JAKARTA – Berbeda dengan tiga tahun terakhir, hasil intensifikasi pengawasan pangan selama Ramadhan dan jelang Idul Fitri 1437 H menunjukkan pangan kedaluwarsa menjadi temuan paling banyak.

Hal demikian disampaikan oleh plt Kepala BPOM, Tengku Bahdar Johan dalam jumpa pers di Gedung BPOM, Jakarta, Kamis (30/6/2016). Hasil intensifikasi pengawasan hingga 29 Juli 2016, Badan POM menemukan 5.052  item (212.356 kemasan) pangan tidak memenuhi ketentuan (TMK) dengan nilai keekonomian mencapai Rp 8,49 miliar.

Temuan BPOM, pangan kadaluwarsa didapatkan dari sarana retail dan gudang importir, dengan rincian 75.799 kemasan dengan nilai keekonomian Rp 3,03 miliar  pangan TIE (36%), 81.309 kemasan pangan kedaluwarsa dengan nilai keekonomian Rp 3,25 milyar (38%), dan 55.248 kemasan pangan rusak dengan nilai keekonomian Rp 2,209 miliar (26%).

Data yang dirilis oleh BPOM bahwa jenis pangan TIE yang paling banyak ditemukan adalah jenis pangan pasta, ikan dalam kaleng, kopi, daging, bumbu, dan permen dari Batam, Medan, Pekanbaru, Jakarta, dan Semarang.

Sementara hasil pengawasan takjil pada 2016, dari 6.613 sampel diketahui 6.145 sampel (92,92%) memenuhi syarat/MS dan 468 sampel (7,08%) tidak memenuhi syarat/TMS. Hasil pengawasan menunjukkan bahwa formalin menjadi bahan berbahaya yang paling banyak disalahgunakan dalam pangan.

Secara rinci, 203 sampel pangan mengandung formalin, 155 sampel pangan ditemukan mengandung rhodamin B, 99 sampel pangan mengandung boraks, dan 1 sampel pangan mengandung methanyl yellow.

Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya BPOM, Suratmo mengatakan perbandingan dari tahun ke tahun, pada 2013 nilai keekonomian TIE, Kadaluwarsa dan rusak mencapai Rp 13 Milyar dengan dominasi pangan TIE. Sedangkan pada 2014 jumlah temuan sitaan keekonomian mencapai Rp 29 Milyar dengan dominasi TIE.

Menurut Suratmo, pada 2015 temuan sitaan dengan nila keekonomian mencapai Rp 38 milyar dengan dominasi TIE. Pada tahun ini temuan TIE terus mengalami peningkatan dari pada tahun sebelumnya yang mencapai Rp 26 milyar, dibandingkan 2014 mencapai Rp 21 milyar dan 2013 mencapai Rp 6 milyar

Temuan pada 2016 ini, banyak pangan TIE ditemukan di daerah perbatasan dan pelabuhan/pintu masuk dan kota-kota besar yang memiliki daya beli tinggi.  Secara rinci, produk impor TIE banyak berasal dengan merek negara Malaysia, Tiongkok, Singapura, Thailand.

Sedangkan pangan kadaluwarsa banyak beredar di daerah jauh dari sentral produksi dan distribusi serta sulitnya akses transportasi. Adapun enis produk yang paling banyak ditemukan kedaluwarsa terdiri minuman ringan, bumbu, permen, minuman teh, makanan ringan dan biskuit. Pangan kadaluwarsa ditemukan di Jayapura, Makassar, Manado, Palembang dan Padang.

Hal sama dengan temuan TMK, banyak beredar di daerah jauh dari sentral produksi/distribusi dan handling buruk selama transportasi dan penyimpanan. Kondisi tersebut diperparah karena handling yang tidak baik. Adapun produk rusak umumnya minuman ringan, makanan ringan, kecap, susu kental manis, biskuit, ikan dalam kaleng, mie instan, dan susu bubuk.

Hasil ini berdasarkan pengawasan BPOM dilakukan Secara Mandiri Maupun Terpadu Di Seluruh Indonesia. Waktu kegiatan dilakukan mulai 2 Minggu Sebelum Ramadan s/d 1 Minggu Setelah Lebaran. Badan POM meminta masyarakat lebih pro-aktif dalam memilih produk yang dibeli dan melaporkan kepada Badan POM apabila ditemukan produk tanpa ijin edar, rusak, kedaluwarsa atau TMK label. (asr)

Share

Video Popular