Erabaru.net. Ketika anak-anak lahir ke dunia, sambil melihat raut wajah damainya yang halus, sempat terlintas dalam benak saya bagaimana ya kira-kira dengan masa depan anak ini ? Orang-orang hebat dan pembunuh berdarah dingin yang tercatat dalam sejarah semuanya memang tampak polos dan manis saat baru lahir. Lantas apa yang telah membentuk karakter mereka, sehingga mereka melangkah ke dalam perjalanan hidup yang tidak sama ? Sambil merenung, tiba-tiba kata-kata atau wejangan dari kakek terngiang di telinga saya : “Tidak apa-apa jika memang bukan terlahir sebagai orang yang berbakat sekolah, tapi mendidik anak-anak bagaimana bersikap dan berprilaku ( karakter ) itu jauh lebih penting dari segalanya.”

Ya, meskipun saya tidak bisa memprediksi masa depan anak, tapi saya bisa mendidik setiap langkah perjalanan hidupnya. Keluarga merupakan lingkungan pertama yang bersentuhan langsung dengan anak, sementara orang tua adalah obyek pertama yang diteladaninya (meniru tingkah lakunya ), jadi, setiap ucapan dan perilaku kita akan berpengaruh langsung terhadap mereka.

Selain merawat dan mencurahkan perhatian atas hidup mereka, tanggungjawab yang paling utama dari orang tua adalah membantu anak-anak membangun atau membentuk rasa moralitas dan nilai-nilai dari pandangan hidup yang benar, begitu anak-anak memiliki karakter murni yang baik, maka dengan sendirinya ia tidak akan menapak ke jalan yang menyimpang dalam berperilaku. Lantas, bagaimana mendidik moralitas yang abstrak ini pada mereka ?

Lembut, santun dan menghormati

Masih terbayang dalam benak saya diajarkan tentang “tata krama” sejak kecil, yakni sikap yang santun dan perilaku yang jujur, namun bagaimana menjalani semuanya itu dengan baik, sepertinya masih agak samar-samar bagi saya untuk memahaminya, karena masih kecil. Saat masih muda, ibu saya orangnya selalu ceplas ceplos (terbuka dan terus terang), tidak peduli benar atau tidak, ibu tidak akan mengalah kalau merasa benar, karena sering melihat ibu seperti itu, saya pun meniru nada ucapan ibu dalam berbicara dan meneladani beberapa kata-katanya yang tidak enak didengar. Kakak ibu, atau bibi saya, merasa tidak nyaman dengan sikap ibu seperti itu, bibi selalu menasihatinya, tapi tidak pernah ibu dengarkan, sebaliknya malah kerap menentang bibi.

Dua tahun kemudian, ibu saya tiba-tiba menyadarinya, ia merasa dirinya bersalah, lalu sambil membawa saya ia memberanikan diri mengakui kesalahnya pada bibi. Namun, tak disangka, baru masuk ke pintu, anak bibi yang berusia 8 tahun, di mana setelah melihat ibu beberapa detik kemudian, diluar dugaan berkata sambil menunjuk : “Kau bibi yang tidak tahu sopan santun, marah-marah tanpa sebab.” Ibu terkejut mendengar kata-kata bocah ini, tak disangka peristiwa dua tahun lalu itu masih terukir dalam hati anak-anak.

Mendengar itu, ibu seketika berjongkok di lantai dan dengan hati-hati berkata pada sang anak : “Ya, bibi memang tidak baik waktu itu, suka bicara sembarangan, tidak sopan, bibi yang salah, sikap bibi juga tidak baik, bibi datang meminta maaf sama kamu, juga meminta maaf sama ibu kamu, lain kali bibi tidak akan bersikap seperti ini lagi.”

Kata-kata ibu yang tulus itu seakan-akan menjatuhkan bom kejut dalam hati saya, ketika itu saya baru berusia 9 tahun, tapi sepertinya saya pun seketika mengerti, terlepas dari orang dewasa atau anak-anak, tidak peduli berapa lama waktu telah berlalu, selama kita melakukan kesalahan, maka sudah selayaknya kita bertanggungjawab atas tindakan kita sendiri. Sejak itu, ibu pun mengoreksi sifatnya yang suka marah-marah, dan karena pengaruh ibu, sifat saya pun menjadi lebih lembut.

Sampai setelah saya sendiri berpredikat sebagai seorang ibu dari anak-anak, saya masih sering teringat dengan kejadian waktu itu, ucapan anak-anak yang tanpa sadar itu, merepresentasikan pengaruh yang besar dari orang tua yang “mengajar dengan teladan”. Kelak tidak peduli menghadapi kekecewaan sebesar apa pun dalam kehidupan sehari-hari, saya tidak akan pernah melampiaskan emosi negatif kepada anak-anak, dan tidak peduli berapa banyak kerepotan yang dibuatnya dalam kehidupan sehari-hari, saya tidak akan berteriak marah, atau mengumpat sembarangan, saya hanya akan menunjukkan kesalahan supaya dikoreksi, dan dengan lembut tapi tegas membuatnya supaya mengerti di mana bisa berbuat lebih baik.

Selain itu, dalam kehidupan sehari-hari, saya membimbingnya untuk belajar tentang etika sopan santun dan membawanya belajar antri dan menunggu secara tertib. Dengan memberikan ajaran secara lisan dan contoh tauladan dari orang tua, bisa membuat anak-anak menjadi lebih “lembut dan menjaga etika santun” di manapun dalam lingkungan masyarakat. Menghormati orang lain adalah pelajaran pertama yang saya pelajari dalam hidup, dan saya berharap bisa membuat anak-anak belajar tata susila atau kepribadian seperti ini.

Menjadi sosok pribadi yang jujur, adil dan dapat dipercaya

Sejak kecil saya juga memahami bahwa bukan hanya kita pribadi tahu persis dengan setiap langkah yang kita lakukan, keluarga kita juga tahu, dan yang paling utama adalah Tuhan juga tahu dengan segala yang kita lakukan. Semasa kanak saya suka nonton TV, masih hangat dalam ingatan saya ketika ayah dan saya membuat peraturan sederhana yang harus dipatuhi bersama, mewanti-wanti saya baru boleh nonton TV selama setengah jam setelah selesai mengerjakan tugas sekolah (PR). Tapi saat ayah belum pulang, saya manfaatkan kesempatan untuk nonton sambil mengerjakan PR sekolah, pesawat TV baru saya matikan ketika mendengar suara kunci pintu dibuka ayah, dan saya akan pura-pura serius mengerjakan PR, saya mengira cara saya ini cukup sempurna tidak akan diketahuinya.

Namun, pada suatu hari, ketika saya menggunakan trik seperti itu lagi, saya menundukkan kepala pura-pura membaca buku, sementara ayah duduk di samping saya, dan berkata dengan serius : “Bukankah kamu sudah berjanji sama ayah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dulu sebelum nonton TV ? Ketahuilah, ayah sudah memantau selama seminggu, hanya ingin melihat apakah kamu bisa melaksanakan janjinya, tapi tak disangka, kamu bukan hanya tidak sanggup melakukannya, bahkan membohongi ayah dan menipu diri sendiri dengan cara pura-pura mengerjakan PR. Ayah bisa mendengar suara dari pesawat TV yang kamu nyalakan, apa kamu pikir ayah tidak tahu hal itu ? Meski ayah tidak mendengarnya, tapi apa kamu pikir yang di Atas (sambil menunjuk jari) tidah tahu ?

Kata-kata ayah membuat saya malu, dan untuk pertama kalinya baru saya sadari, bahwa hal-hal buruk yang kita lakukan itu diketahui orang lain, apalagi yang di Atas (Tuhan) sana juga menatapi kita setiap saat! Sejak itu, tidak peduli ayah di rumah atau tidak, dengan sungguh-sungguh saya kerjakan PR saya, mematuhi perjanjian dengan ayah, karena hanya dengan kejujuran baru bisa membuat orang percaya, dan mendapakan rasa hormat dan pujian postif. Selain itu, saya juga menyadari bahwa, meskipun bibir ini tidak pernah berbohong, tapi perilaku atau tingkah laku kita sendiri juga telah menyingkapkan ketidakjujuran kita. Ternyata berkata bohong itu tidak terletak pada “tutur kata”, tapi lebih pada “perilaku” yang terbuka dan terus terang, tidak hanya harus jujur pada orang tua, tetapi juga jujur terhadap hati nurani, dan hanya dengan sungguh-sungguh melakukan segala sesuatunya dengan baik, baru tidak akan merasa bersalah pada hati nurani sendiri.

Karena itu, sejak kecil saya mendidik anak-anak untuk belajar membentuk karakter dan sosok pribadi yang “jujur”. Sehubungan dengan itu, ketika anak mulai berbohong, dan bertingkah tidak seperti biasa, kita harus terlebih dahulu memahami apa yang dipikirkan mereka ? Kepribadian dan kebiasaan jujur anak-anak itu perlu rasa empati, rasa hormat dari kita, memahami pikiran dan perasaan anak dari hal-hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, membimbing mereka untuk menghadapi rasa takut dan kelemahan mereka sendiri, selama kita yakin terhadapnya, maka mereka juga akan memiliki keyakinan terhadap dirinya sendiri untuk menjadi sesosok pribadi yang “jujur, adil dan dapat dipercaya” !

Karakter menentukan masa depan anak

Karakter merupakan ungkapan kata yang berasal dari bahasa Yunani kuno, charassein, yang berarti “mengukir” atau “dipahat”, pola perilaku yang bersifat individual, keadaan moral seseorang. Pembentukan karakter atau kepribadian yang perlu dipelajari dalam sepanjang hidup anak-anak itu terlalu luas sifatnya, selain mengandung makna sebagai rasa hormat menghoramati, menjaga tata krama, jujur, dapat dipercaya, dan juga rasa tanggungjawab, simpati, toleransi, keikhlasan, kepercayaan, kerjasama, kesabaran, keadilan dan sifat-sifat kejiwaan, akhlak, budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.

Semua sifat dari karakter itu penuh dengan makna moralitas. Pendidikan adalah sebuah jalan yang panjang dan berliku-liku, tapi efek yang diperoleh juga sangat dalam. Tidak peduli bagaimana perubahan dunia, hanya dengan memperbaiki ( karakter ) pribadi lebih dulu, mengoreksi hati dan pikiran, baru bisa membuat karakter atau kepribadian yang baik itu menentukan perjalanan hidup anak-anak dan memengaruhi masa depan mereka !Epochtimes/ Shen Rong/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular