Oleh: Shi Xuanzhi

Saat diwawancara di Pesta Olimpiade Rio, atlet renang RRT bernama Fu Yuanhui (20) dengan lugas dan sangat ekspresif, dengan kata-kata emas “tenaga air bah” secepat kilat membuatnya tersohor di dalam maupun luar negeri, serta berhasil menaklukkan hati masyarakat luas.

Opini mengatakan, dia menggunakan tubuhnya untuk menabrak “sistem berskala nasional” Partai Komunis Tiongkok/PKT yang mendoktrin “kemuliaan medali emas”. Fu memang bukan orang pertama, sebelumnya ada atlet seperti Xiaoshan Zhili, Lang Ping, dan Li Na, tapi di zaman Fu Yuanhui ini, telah dilakukan suatu experimen teramat besar.

Ekspresi Lugas Fu Yuanhui Tersohor di Internet

Pada Olimpiade Rio, atlet RRT Fu Yuanhui meraih prestasi 58,76 detik pada ajang final renang gaya punggung putri 100 meter dan memecahkan rekor Asia. Ketika diwawancara Fu awalnya berseru, “Wah, saya terlalu cepat, sampai memecahkan rekor Asia!”

Ketika reporter bertanya padanya, di perlombaan kemarin sudah mengerahkan semua “tenaga air bah” yang ada, lalu hari ini menggunakan tenaga apa, dengan spontan Fu Yuanhui menjawab, “Kemarin tenaga air bah sudah habis terkuras, hari ini tiada lagi tenaga tersisa.”

Ketika diberitahu dirinya hanya terpaut 0.01 detik dibandingkan peraih medali perak, dia menjawab dengan lugu, “Mungkin karena tangan saya terlalu pendek!”

Terakhir, ketika dia diberitahu hanya meraih medali perunggu, dia terkejut tanpa bisa berkata-kata, setelah tersadar sambil tersenyum dia berkata, “Saya pikir itu masih cukup baik.”

Dengan tangannya dia mengusap mata, sepertinya saking terharunya sampai meneteskan air mata. Tidak sedikit orang yang menyaksikan cuplikan ini tertawa dalam hati, media massa juga melukiskannya sebagai “Inilah ekspresi olimpiade yang seharusnya.”

Kepribadian yang polos, mimik wajah yang begitu kaya ekspresi dan rangkaian kata yang mengena semacam itu, membuat Fu Yuanhui langsung tersohor di internet, ada netizen yang menjulukinya “si ekspresif yang mahir berenang.” Banyak fans yang memberinya julukan “gadis air bah.”

Lalu apakah dia pernah belajar mengekspresikan diri di hadapan kamera?

“Tentu saja saya tidak pernah belajar. Seandainya tahu akan jadi begini kemarin saya tidak akan berkata seperti itu! Saya bukan sengaja, saya tidak pernah ingin terkenal di internet, saya merasa seperti dulu lebih baik, bisa menjadi diri sendiri,” jawab Fu Yuanhui.

Menantang Ungkapan “Berterima Kasih pada Partai dan Negara” yang Klise

Opini di on.cc mengatakan, seorang gadis belia berusia 20 tahun, telah menaklukkan berbagai generasi dan kalangan di Tiongkok, sampai sekarang setidaknya belum ada seorang pun yang tampil membenci Fu Yuanhui. Seluruh rakyat memiliki perasaan sama, hal ini nyaris tak pernah terjadi sebelumnya. Dan ini adalah karena Fu Yuanhui telah membuat rakyat Tiongkok berkesempatan untuk meluapkan isi hatinya.

Rakyat Tiongkok telah dinodai dengan kebohongan dan klise selama 70 tahun, telah melalui kejutan, ketakutan, kepatuhan, keikut-sertaan, kejemuan, dan kebencian, sekarang sudah tidak bisa bersabar lagi, Fu Yuanhui begitu lugas dan vokal, membuat mereka menemukan tempat untuk melampiaskan kemarahan.

Artikel berpendapat, kecintaan rakyat Tiongkok pada Fu Yuanhui dan sikapnya yang “tidak lumrah” adalah cemoohan terhadap doktrin “berterima kasih pada partai dan Negara.”

Artikel menyebutkan, penanganan yang keras dari Biro Olahraga PKT terhadap para atlet dalam kehidupan sehari-hari, mencakup jawaban yang harus mereka ucapkan jika ditanya oleh wartawan, bahkan telah ditetapkan dan dibatasi dengan ketat dan sudah merupakan “jawaban standar” yang sejak awal sudah ditentukan, kata-kata bersifat doktriner seperti “berterima kasih pada partai dan negara” mutlak harus ada. Tapi Fu Yuanhui telah membuang semua doktrinasi itu.

Keluar dari “Sistem Berskala Nasional” Gulingkan “Kemuliaan Medali Emas”

Opini berpendapat, yang lebih penting lagi adalah, perkataan Fu Yuanhui telah melompat keluar dari kerangka “system berskala nasional” PKT, merupakan pandangan sinis terhadap “kemuliaan medali emas adalah segalanya.”

Surat kabar Huffington Post Amerika Serikat bahkan secara langsung menyebut Fu Yuanhui sebagai “atlet paling cute dalam Olimpiade kali ini”, dan mengatakan perilakunya yang lucu dan lugu polos telah memenangkan perhatian seluruh dunia.

Dalam hal ini, komentator politik bernama Chen Pokong dalam acara “Hot Interactive” di stasiun NTDTV menyatakan, Fu Yuanhui menggunakan cara lain untuk mengungkapkan ketidaksepahamannya terhadap sistem yang ada ini, dan merasa bahwa seorang atlet harus memiliki kepribadian, yang terutama adalah eksis sebagai seorang manusia.

Sebuah artikel opini surat kabar Epoch Times berjudul “Satu Kalimat Fu Yuanhui Ungkap Alasan Kesohorannya di Olimpiade”, munculnya sikap lugu Fu Yuanhui secara alami dibandingkan dengan kepuasan diri terhadap hasil perlombaan dan kebesaran jiwa terhadap meraih medali atau tidak, sama sekali tidak terlihat hati yang rakus akan kesohoran. Hal ini sangat berharga di ajang persaingan Olimpiade yang sengit ini. Penampilan dirinya tidak ada jejak budaya PKT, membuktikan dirinya “bukan orang di dalam sistem tersebut.” Ini adalah “kejutan yang menyenangkan bagi dunia Barat, efek heboh yang ditimbulkan pun telah mengguncang berbagai tingkatan di RRT.”

“Fu Yuanhui dengan kelugasannya, kejujurannya, dan rasa humornya telah menggulingkan ‘kemuliaan medali emas’, berbarengan dengan itu dia juga memicu masyarakat untuk menggulingkan konsep itu, jutaan warga yang memujanya ikut menggulingkan konsep ‘kemuliaan medali emas’ itu,” tandas Chen Pokong.

Para fans Fu Yuanhui beramai-ramai memuji sikap jujurnya, “Kami mencintai sikapmu yang ceria, optimis dan teguh.”

Seorang fansnya menulis di blog, “Fu adalah atlet sejati.”

Surat kabar “Washington Post” AS memberitakan, Tiongkok telah mempunyai seorang bintang olahraga baru, masyarakat tidak peduli dia tidak meraih medali emas. Di dalam sebuah negara yang selalu terbuai dengan medali emas, munculnya reputasi Fu Yuanhui seolah mengisyaratkan, Tiongkok mulai mentransformasikan konsep masyarakat terhadap makna olahraga.

Surat kabar corong PKT yakni “The People’s Daily” pada  9 Agustus lalu berkomentar, “gadis air bah” dan para netizen yang menyukainya telah memberi pelajaran bagi kita semua: olahraga adalah soal berjuang dan menikmatinya, mutlak bukan soal medali emas melulu, “Dukungan kuat dari para netizen menunjukkan, sikap masyarakat terhadap kompetisi olahraga dan Olimpiade telah meningkat ke level yang lebih tinggi.” (sud/whs/rmat)

Share

Video Popular