Para ilmuwan Australia setelah melalui penelitian menemukan, dewasa ini bumi seharusnya sedang memasuki tahapan pergerakan periodik patahan, yang semestinya menimbulkan gempa bumi ber-skala 6 ke atas. Tetapi suatu “penyebab tidak jelas” telah menunda terjadinya gempa kuat yang dapat mengakibatkan bencana besar tersebut.

Laporan dari jaringan berita Australia bahwa ahli geografi DR. Behzad Fatahi dari University of Technology Sydney (UTS) yang berdasarkan data sejarah dari tingkat kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa, menyatakan bahwa siapapun tidak mungkin menghindari bencana.

Di berbagai tempat dunia seperti Timur Tengah, Tiongkok, Jepang dan Amerika Serikat, ada banyak gempa di atas 6 skala Richter seharusnya telah terjadi. Namun, gempa-gempa itu telah tertunda oleh suatu penyebab yang tidak jelas.

Fatahi menunjukkan, para ahli geografi dan ahli seismik sudah sejak lama menyelidiki dan mendata patahan-patahan itu yang senantiasa bersiap-siap membuat masalah, tetapi selalu saja belum meletus gempa berskala besar atau gempa super kuat. Penyebabnya dewasa ini masih belum diketahui.

Begitu patahan-patahan itu melepaskan energi dan menimbulkan gempa, akibatnya sungguh sulit dibayangkan.

“Lapisan patahan sudah lama sekali tidak membebaskan energi (terjadi gempa). Setidaknya terdapat 5 – 10 buah gempa kuat yang seharusnya terjadi malah tertunda. Tetapi kita tidak mengetahui gempa-gempa itu bakal terjadi kapan,” kata DR. Fatahi.

Di pagi buta 20 Agustus lalu, di wilayah utara negeri Italia terjadi gempa yang paling parah selama 3 tahun terahir ini, setidaknya 50 orang terluka dan 290 orang tewas. Banyak bangunan bersejarah mengalami kerusakan berat. (Omar Havana/Getty Images)
Di pagi buta 20 Agustus lalu, di wilayah utara negeri Italia terjadi gempa yang paling parah selama 3 tahun terahir ini, setidaknya 50 orang terluka dan 290 orang tewas. Banyak bangunan bersejarah mengalami kerusakan berat. (Omar Havana/Getty Images)

Gempa, bisa datang sewaktu-waktu, dan gempa itu pasti akan terjadi.

”Pertanyaannya sekarang adalah, bukan gempa dapat terjadi, melainkan bilamana terjadi,” kata DR. Fatahi.

Fatahi mencontohkan gempa besar 7,8 skala richter pada April tahun lalu di Nepal yang telah menyebabkan sedikitnya 8.000 orang tewas.

Sedangkan pada Maret tahun ini, wakil dosen Julian Lozos, ahli ilmu fisika bumi dari California State University Amerika Serikat menunjukkan penelitiannya bahwa negara bagian California ada kemungkinan terjadi gempa pada wilayah sepanjang patahan San Jacinto.

Diagram bagan yang menunjukkan arah gerak geografis patahan San Andreas (garis merah dengan panah merah) dan patahan San Jacinto (garis biru dengan panah biru), beserta kota-kota besar disekelilingnya. (screenshot dari peta google)
Diagram bagan yang menunjukkan arah gerak geografis patahan San Andreas (garis merah dengan panah merah) dan patahan San Jacinto (garis biru dengan panah biru), beserta kota-kota besar disekelilingnya. (screenshot dari peta google)

Begitu terjadi, kota-kota dengan penduduk padat seperti Los Angeles bakal tidak dapat luput dari bencana, kemungkinan beberapa juta orang bisa jadi akan kehilangan jiwanya atau terpaksa mengungsi dan tingkat bencana itu sepenuhnya tergantung patahan San Andreas.

Namun bersamaan itu Lozos berpendapat, dewasa ini belum ada cara untuk memprediksi bencana semacam ini bilamana dapat terjadi.

Fatahi menjelaskan, periode aktivitas patahan yang dapat menimbulkan gempa adalah 100 tahun atau 500 tahun.

“Sekarang inilah kita sedang berada dalam rentang waktu terjadinya gempa, namun entah penyebab apa yang telah membuat gempa itu tidak terjadi,” pungkanya. (whs/rmat)

 

Share

Video Popular