Tidak sedikit orang tua yang kerap menanyakan prestasi studi anaknya di atas meja makan (saat makan bersama), menegur kesalahannya,  memarahi dengan seribu alasan ini adalah bukan cara mendidik anak, akibatnya justru akan merusak nafsu makan dan suasana harmonis semua anggota keluarga. Ini bukan hanya tidak akan mencapai efek pendidikan, tetapi juga menimbulkan tekanan psikologis yang sangat besar kepada anak, selain itu juga tidak kondusif bagi pertumbuhan fisiknya.

Hindari menegur anak-anak di meja makan

1. Perasaan tertekan, kehilangan nafsu makan

Banyak orang tua biasanya disibukkan dengan pekerjaan sehari-hari, sehingga tidak punya banyak waktu untuk menemani atau berkumpul dengan anak-anak, hanya bisa berkumpul bersama mereka pada saat makan. Maksud orang tua itu sebenarnya baik, mendidik anak -anak di sela-sela waktu luangnya, namun, materi pembicaraan selalu tak jauh dari pertanyaan “Dapat nilai berapa hari ini?”, “Anak tetangga sebelah kenapa bisa begitu menyenangkan, tidak merepotkan orang tuanya, sementara kamu selalu bikin pusing orang tua,” dan obrolan bernada teguran lainnya. Perlu diketahui, dalam kondisi dan serentetan pertanyaan seperti ini, mana mungkin anak-anak punya nafsu makan lagi ?

Lagi pula, jika terus seperti ini, lama kelamaan, si anak akan menghubungkan antara (saat) makan dengan pemberian pelajaran (teguran) dari orang tua, sehingga menjadikannya tidak berselera untuk makan lagi, dan bahkan akan memicu terjadinya anoreksia (membiarkan dirinya kelaparan meskipun merasa lapar dan berselera makan) jika serius.

2. Gangguan pencernaan

Ketika suasana hati anak menjadi buruk karena teguran orang tua di atas meja makan, biasanya si anak hanya makan sekadarnya beberapa suap lalu buru-buru pergi untuk menghindari perasaannya yang tertekan di meja makan. Dalam suasana seperti ini, si anak tidak bisa seperti biasa mengunyah makanannya sampai halus, bahkan sedikit pun tidak menyentuh (minum) sup-nya/kuah sayuran, dan ini dipastikan akan berdampak pada pencernaan normalnya.

Terkadang teguran orang tua yang terlalu keras, bisa membuat anak itu menangis seketika. Makan sambil menangis terisak di atas meja, ini mengandung risiko tertahannya tulang halus di kerongkongan.

Apa yang seharusnya diajarkan ketika makan bersama di atas meja

1. Rasa tanggungjawab

Menjelang makan bersama di atas meja, coba suruh anak-anak membagikan sendok, garpu atau semacamnya, kemudian suruh bantu melap meja dan merapikannya seusai makan atau pekerjaan rumah tangga lain sebatas kemampuan yang bisa dilakukannya. Dengan melibatkannya dalam pekerjaan rumah tangga yang ringan ini, perlahan-lahan tanamkan rasa tanggungjawabnya atas keluarga, agar ia memahami, bahwa anggota dalam keluarga juga harus belajar membagi rasa tanggungjawab (pekerjaan rumah tangga), siapapun tidak berhak meminta orang lain untuk melayani dirinya sendiri.

2. Tata krama saat makan

Pendidikan keluarga dan kepribadian seorang anak, kerap bisa diketahui sekilas di atas meja (saat makan). Tata cara atau etika yang baik saat makan sangat membantu dalam pergaulan sosial dan perkembangan anak-anak di masa depan.

Oleh karena itu, orang tua harus memberitahu kepada anak-anak tentang etika dasar sopan santun : secara inisiatif membantu orang tua meletakkan piring, sendok atau alat makan lain di meja; baru duduk setelah orang tua duduk terlebih dahulu ; tidak boleh meletakkan atau memindahkan lauk-pauk yang enak ke depan meja sendiri ; tidak boleh mengaduk-aduk seisi piring saat mengambil lauk-pauk ; tidak boleh meletakkan kembali lauk-pauk yang telah dicicipi da sebagainya.

3. Konsep mengenai waktu

Apa pun yang dilakukan memiliki batas waktunya, jangan biarkan anak-anak makan terus (berlama-lama ) tanpa mengenal batas. Anak-anak yang makannya berlengah-lengah sejak kecil, kelak setelah dewasa akan menjadi terbiasa berlambat-lambat. Karena itu, sebaiknya matikan pesawat TV, ponsel atau semacamnya saat makan, sekeluarga konsentrasi pada makanannya, membicarakan hal-hal yang menyenangkan dan sebagainya, agar suasana makan bersama berlangsung santai diiringi dengan waktu yang ideal.

Waktu terbaik dalam mendidik anak-anak

1. Memuji anak, sebaiknya sebelum makan

Karena suasana hati anak relatif lebih santai dan ceria ketika akan makan, maka coba manfaatkan kesempatan ini, bayangkan sejenak permainan ringan yang menarik. Misalnya, anak-anak hari ini mendapatkan pujian dari gurunya di sekolah karena berhasil menjawab pertanyaan, maka saat makan malam, siapkan beberapa gelas minuman, segenap keluarga bersulang rayakan sejenak dengan minuman anggur (ganti dengan air putih sebagai pengganti anggur) dan jangan lupa berikan pujian atas ketekunan (belajar) anak.

2. Sampaikan dalil yang sederhana ketika melakukan pekerjaan rumah tangga bersama-sama

Dalam mendidik anak teladan (conto langsung) jauh lebih baik daripada ajaran lisan (teori), banyak dalil yang sederhana dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak tidak akan mengerti, jika hanya mengarahkannya kepada ajaran lisan, kita harus mempraktekkannya secara konkret dihadapan anak-anak, dengan demikian ia baru akan memahaminya secara mendalam, dan terukir dalam ingatannya. Contoh misalnya, ketika Anda dan anak anda sedang jalan-jalan bersama anjing kesayangan keluarga, coba manfaatkan kesempatan ini dan katakan kepadanya : “Sayang, coba kamu lihat anjing ini tampak sangat gembira keluar jalan-jalan bersama kita, ia (anjing) pasti sangat bosan dan tersiksa sepanjang hari di rumah (kandang) ! Anjing ini telah menganggap kamu sebagai sahabat terbaiknya, karena itu, kamu harus sering-sering mengajaknya jalan-jalan ya !”

3. Kata-kata yang bersifat kritik, sebaiknya diungkapkan di kamar anak

Dalam hal memberikan hukuman pada anak-anak, ada pepatah bijak yang berbunyi “Tidak menegur atau membentak anak-anak di muka umum”, artinya : Saat mendidik (memberi pelajaran atau teguran) atau menjatuhkan hukuman kepada anak-anak jangan di tempat umum, bagaimanapun juga harus Anda jaga harga dirinya di depan umum. Asal tahu saja, perasaan anak itu sensitif dan rapuh, langsung memarahinya di depan umum akan sangat melukai perasaan dan harga dirinya, yang akan berdampak pada rasa percaya dirinya. Perlu diketahui, seringkali anak-anak tidak mau mengakui kesalahannya itu dikarena merasa malu.

Ketika anak-anak melakukan kesalahan, sebaiknya panggillah ia ke kamarnya, tapi sikap Anda harus tenang, komunikasikan secara bijak dengannya, dan Anda akan temukan ia akan lebih terbuka, kemudian mengutarakan pandangannya kepada Anda, ini dikarenakan berkurangnya beberapa kekhwatiran yang menghimpitnya jika di muka umum.

4. Percakapan yang sifatnya pribadi, sebaiknya diungkapkan sebelum tidur

Anak-anak juga memiliki privasi dan rahasianya, ada beberapa hal yang ragu atau takut untuk diungkapkan olehnya. Misalnya: anak itu memang mengambil pulpen atau karet penghapus teman semejanya, tapi takut untuk mengakuinya ; Anak-anak mengalami beberapa perubahan fisik di masa pubertas, tapi ia sulit atau segan untuk mengemukakan soal yang dihadapinya, menyembunyikan sesuatu atau rahasia yang tak diungkapkan dan selalu dipendam dalam hati itu bukanlah hal yang baik dari sisi kesehatan, karena itu, begitu menyadari ada sesuatu yang disembunyikan anak-anak, selaku orang tua yang bijak harus semaksimal mungkin membantunya mengatasi dan membimbingnya. Menjelang tidur adalah waktu yang paling ideal untuk berkomunikasi dari hati ke hati dengan anak-anak, karena anak-anak yang telah melepaskan pakaiannya dan masuk kendang (siap untuk tidur) itu juga telah melepaskan pertahanan psikologisnya, sehingga lebih mudah untuk mengungkapkan kepada orang tua beberapa hal yang menghimpit hatinya (pikiran).

Jadi, apabila Anda merasakan emosionalnya agak labil belakangan ini, Anda bisa duduk di depan ranjangnya atau saat ia berbaring di atas ranjang lalu berbicara dari hati ke hati dengannya, di sela-sela pembicaraan santai itu coba beri beberapa isyarat kepadanya, dan bantu ia melalui masa-masa sulit.

Harap menjadi perhatian para ayah dan ibu yang bijak, meja makan (saat makan) itu untuk mempersempit jarak dengan anak-anak, adalah waktu yang baik untuk membina suasana keluarga yang hangat dan harmonis, kalau pun berbicara juga sebaiknya cobalah bicarakan hal-hal yang menyenangkan, dengan begitu, buah hati Anda baru bisa tumbuh lebih sehat dan bahagia ! (Secretchina/Jhn/Yant)

Share
Tag: Kategori: KELUARGA

Video Popular