Oleh: Fang Xiao

Baru-baru ini, situs berita yang pro Xi Jinping dan berbasis militer yakni “Global Voice” terus menerus memuat artikel yang memperingatkan pemerintahan Xi Jinping agar “waspada terhadap kudeta.” Hal ini pun menarik perhatian berbagai pihak. Selain itu juga beredar rumor bahwa Xi Jinping sempat mengalami beberapa kali percobaan pembunuhan. Dalam pidato internalnya Xi Jinping pernah menyatakan sikapnya, “Keselamatan diri tidak penting”.

Baru-baru ini situs berita “Global Voice memuat artikel panjang yang menarik perhatian berjudul “Sumpah Bela: Waspada Kudeta Adalah Pekerjaan Politik yang Harus Diperhatikan Mulai Sekarang.”

Meneliti situs berita tersebut didapatkan bahwa kebanyakan berita menyangkut setiap gerak gerik Xi Jinping dengan konten utamanya adalah mendukung Xi.

Kemudian “Global Voice” juga menerbitkan artikel signature, yang membahas tentang grup birokrat Partai Komunis Tiongkok/PKT yang menempuh berbagai cara gelap untuk terus menekan kekuatan yang benar-benar melindungi kepentingan negara dan bangsa Tiongkok, berupaya untuk merebut kekuasaan tertinggi, serta menyinggung hikmah tiga kali percobaan kudeta Rusia yang gagal.

Terus munculnya artikel tersebut membuat orang teringat akan beberapa kali percobaan pembunuhan yang dialami oleh Xi Jinping. Tahun lalu media Hongkong pernah mengungkapkan, seiring dengan makin meningkatnya intensitas serangan Xi Jinping dan Wang Qishan dalam mengepung para “macan besar”, beredar informasi bahwa para pejabat yang terlibat korupsi berupaya membunuh Xi Jinping, sehingga tindakan pengamanan terhadap Xi Jinping terpaksa harus ditingkatkan. Menurut berita, untuk melindungi diri, para antek Jiang Zemin pernah beberapa kali berniat mencelakai Xi Jinping.

Pada 12 Agustus 2015, terjadi kasus ledakan luar biasa besar di Tianjin. Kemudian beredar kabar bahwa kejadian ini adalah aksi teror yang dilakukan oleh kubu Jiang untuk sengaja menghilangkan jejak, setelah gagal meledakkan Xi Jinping.

Pada  5 Desember 2013, media massa Mandarin di luar negeri mengutip informasi dari Beijing yang mengatakan, sebelum dan sesudah Rapat Beidaihe, Zhou Yongkang (Mantan kepala Komite Politik dan Hukum yang kala itu menguasai kepolisian bersenjata dan keamanan dalam negeri) berusaha membunuh Xi Jinping setidaknya dua kali. Pertama adalah bom waktu di ruang rapat, dan yang kedua adalah percobaan suntikan beracun pada saat Xi Jinping melakukan cek medis di Rumah Sakit 301.

Narasumber mengungkapkan, upaya pembunuhan itu direncanakan oleh asisten sekaligus pengawal Zhou Yongkang yang bernama Tan Hong, yang telah disidik pada 2 Juli 2014.

Terhadap rumor di atas, pihak PKT tidak mungkin “membenarkan” juga tidak bakal “menyanggah rumor”, maka masyarakat pun hanya bisa “membuktikannya” lewat pernyataan sikap Xi Jinping yang menyatakan “tidak peduli atas keselamatan dirinya”.

Pada 4 Agustus 2014, tabloid komisi kota Changbaishan yakni “Changbaishan Daily” menerbitkan pidato Xi Jinping pada Rapat Dewan Tetap Politbiro pada 26 Juni 2014 yang belum pernah dipublikasikan.

Berita itu menyebutkan sikap Xi Jinping terhadap situasi pemberantasan korupsi sekarang ini luar biasa keras, Xi menyatakan, “Perang dengan korupsi, keselamatan dan reputasi diri tidak jadi masalah, perang antara korupsi dan anti-korupsi sudah sangat sengit.”

Menanggapi ancaman kematian dari kubu Jiang Zemin, sikap pemerintahan Xi Jinping juga terus melawan dengan sengit. Empat hari setelah pidato Xi Jinping pada 26 Juni 2014 tersebut, pihak pemerintah pun mengumumkan berita mengenai ditangkapnya orang kepercayaan Jiang Zemin di militer yakni mantan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Xu Caihou, yang kemudian diproses oleh Kejaksaan Militer.

Menjelang Rapat Beidaihe tahun ini, pemerintahan Xi Jinping semakin fokus mengguncang kalangan para pejabat dan menyatakan akan “duel mati-matian.” Pada Agustus lalu, Xi Jinping menaikkan pangkat 78 orang jendral, dan melakukan perombakan terhadap hampir seratus jabatan di Kepolisian Bersenjata.

Pada saat yang sama berita tentang tidak hadirnya Jiang Zemin pada Rapat Beidaihe juga beredar keluar, serta juga telah beredar kabar bahwa dua orang jendral kepercayaan Jiang di militer yakni mantan Kepala Divisi Politik Militer yakni Li Jinai dan mantan Kepala Divisi Logistik Militer Liao Xilong akan segera disidik.

Komentator politik bernama Fang Linda dalam artikelnya menyatakan, artikel yang mengingatkan Xi Jinping agar waspada terhadap kudeta terus bermunculan dan beredar luas, karena isi dari artikel tersebut sangat sesuai dengan perkembangan situasi politik saat ini. Apalagi aksi kudeta seperti ini masih terus berlanjut. (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular