan dalam perlombaan ini, melainkan juara beregu yang biasanya dimenangkan oleh salah satu blok.

Ketentuan Menang yang Unik

Lomba Makepung

Dua pasang kerbau dari masing-masing blok dilepas dalam satu kali lintasan mulai start hingga finish yang menempuh jarak kurang lebih 3 kilometer. Kemenangan dihitung berdasarkan akumulasi setiap pelepasan. Ada yang menarik dalam menentukan siapa yang menang dalam lomba ini. Umumnya, siapa yang bisa mendahului lawannya, dialah pemenangnya. Tapi berbeda dengan lomba makepung ini. Sebelum meninggalkan garis start, jarak antar kedua pasangan ditentukan sebagai patokan, biasanya 10 meter. Apabila yang dibelakang bisa mengejar dan memperpendek jarak sebelumnya, meskipun tanpa mendahului, maka yang dibelakang ini dinyatakan menang. Sebaliknya apabila yang di depan bisa memperrenggang jarak sebelumnya dan jauh meninggalkan lawannya, maka dialah yang dinyatakan menang. Keduanya dinyatakan seri (draw) apabila jarak antar keduanya tetap hingga finish.

Untuk memenangkan pasangan kerbaunya, sang joki yang berdiri di atas cikarnya sambil memegang sebilah rotan berduri besi, harus berupaya membuat laju kerbaunya secepat mungkin. Ia sering terlihat beringas bak kesetanan, memukuli kerbaunya membabi buta demi untuk memperolah satu kata 'menang'.

Event tahunan yang bergengsi dari perlombaan ini adalah Bupati Cup dan Gubernur Cup. Sedangkan perlombaan rutin diselenggarakan hampir tiap dua minggu sekali. Maka tak heran kalau Kabupaten Jembrana ini dijuluki "bumi makepung" karena seringnya perlombaan ini diselenggarakan.

Tetesan Darah di Garis Finish

Lomba Makepung

Akibat pukulan yang bertubi-tubi dari sang joki, kerbau-kerbau ini mengalami luka lecet pada punggung mereka. Darah pun banyak menetes di sepanjang lintasan perlombaan itu. Namun menurut si pemilik kerbau, luka-luka ini bisa cepat disembuhkan dengan obat tertentu. Salah satunya dengan kerikan batang pohon pisang muda yang masih segar. Getah dari pohon pisang ini diyakini dapat lebih cepat menyembuhkan luka-luka itu.

Ketika ditanya apakah hal itu termasuk kekerasan dan penyiksaan binatang? Mereka mengatakan bahwa ini merupakan suatu tradisi yang mesti dilestarikan. Terlepas dari semua itu, event ini memang tidak seharusnya ditonton oleh anak-anak atau penyayang binatang.

Asal usul Makepung

Menurut berbagai sumber, tradisi makepung bermula dari kebiasaan para petani pasca panen padi, dimana pedati-pedati yang ditarik beberapa pasang kerbau sedang berarak mengangkut hasil panen dari sawah menuju rumah mereka. Ketika pedati masih kosong saat berangkat, maka pasangan kerbau yang menariknya kadang berlari karena ringan. Saat-saat inilah yang rupanya dimanfaatkan oleh sang empunya untuk mencurahkan rasa gembira atas panen yang berlimpah. Dengan perasaan riang diwarnai gelak tawa, para joki atau kusir ini berlomba memacu pedati mereka hingga ke tempat tujuan. Momen inilah yang kemudian menginspirasi para petani untuk menyelenggarakan lomba rutin balap kerbau semacam ini.(bud)

 

Bagikan halaman ini ke :

|