Oleh Shi Xuan

Akibat rezim Ankara menuduh pemerintah AS berada di belakang kudeta militer yang gagal pada 15 Juli 2016 malam lalu, keesokan harinya AS mengeluarkan pernyataan peringatan kepada Turki bahwa tuduhan itu salah alamat dan ucapan yang sembarangan akan merusak hubungan kedua negara.

Sementara itu, otoritas memblokir pangkalan udara di Turki meskipun tidak mempengaruhi pengoperasian fasilitas AS di pangkalan. Namun, hubungan bilateral telah menunjukkan tanda-tanda keretakan.

Setelah kudeta berakhir dengan kegagalan, Presiden Recep Tayyip Erdogan menduga ulama karismatik Fethullah Gulen yang kini tinggal di Pennsylvania adalah orang yang mendalangi kudeta militer tersebut. Oleh karena itu ia meminta AS untuk mengekstradisi Gulen ke Turki untuk diadili.

Selain itu, Presiden Recep juga menyinggung tentang Turki yang selama ini belum pernah menolak permintaan AS untuk mengekstradisi orang yang dituduh sebagai teroris.

Menteri Tenaga Kerja Turki juga mengatakan bahwa pemerintah AS berada di belakang kudeta tersebut. Menlu AS John Kerry yang sedang berada di Luxembourg pada Sabtu (16/7/2016) memperingatkan Turki agar tidak sembarangan mengeluarkan tuduhan.

“Itu sama sekali tidak benar,” kata Kerry.

Kerry menegaskan bahwa kedua negara adalah sekutu NATO, sehingga setiap tuduhan mengenal keterlibatan AS dalam kudeta itu hanya akan merusak hubungan bilateral.

Menurut Kerry, Turki harus bisa membuktikan bahwa Gulen melanggar hukum. Dengan demikian, AS baru akan membuat penilaian yang tepat untuk mempertimbangkan ekstradisi yang bersangkutan. Fethullah Gulen telah membantah bahwa dirinya terlibat dalam kudeta militer di Turki malam hari itu.

Bagaimana pun juga perdebatan ini membuat hubungan kedua negara jadi tidak harmonis.

Sementara itu, Incirlik Air Base (pangkalan udara) yang terletak di wilayah selatan Turki sempat  diblokir otoritas Turki gara-gara timbul kecurigaan, meskipun normalisasi sudah terjadi pada 17 Juli, yang memungkinkan AS kembali melakukan serangan udara ke wilayah Islamic State/ IS.

Juru bicara Pentagon, Peter Cook menegaskan bahwa otoritas Turki sempat memotong aliran listrik dan membuat operasi militer di pangkalan udara tersebut tertangguh. Namun, karena pengoperasian fasilitas milik AS dalam pangkalan tersebut tidak mengandalkan daya listrik yang disuplai dari luar, tetapi dari generator sendiri, sehingga operasi pada dasarnya tidak terpengaruh.

Menlu Turki Mevlut Cavusoglu menyebutkan, karena ada dugaan bahwa beberapa tentara yang berada di pangkalan udara itu terlibat dalam kudeta, maka pangkalan udara terpaksa ditutup untuk sementara sampai selesainya penyidikan.

Incirlik adalah pangkalan udara yang digunakan bersama oleh AS, Inggris, Turki dan Arab Saudi untuk melancarkan serangan udara ke IS. Di sana terdapat sejumlah pesawat tempur dan mempekerjakan tak kurang dari 2.000 personil AU, meskipun sebagian besar dari mereka berasal dari AS. Selain itu, Jerman juga menempatkan lebih dari 200 orang personilnya di sana. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular