Chuan Ren

Dalam Ketersesatan Tidak Menyadari Diri Sendiri Adalah Tamu

Ilmu astronomi sekarang ini dapat menjajaki gejala perubahan besar alam semesta yang kebanyakan diwujudkan dengan mengandalkan radio teleskop, sedangkan gelombang elektromagnetik yang dipergunakan radio teleskop dalam bekerja rata-rata adalah sinar yang tidak kasatmata. Itu sebabnya galaksi yang dijajaki oleh mereka banyak sekali juga tidak dapat dilihat oleh mata,  di antaranya termasuk ‘dark matter.’ DarkMatter adalah  materi yang tidak dapat bereaksi dengan gelombang elektro magnetik, saat ini hanya dapat diketahui melalui interaksi gravitasi.

Pada 2014 radio teleskop dengan kaliber 500m yang dipakai di Guizhou Tiongkok, beberapa parameter teknis penting seperti kepekaan, resolusi dan multi-beam rata-rata dipilih pada band L. Menurut  standar IEEE 521-2002, yang dimaksud dengan band L adalah gelombang radio dengan band frekuensi 1-2 GHz, panjang gelombangnya di antara 0,15m ~ 0,3m termasuk frekuensi ultratinggi (UHF).

Secara teoritis yang nampak oleh mata manusia adalah panjang gelombang di antara 312nm ~ 1050 nm (sesungguhnya lebih sempit), sebab itu band frekuensi gelombang elektro magnetik yang dipakai dalam radio teleskop sama sekali tidak berada dalam tingkat yang sama dengan yang dapat nampak oleh mata manusia.

Dipandang dari teori elektro magnetik Maxwell, gelombang radio, sinar infra merah, sinar kasat mata, sinar ultraviolet, sinar X,  sinar gamma, sinar r semuanya adalah materi yang sejenis, secara umum disebut gelombang elektro magnetik. Untuk memperoleh pengertian yang menyeluruh terhadap berbagai jenis gelombang elektro magnetik, para ilmuwan telah menderetkan gelombang elektro magnetik sesuai dengan panjang gelombang atau frekuensi, jumlah gelombang dan energinya ke dalam spektrum gelombang elektro magnetik.

Dalam spektrum gelombang elektro magnetik lingkup panjang gelombang yang bersesuaian dengan berbagai jenis gelombang elektro magnetik berada pada <10-12m ~ 106km, sinar kasatmata yang dapat dilihat oleh manusia di dalam seluruh spektrum gelombang elektro magnetik menduduki lingkup yang sangat sempit, hampir-hampir dapat diabaikan.

Sinar kasat mata yang dapat dilihat mata manusia tidaklah identik dengan sinar kasat mata hewan lain. Contoh yang paling hidup adalah anjing atau kucing yang pada malam hari penglihatan mereka akan menyolok lebih baik daripada penglihatan manusia. Hal ini menjelaskan bahwa pada malam hari mereka dapat melihat dengan jelas gelombang elektromagnetik frekuensi lain, dan gelombang elektromagnetik seperti ini tidak dapat dilihat oleh manusia.

Riset kedokteran zaman ini menemukan, selaput jala mata (retina) manusia mengandung dua jenis cellula  visualia, masing-masing disebut “cone cell” dan “rod cell.” “Cone cell” dibagi lagi dalam tiga jenis, masing-masing untuk mengenali warna merah,  hijau dan biru. Setiap jenis warna cone cell dapat menangkap rangsangan suatu lingkup panjang gelombang tertentu dari gelombang elektromagnetik, di dalam lingkup panjang gelombang tersebut, tingkat kepekaan persepsinya adalah kecil di kedua ujung dan besar ditengahnya.

Selain manusia, jumlah cone cell yang dimiliki masing-masing hewan tidak sama, misalnya ikan hiu hanya memiliki satu jenis cone cell, anjing memiliki dua jenis, kakatua memiliki empat jenis, kupu-kupu lima jenis, sedangkan oratosquilla oratoria (baylobster, jenis udang) memiliki 16 jenis. Namun kebanyakan cone cell milik hewan dapat menangkap gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang di antara 250nm ~ 700nm, agak lebih lebar daripada lingkup yang dapat ditangkap manusia.

Lagi pula riset menemukan banyak serangga memiliki mata majemuk, dapat melihat sinar ultraviolet dengan panjang gelombang 330 ~ 400 nm, lampu sinar ultraungu memanfaatkan hal ini untuk menjebak serangga, karena serangga peka terhadap band frekuensi sinar ultraviolet ini, namun mata manusia tidak peka.

Hal yang erat berhubungan dengan penglihatan manusia adalah pendengaran manusia, lingkup getaran frekuensi yang dapat ditangkap oleh telinga manusia adalah di sekitar 20 ~ 20.000 Hz. Biasanya lingkup ini disebut frekuensi suara. Riset sekarang menyatakan bahwa pendengaran manusia di antara hewan tidak termasuk yang paling peka, lingkup pendengaran kelelawar berada pada 1000 ~ 120.000 Hz, lingkup pendengaran anjing adalah 15 ~ 50.000 Hz, itu sebabnya suara yang tidak terdengar manusia mungkin masih dapat didengar oleh hewan-hewan tertentu.

Dilihat dari sudut pandang ilmu pengetahuan zaman sekarang, sesungguhnya manusia hidup di dalam lingkungan berbagai gelombang elektromagnetik yang kompleks, apabila bukan karena lapisan atmosfir bumi yang merintangi berbagai macam sinar alam semesta yang berdampak buruk, umat manusia sudah sejak lama dimusnahkan oleh bermacam-macam sinar alam semesta berenergi tinggi. Berbagai fakta dewasa ini semua menunjukkan bahwa yang dapat dilihat, yang dapat didengar, yang dapat dikenali umat manusia semuanya terbatas pada lingkup yang sangat sempit. Bagi alam semesta yang maha luas, bagi benda-benda langit dan galaksi yang maha besar dan tidak kelihatan, manusia dengan penglihatan, pendengaran dan inderanya yang amat sangat dibatasi sesungguhnya adalah tengah berada di dalam ketersesatan.

Hal yang dibatasi pada manusia bukan hanya penglihatan, pendengaran dan kesadaran, masih termasuk pula pola pikir yang sudah dianggap biasa oleh manusia. Cara berpikir manusia pada umumnya mengikuti pola berpikir tetap sebagai kebiasaan yang berfokus pada diri sendiri (egosentris), yang berfokus pada nafsu keinginan dan emosi serta mengutamakan kepentingan pribadi. Pola pikir tetap yang merupakan kebiasaan ini sangat menghambat lebih banyak manusia mengenali dunia materi yang sesungguhnya, juga telah menghambat kita untuk menjajagi dan mengenali asal usul kehidupan.

Banyak sekali ahli ilmu pengetahuan besar yang terkenal dan mereka yang sekarang sangat berhasil. Akar keberhasilan mereka yang sedemikian besar adalah karena mereka berani menerobos pola pikir tetap yang sudah menjadi kebiasaan umum serta pengenalannya terhadap sesuatu, dapat menggunakan akal budi untuk memikirkan suatu masalah secara independen, dapat menggunakan akal budi untuk memutuskan dan membuktikan secara independen.

Sedangkan pandangan orang pada umumnya terhadap suatu masalah biasanya didominasi oleh konsepsi yang memang sudah ada, pola pikir tetap yang mengandung konsepsi ini justru mengakibatkan kebanyakan orang sulit untuk mengenali lingkungan hidup kita dan berbagai hal dengan akal budi yang rasional. Dari sudut pandang ini saja, teori evolusi dan agnostisisme yang menjadi dasar bagi kaum atheis adalah sangat tak absurd dan sempit, atheisme pada dasarnya merupakan suatu perwujudan pemikiran emosional.

Kalau konsepsi yang sudah ada tergabung menjadi satu dengan emosi akan menjadi pola pikir tetap emosional, pola pikir tetap emosional semacam ini membuat kita menjadi lebih sulit untuk benar-benar mengenali sesuatu, untuk hal tersebut buku “Zhuan Falun, Kitab ke dua” dalam artikel “Sifat Kebuddhaan” telah mengulasnya dengan sangat luas, mendalam dan tuntas. Sesungguhnya buku “Zhuan Falun” beserta “Zhuan Falun, Kitab ke dua” benar-benar adalah seperangkat kitab langit untuk umat manusia dalam mengenali alam jagad raya, prinsip hukum yang berhubungan dengannya malah belum pernah muncul dalam sejarah umat manusia.

Dari apa yang diuraikan di atas, penglihatan, pendengaran, perasa dan pikiran umat manusia semuanya mendapat pembatasan yang cukup besar, justru pembatasan ini membuat kita seluruh masyarakat umat manusia berada dalam ketersesatan sehingga tidak mampu mengetahui dengan jelas perihal tubuh manusia, kehidupan dan alam semesta.

Karena kita telah terbenam dalam ketersesatan dalam jangka waktu lama, maka kita sekarang berada dalam kondisi “Dalam ketersesatan tidak menyadari bahwa diri sendiri adalah tamu.” Kita tidak lagi mengetahui dengan jelas siapa sebenarnya diri kita, tidak jelas dari mana kita berasal, tidak jelas makna dan misi hidup kita, lebih tidak jelas lagi akan kemanakah jiwa kita ini (setelah ajal) kelak?

BERSAMBUNG

Share

Video Popular