Oleh: Yang Su

Merujuk pada serangkaian serangan kekerasan dan teroris yang terjadi baru-baru ini di Eropa, Paus Francis memperingatkan bahwa ” dunia sedang berperang,” tapi bukan perang agama.

Paus Francis sebelum keberangkatan mengunjungi Polandia, merujuk pada  pembunuhan terhadap seorang Pastor Katolik di Prancis baru-baru ini dan peristiwa terbaru dari serangan teroris di Eropa, ketika menanggapi pertanyaan media, ia mengatakan, “Kami tidak perlu takut untuk mengatakan yang sebenarnya, dunia sedang berperang karena ia telah kehilangan perdamaian.”

“Saya mengatakan perang bukanlah perang agama, namun adalah perang bersaing demi kepentingan, uang, sumber daya, perang wilayah,” katanya.

Menurutnya semua agama berharap untuk perdamaian. Dia pun mengutuk segala bentuk kebencian. Serangan teroris terus menerus terjadi, bahkan pastor gereja juga menjadi target serangan. Selasa (26/7/2016) di Rouen ibukota wilayah Normandy Prancis utara, dua orang pria bersenjatakan pisau masuk ke gereja Saint-Etienne-du-Rouvray. Keduan orang itu secara brutal membunuh pastor Jacques Hamel yang berusia 84 tahun. Selain itu juga menculik lima sandera. Dua pembunuh bersenjata pisau kemudian tewas ditembak polisi.

Setelah kejadian itu organisasi teroris “ISIS” segera mengaku bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Mereka mengatakan pembunuh adalah dua anggota ISIS yang setia kepada pemimpinnya.

Sehari sebelum peristiwa tersebut, yakni pada Minggu (24/7/2016), seorang warga negara Suriah berusia 27 tahun, meledakkan dirinya di dekat pintu masuk di bar Ansbach Jerman selatan. 15 orang luka-luka, pelaku tewas seketika.

“Fenomena Akhir Zaman” terus menerus terjadi?

Sementara itu di kota Nice Prancis selatan, terjadi peristiwa pembunuhan yang menyebabkan 84 meninggal akibat dari  serangan truk di 14 Juli, di Jerman hanya dalam 7 hari terjadi peristiwa 4 kali serangan kekerasan yang mengakibatkan luka parah dan meninggal.

Selain rangkaian serangan kekerasan terjadi di Eropa, sejumlah peristiwa besar dan fenomena yang terjadi secara global, juga menarik perhatian orang-orang, “Mengapa dunia ini telah kehilangan tatanan,” itu seakan-akan seperti kekacauan sebelum kiamat?

Pada Selasa (19/7/2016) Donald Trump secara resmi dinominasikan sebagai calon presiden untuk kandidat Partai Republik. Meskipun beberapa orang Amerika tidak setuju dengan beberapa pidato “keterlaluan” Trump, tapi jajak pendapat terbaru menunjukkan, Donald Trump telah masuk nominasi 48%, lebih unggul dari 45% Hillary.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, setelah terjadi usaha kudeta militer pada 15 Juli 2016 lalu, melakukan pengetatan dalam pengendalian otoriter negara, memerintahkan tindakan keras, target pembersih secara besar-besaran dari berbagai instansi pemerintah, tidak ada yang terhindar.

Kemenangan Filipina atas kasus di Laut Tiongkok Selatan yang ditetapkan oleh Pengadilan Arbitrase Internasional di Den Haag pada 12 Juli 2016, menolak tuntutan Tiongkok atas haknya di Laut Tiongkok Selatan berdasarkan “sembilan garis batas” dan “hak bersejarah.” Pihak Tiongkok menolak mengakui putusan Pengadilan Internasional.

Ada lagi peristiwa mengejutkan dunia tentang referendum Inggris pada 23 Juni 2016 silam yang memutuskan untuk menarik diri dari Uni Eropa. Masalah tersebut berdampak langsung terhadap penyatuan kekuatan negara Barat.

Apa relevansi dari semua peristiwa ini?

Kolumnis “Financial Times” Inggris Philip Stephens dalam sebuah artikel baru-baru ini mengatakan, “Rusaknya Tatanan Global.” Pada taraf permukaan, kelihatan peristiwa-peristiwa itu tidak berhubungan. Namun bila melakukan pengamatan mendalam, ditemukan beberapa pola yang membuat orang tidak tenang, seperti naiknya nasionalisme, identitas politik, penghinaan terhadap institusi dan aturan yang berbasis pada sistem internasional rusak.

Pemerintah berbagai negara telah kehilangan kontrol, kehilangan kepercayaan dari warga. Militansi politik dalam negeri telah menyebar ke panggung internasional.

Dikatakan bahwa meskipun dunia ini bukan dunia Hobbes, tetapi arah masa depan secara jelas dapat terlihat. Ia menganggap situasi (tatanan global) sedang berkembang ke arah yang berbahaya, itu adalah lonceng bahaya bagi kita semua.

“Kata kata yang sering kita dengar adalah tidak aman (peristiwa yang sering terjadi di dunia), tapi kata-kata yang tepat seharus adalah perang,” kata Paus Francis. (lim/rmat)

Share

Video Popular