Di bawah tekanan sanksi berat masyarakat internasional, ‘tembok gerbang’ rezim Kim Jong-un mulai runtuh dari hari ke hari, demi kehidupan yang lebih baik semakin banyak rakyat Korut berusaha untuk  meninggalkan kampung halaman, mengungsi ke Selatan melalui berbagai saluran dan kesempatan yang ada.

Takut akan kejadian pembelotan sejumlah staf dan pramusaji restoran Korut di Tiongkok itu terulang lagi, Kim Jong-un mengeluarkan perintah untuk mengeksekusi mati 6 orang pejabat yang dianggap bertanggung jawab atas insiden itu.

Agar eksekusi benar-benar mencapai sasaran peringatan bagi yang lain, pejabat suruhan Kim juga mendatangkan sekitar 200 orang untuk menyaksikan proses eksekusi keenam pejabat tersebut.

Yonhap mengutip ungkapan sumber yang akrab dengan situasi di Korut memberitakan, 6 orang pejabat yang bertanggung jawab atas larinya sejumlah staf dan pramusaji restoran Korut di Tiongkok pada April yang lalu, telah menjalani eksekusi mati di halaman Akademi Militer Kang Kon, Pyongyang pada 4 Mei atas perintah langsung dari Ketua Partai Buruh Korut Kim Jong-un.

Sumber tersebut mengatakan, untuk mencapai efektivitas peringatan, Kim Jong-un juga meminta lebih dari 80 orang pejabat yang bertugas di Departemen Keamanan Nasional, Biro Intelijen, Departemen Urusan Antar Propinsi, Dinas Pertahanan Rakyat Propinsi dan lebih dari 100 orang pejabat dan keluarganya yang ditempatkan di luar negeri untuk menyaksikan proses eksekusi.

Sementara itu, rezim Pyongyang juga menjebloskan keluarga pembelot ke kamp kerjapaksa yang terletak di Myohyangsan (gunung di Korut), dipaksa untuk mengikuti pendidikan ideologi.

Awal April tahun ini, 13 orang staf dan pramusaji restoran Korut di kota Ningbo, Tiongkok melakukan pembelotan bersama. Tak lama kemudian, 3 orang staf restoran Korut di propinsi Shaanxi juga melakukan hal yang sama.

Akhir Juli ini, seorang siswa kontingen Korut yang ikut Olimpiade Matematika Internasional, masuk ke dalam gedung konsulat Korea Selatan di Hongkong untuk meminta suaka politik.

Para pembelot eks restoran itu semua berasal dari keluarga yang secara politik cukup terjamin. Sedangkan siswa yang minta suaka politik konsulat Korsel di Hongkong itu, konon memiliki latar belakang keluarga militer Korea Utara. Seorang staf restoran yang sudah tiba di Korea Selatan mengungkapkan bahwa dengan intensitasnya sanksi yang diberikan masyarakat internasional, harapan rezim Kim Jong-un untuk bertahan semakin menipis.

Radio Free Asia melaporkan bahwa tingkat pembelotan warga Korut menurun cukup tajam setelah Kim Jong-un di masa awalnya menjabat kepala negara karena ia menerapkan sanksi hukuman yang berat bagi mereka yang gagal dalam usaha pembelotan.

Namun angka itu naik kembali setelah memasuki 2016. Sampai semester pertama tahun ini, kenaikan sudah mencapai 22 % dibanding periode sama tahun lalu. Rezim Seoul percaya bahwa memasuki tahun kelima Kim Jong-un berkuasa, semakin banyak masalah internal Korut bermunculan. Kenaikan jumlah pembelot menggambarkan rezim Kim Jong-un semakin terancam. (sinatra/rmat)

Share

Video Popular