Oleh: DR. Frank Tian, Xie

Beberapa tahun lalu ketika mengajar di Drexel University, seorang rekan sejawat berdarah India hendak mengundurkan diri. Dari belasan dosen di fakultas kami, empat di antaranya adalah orang India, satu orang Korea Selatan, ditambah saya sendiri etnis Tionghoa. Suatu hari dosen India itu berkata ia hendak kembali ke India karena ada suatu peluang baik, ditambah lagi kekhawatiranya akan pendidikan anaknya, lingkungan sekolah di Amerika Serikat penuh dengan kekerasan dan narkoba, ia sangat tidak suka.

Setelah dua tahun, rekan saya itu ingin kembali ke AS. Pihak fakultas juga sempat menggelar rapat membahas apakah akan menerimanya lagi atau tidak, keputusannya adalah saat pergi ia pergi secara baik-baik dan segalanya dibicarakan dengan baik, tanpa melupakan kesan baik itu, kami seharusnya menerimanya kembali. Begitulah, ia kembali lagi dengan posisi semula, dengan kata lain jika ia mengajukan masa jabatan seumur hidup, dua tahunnya di India tidak perlu dihitung, tapi peraturan di AS tidak bisa mentolerirnya.

Lalu saya bertanya padanya, bagaimana di India, ia mengatakan sebenarnya sangat menyukainya, hanya saja pendapatannya tidak sebesar di Amerika. Tetapi fenomena sosial masyarakat di AS masih tetap menjadi masalah baginya. Lama setelah tinggal di AS penulis baru menyadari, cara pandang orang etnis Tionghoa terhadap India, dengan cara pandang dunia normal terhadap orang India, sebenarnya sangat berbeda.

Menurut seseorang dari “Lembaga Pemikir” Beijing, India “sangat menyerap pengalaman dari kebangkitan RRT.” Tapi mencermati analisa tersebut, selain topik hangat “kebangkitan India” ini di kalangan akademisi, terutama soal PDB India yang membuat RRT merasa iri hati, selebihnya adalah pandangan penuh sinisme tokoh tersebut terhadap India.

Sebagai anggota “lembaga pemikir,” ini adalah wujud tidak adanya tanggung jawab terhadap para pemimpin Beijing, adalah suatu salah kaprah, yang mengakibatkan pendustaan dan salah paham bagi masyarakat Tiongkok. “Lembaga Pemikir” yang dipekerjakan negara ini melakukan riset yang penuh prasangka dan salah tafsir terhadap dunia serta mengakibatkan salah paham bagi masyarakat luas, yang sebenarnya sangat riskan bagi masyarakat.

Bagi media massa Barat judul headlines seperti “India telah melampaui RRT dan telah menjadi lokomotif pertumbuhan dunia” serta “India adalah pelita bagi perekonomian dunia yang sedang anjlok” dan sejenis telah menimbulkan reaksi penasehat petinggi Beijing yang paling jahat dalam diri manusia, yakni iri hati. Ia mengkhawatirkan “pandangan yang keliru” itu akan menyebar di Tiongkok, akan menimbulkan “dampak buruk terhadap keyakinan diri rakyat Tiongkok.

”Ini betul-betul adalah suatu kebodohan. Saat pertumbuhan ekonomi RRT sedang tinggi, negara lain tidak ada yang iri hati, melainkan beramai-ramai bergabung di dalamnya. Sikap berbagi ini juga dimanfaatkan oleh Beijing. Tidak ada bunga yang mekar selamanya, ekonomi India melampaui RRT bukan sesuatu yang mengejutkan, pengusaha RRT bisa saja pergi ke India untuk investasi, pergi mendapatkan bagiannya di India. Sikap iri hati diciptakan oleh penasihat tinggi RRT, yang juga sifat terburuk manusia, membuat mereka pergi ke jalan-jalan di Mumbay untuk melakukan riset, lalu membawa pulang hal-hal yang ditemukannya di lingkungan kumuh di Mumbay kembali ke RRT ibarat “harta karun” untuk dipertontonkan kepada rakyat di RRT.

Memang benar, tidak jauh dari bandara baru di Mumbay, di kedua sisi jalan tol yang tidak rata terlihat perumahan yang kumuh. Tapi orang India tidak menutupi sisi gelapnya. Sedangkan di RRT, selain hanya menampilkan sisi pembangunan yang gemerlap, beranikah PKT menunjukkan keburukan negerinya seperti India, menampilkan sisi yang paling miskin kepada dunia? Karena kebohongan dan kamuflase oleh Beijing ini, apakah berarti bisa beranggapan masyarakat dunia tidak akan tahu menahu akan kesenjangan sosial dan kemiskinan serta kekumuhan di RRT?

Ungkapan rakyat India yang diperoleh para penasihat tinggi PKT yang membawa subjektifitas itu meskipun bertujuan untuk merusak citra India, tapi justru telah merefleksikan kebebasan berpendapat dan keadilan di India. Orang India mengatakan, “Lahan sempit ini telah kami duduki selama 2 tahun, dan sekarang sudah menjadi hak milik kami. Pemerintah tidak berani mengggusur kami, pilihannya hanya dua, membayar ganti rugi senilai harga tanah di Mumbay kepada kami, atau kami akan mengepung mereka. Para pejabat juga membutuhkan suara kami saat pemilu, mereka akan memberi kami sejumlah uang.”

Apakah rakyat RRT paham dengan semua ini? Ini berarti di atas tanah yang bebas itu, orang-orang yang mempunyai hak untuk memiliki harta benda pribadi, bahkan orang-orang dari kalangan paling rendah sekali pun, berani untuk mengemukakan pendapatnya! Warga RRT, bahkan konglomerat sekali pun, siapa yang berani berkata seperti itu pada PKT?

Seorang rakyat India lainnya berkata, “Orang-orang dari kasta tinggi melakukan urusan mereka sendiri, kami melakukan urusan kami sendiri.” Sungguh fantastis! Ada pepatah kuno yang sejenis di Tiongkok mengatakan, “Bekerja saat matahari terbit, beristirahat saat matahari terbenam. Menggali sumur untuk minum, membajak sawah untuk makan. Tidak ada kaitan kuasa raja dengan diriku!”

Kata-kata ini menggembirakan sekaligus menyedihkan. Yang membuat gembira adalah, pepatah kuno Tiongkok ini berlaku bagi rakyat India. Yang menyedihkan adalah, masyarakat Tiongkok sekarang ini bahkan tidak pernah bisa mengenyam kebebasan seperti 5000 tahun silam yang dulu pernah ada!

Selain menyerang soal hak kepemilikan warga India, para penasihat Beijing itu juga menyerang politik demokrasi India, dengan mengatakan sistim hak pribadi dan demokrasi telah mengakibatkan terjadinya kriminalitas, PSK, narkoba, pencemaran, dan korupsi. Sungguh tidak tahu diri, korupsi dan pencemaran di RRT serta skandal seks para pejabat PKT, sudah tak terhitung banyaknya yang terungkap dan diketahui masyarakat luas.

Harus diakui, India masih merupakan negara berkembang, masih merupakan negara miskin. Jika bertanya pada masyarakat India, apakah mereka rela kebebasannya dirampas, lingkungan dicemari, kebebasan beragama dan berpendapat juga dirampas,  dan sebagai gantinya perekonomian membaik? Orang India pasti tidak rela. Jadi, para pakar di “Lembaga Pemikir” PKT yang bermaksud memposisikan konsepnya sendiri, konsep diktator dan otoritarian komunis yang sesat di dalam masyarakat India atau di masyarakat yang bebas, adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

Seperti surat kabar “Financial Times” Inggris memberitakan, infrastruktur India terbelakang, pasokan listrik terbatas, pelabuhan macet, kapasitas KA tidak memadai, kondisi jalan sangat buruk. Tapi apakah tiga dekade yang lalu RRT tidak seperti itu? RRT bisa berubah, mengapa India tidak bisa berubah?

Hal yang paling krusial adalah, perubahan di RRT telah mengorbankan kebebasan rakyat Tiongkok sebagai tumbalnya, sehingga meskipun rakyat Tiongkok punya banyak uang, tapi tidak bisa memenangkan kehormatannya di mata dunia. Dompet orang India mungkin kelak baru akan penuh, tapi mereka tidak kehilangan kebebasan, keterbukaan, dan demokrasi, dan mereka mampu memenangkan kehormatan di mata dunia. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular